Sukses

Kedutaan Amerika Serikat Tawarkan Bantuan Alat PCR pada Jawa Barat

Liputan6.com, Bandung - Kedutaan Amerika Serikat menawarkan bantuan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat guna mempercepat penanganan pandemi COVID-19. Bantuan yang ditawarkan mulai dari alat uji Polymerase Chain Reaction (PCR/swab) hingga bantuan ahli medis.

Perwakilan United States Embassy Heather Variava sepakat bahwa tes PCR sangat penting dalam membuka peluang kembali berjalannya roda ekonomi di Jabar. Selain itu, Heather juga menawarkan bantuan ahli dari Centers for Disease Control (CDC) dan Badan Pembangunan Amerika Serikat.

“Pengujian PCR sangat penting, dan pertanyaan saya adalah bagaimana kita dapat membantu aAnda meningkatkan jumlah pengujian PCR, karena kami melihat pengujian adalah kunci untuk dapat membuka kembali perekonomian. Di sini saya ingin menawarkan ahli kami dari Kedutaan. Kami memiliki pakar dari CDC dan Badan Pengembangan Internasional AS. Saya berharap pemikiran Anda tentang topik itu dan ingin menawarkan dukungan agar dapat bekerja sama dengan tim Anda,” ujar Heather saat teleconference dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ditulis, Bandung, Selasa, 12 Mei 2020.

Heather juga menyebutkan, Kedutaan AS sudah menjalin kerja sama dengan Indonesia sejak Februari 2020 dan telah menyerahkan bantuan senilai Rp130 miliar guna memerangi pandemi COVID-19. Fokus mereka adalah melakukan deteksi kasus, tracking, dan mencegah penyebaran penyakit, serta merawat yang sakit.

 

2 dari 2 halaman

Respons Positif Gubernur Jabar

Ridwan Kamil merespon positif tawaran bantuan Kedutaan AS tersebut. Menurutnya, Jawa Barat memang membutuhkan banyak alat uji PCR.

Salah satunya untuk membuktikan bahwa lingkungan kerja suatu perusahaan bebas COVID-19, melalui tes masif PCR seluruh karyawan. Sehingga perusahaan tersebut akan diizinkan beroperasi oleh pemerintah.

“Kami butuh supply alat PCR dalam jumlah besar. Bukan saja untuk orang yang terduga COVID-19, tapi juga untuk membuka kembali ekonomi, “ kata Kamil.

Kamil mengaku Pemerintah Jawa Barat terbuka untuk bisnis tapi para investor harus menunjukkan lingkungan kerjanya bebas COVID-19 yang dibuktikan dengan sertifikat. Hal itu dijelaskan kepada beberapa duta besar negara lain melalui komunikasi daring.

Sedangkan untuk soal bantuan ahli kesehatan dari AS, Kamil mengingikan terlebih dahulu adanya studi ilmiah dan prediksi dari universitas-universitas di Amerika Serikat tentang kondisi pandemik di Jawa Barat. Hasil studi luar negeri akan jadi pembanding studi serupa yang dilakukan oleh universitas di Jawa Barat.

“Saya bisa suplai Anda (Heather) dengan data dan melihat apakah prediksi universitas kami kurang lebih sama atau beda, dengan penelitian yang dikakukan jaringan universitas di Amerika,” ujar Kamil.

Selain Kedubes AS, diskusi virtual yang digagas oleh founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal ini juga diikuti oleh 14 kedutaan negara lainnya, antara lain Uni Eropa, Kanada, Polandia, Perancis, Singapura, Jerman, Belanda, Mexico, Swedia, Argentina, Republik Korea, Australia, New Zealand, dan India. (Arie Nugraha)