Sukses

Dilema antara Kebersihan dan Iman, Tenaga Kesehatan Ini Ciptakan Jilbab Steril Sekali Pakai

Liputan6.com, Jakarta Farah Roslan merasa tidak nyaman ketika dirinya diminta keluar dari sebuah pelatihan tenaga kesehatan karena memakai jilbab yang dianggap tidak steril. Di sisi lain, dia juga tidak ingin melepasnya.

"Saya telah menggunakannya sepanjang hari, yang jelas tidak bersih dan ideal," kata tenaga kesehatan asal Malaysia ini seperti dilansir dari New York Post pada Sabtu (21/12/2019).

Dilema pun muncul. Dia sadar bahwa penggunaan jilbab yang sama terus menerus sepanjang hari tidaklah bersih. Di sisi lain wanita yang pernah menempuh pendidikan di Inggris itu juga tidak ingin melepasnya.

Maka dari itu, Farah, yang kala itu masih menjadi mahasiswa kedokteran di University Hospital of Derby and Burton NHS Foundation Trust, kembali ke Malaysia untuk mencari inspirasi.

Dia pun menguji dan mendesain sebuah kain untuk hijab yang tidak mahal, sekali pakai, serta bisa digunakan di rumah sakit.

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Disambut Baik oleh Tempatnya Bekerja

Inovasi ini disambut baik oleh tempatnya bekerja, Royal Derby Hospital. Selain itu, temuannya juga sudah bisa diterapkah bagi para staf beragama Islam di rumah sakit tersebut sejak awal bulan Desember ini.

"Saya sangat senang visi saya telah menjadi kenyataan dan jilbab ini sekarang tersedia untuk semua staf," kata Farah yang saat ini sudah menjadi seorang dokter.

"Kami bangga menjadi pimpinan nasional dalam praktik yang baik dan inklusivitas," tulis pihak rumah sakit dalam pernyataan resmi mereka.

Gill Tiernye, ahli bedah konsultan yang merupakan mentor dari Farah ketika ia masih mehasiswa kedokteran mengungkapkan bahwa dilema semacam ini sesungguhnya sudah ada. Namun, masalah tersebut tak banyak digaungkan hingga muridnya muncul dan memberikan solusinya.

"Itu tidak membutuhkan biaya banyak dan mudah-mudahan pengaruhnya sangat besar," kata Tierney.

Farah berharap agar nantinya rumah sakit di seluruh Inggris bisa mengadopsi jilbab yang telah disetujui dokter ini. Untuk saat ini, penutup kepala tersebut baru tersedia di rumah sakit tempatnya bekerja.

"Saya benar-benar bahagia dan tidak sabar untuk melihat apakah kami bisa mendukung ini secara nasional," ujar Farah.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.