Sukses

Kepala BPOM: Hoaks Menjadi Salah Satu Bentuk Bioterorisme

Liputan6.com, Jakarta Beredarnya berita bohong atau hoaks terkait obat dan makanan seringkali memicu ketakutan dan kecemasan di masyarakat. Hoaks yang beredar berujung memicu munculnya penolakan dari masyarakat dalam mengonsumsi obat atau makanan tertentu.

"Hoaks yang dikaitkan dengan obat dan makanan itu semacam bioterrorism. Karena menyerang pikiran kita, jadi menimbulkan ketakutan lewat informasi terkait penyakit atau makanan," ucap Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Penny K. Lukito, Senin (21/10/2019).

Pemikiran yang keliru dapat menjadi landasan dalam pengambilan keputusan yang salah dalam mengonsumsi obat dan makanan. Tak hanya itu, hoaks yang muncul terkait obat dan makanan dapat berpengaruh pada pola pikir konsumen dalam membeli produk yang bersangkutan.

"Jika dikaitkan dengan para pedagang maka ini menjadi tidak fair. Hoaks yang beredar bisa menjatuhkan produk tertentu atau brand tertentu misalnya," jelas Penny dalam acara Penandatanganan Kesepakatan BPOM dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) di Aula Gedung C, BPOM, Jakarta Pusat. 

 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 2 halaman

Bekerja sama dengan MAFINDO

Setiap bulannya, MAFINDO mencatat setidaknya ada 60-100 hoaks yang beredar. Pada tahun 2018, enam persen di antara hoaks yang beredar terkait dengan isu kesehatan yakni persoalan obat dan makanan.

"Isu kesehatan tidak boleh dianggap remeh karena hoaks terkait obat dan makanan pada umumnya mengandung unsur yang membawa kecemasan dan ketakutan," ucap Ketua Presidium MAFINDO, Septiaji Eko Nugroho.

Septiaji menjelaskan, contoh hoaks yang cukup meresahkan dan menimbulkan korelasi terhadap bidang kesehatan adalah vaksin. Belum lama ini beredar hoaks mengenai vaksin yang ternyata membawa dampak pada penolakan masyarakat dalam melakukan vaksin.

"Pengambilan keputusan dari informasi yang keliru ini tidak hanya berdampak pada pribadi saja. Tetapi juga mengancam kualitas generasi kita. Tidak mau vaksin misalnya, bisa berdampak pada munculnya penyakit," ucap Septiaji.

Maka itu, BPOM bekerja sama dengan MAFINDO untuk memberantas hoaks terkait obat dan makanan. Dengan harapan dapat memberikan literasi informasi yang benar dan membuat masyarakat tidak mudah percaya pada hoaks terkait obat dan makanan.

"Saya kira perjanjian ini penting dan semoga tidak hanya berhenti di perjanjian saja, tetapi ada kegiatan konkret yang rutin bersama kedepannya, mungkin ada event bersama," ucap Penny.

 

Penulis: Diviya Agatha

Loading
Artikel Selanjutnya
Keputusan BPOM, Obat Lambung Ranitidin Boleh Beredar Kembali
Artikel Selanjutnya
DPR Minta BPOM Lakukan Kajian Terkait Rokok Elektrik