Sukses

Kontroversi Larangan Susu Cokelat Beredar di Sekolah

Liputan6.com, New York Usulan larangan penyediaan susu coklat di sekolah umum kota New York, Amerika Serikat memicu kontroversi. Pada 6 September, enam anggota kongres New York mengirimkan surat kepada Wali Kota Bill de Blasio dan Menteri Dewan Pendidikan Richard Carranza. Mereka menyuarakan keprihatinan terhadap potensi penghilangan susu dengan varian rasa di sekolah.

Dilansir dari laman Today, perwakilan dari Biro Peternakan New York mengirimkan surat. Dalam surat tersebut diungkap bahwa susu dengan rasa memiliki peran penting dalam memastikan anak-anak mendapat nutrisi seperti kalsium, vitamin D dan kalium.

Surat itu mengutip beberapa studi (sebagian disponsori oleh produsen susu) yang menyatakan bahwa murid yang minum susu dengan varian rasa mendapat asupan vitamin harian yang direkomendasikan dibandingkan mereka yang minum susu tanpa rasa. Studi tersebut juga tidak menunjukkan keterkaitan antara konsumsi susu dengan rasa dan kenaikan berat badan pada anak.

Dalam surat itu, terdapat pula argumen bahwa larangan itu akan merugikan ribuan peternak sapi yang mengolah susu.

Juru bicara New York City of Education Will Mantell tidak menjelaskan kapan pelarangan susu cokelat itu akan dilaksanakan. Namun berdasarkan keterangan tertulisnya yang dilayangkan pada laman Today, Mantell menyebut, "cukup adil untuk mengatakan bahwa kami terus mereview pilihan menu nutrisi dan apakah anak-anak menyukainya."

 

 

2 dari 3 halaman

Los Angeles dan Detroit Mencabut Larangan Susu Cokelat

Meski banyak anak menyukai susu cokelat, pihak yang pro pada kebijakan penghapusan konsumsi susu dengan rasa berargumen hal itu merupakan cara untuk membatasi asupan gula pada anak. Menurut American Heart Association (AHA), anak-anak di AS umumnya mengonsumsi gula tiga kali lebih banyak dari konsumsi harian yang dianjurkan. Pada 2016, AHA merekomendasikan asupan gula pada anak tak lebih dari enam sendok teh per hari.

"Prioritas kami adalah kesehatan para murid. Dan setiap hari, kami menawarkan pilihan makanan grati yang sehat dan enak, yang sesuasi standar USDA," ujar Mantell.

Mantell menambahkan, saat ini sekolah umum di New York menyajikan minuman soda, tapi terkait susu, merek hanya menyajikan pilihan susu non-fat atau low-fat. Sebelumya, Washington DC, San Fransisco, Rochester, Minnesota, Los Angeles, dan Detroit juga memilih untuk meniadakan susu dengan rasa. Namun, Los Angeles dan Detroit kini mencabut larangan itu dan memperbolehkan susu dengan rasa manis disajikan di sekolah-sekolah.

Sementara sekoah-sekolah di New York City hendak melarang adanya susu cokelat, bagian negara lain di AS justru mencari cara untuk meningkatkan asupan produk susu harian. Beberapa negara bagian bahkan menerima bantuan dari asosiasi pengusaha susu untuk mendirikan kedai kopi di sekolah-sekolah menengah atas sehingga para remaja bisa mendapat protein ekstra dan kalsium, meski dalam bentuk latte.

3 dari 3 halaman

Pro-Kontra Warganet

Beberapa warganet mendukung pelarangan minuman dengan kadar gula tinggi, meski minuman tersebut juga mengandung kalsium. Namun sebagian lainnya mengatakan, pelarangan susu cokelat sudah berlebihan.

Pakar diet dan ahli gizi dari NYU Langone Hospital, Brooklyn, New York Norma Reid-Archibald mengatakan susu cokelat merupakan alternatif yang baik bagi anak-anak yang tidak suka minum susu tawar.

"Aku memerlukan pilihan lain untuk mereka, di dalamnya ada kalsium, vitamin D, dan potassium. Semuanya penting," ujar Reid-Archibald. "Tak perlu khawatir mengenai kandungan gula di dalamnya, karena itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan asupan harian yang dikonsumsi para murid," ujarnya.

Masing-masing produk susu cokelat memiliki kandungan gula dan kalori yang berbeda-beda. Namun, rata-rata susu cokelat memiliki 25 hingga 30 persen kalori dan kandungan gula dua kali lebih tinggi dibandingkan susu tawar biasa.

Hingga saat ini, pelarangan susu cokelat di New York City masih belum ditentukan. “Belum ada keputusan terkait susu cokelat,” kata Will.

Penulis : Selma Vandika

Loading