Sukses

Hati-Hati, Makanan Kemasan Kaleng Penyok Berisiko Sebabkan Keracunan

Liputan6.com, Jakarta Anda mungkin senang membeli makanan kemasan kaleng karena kemudahannya untuk dikonsumsi. Namun, sebaiknya perhatikan dengan cermat kondisi kemasan makanan yang akan dibeli. Makanan kemasan dengan kaleng penyok berisiko menimbulkan keracunan makanan.

Berdasarkan Universitas McGill, saat makanan dikemas dalam kaleng maka makanan tersebut akan dipanaskan untuk menghancurkan bakteri dan jamur. Kemasan kaleng akan mencegah makanan agar tidak terkontaminasi bakteri dan jamur.

Apakah ini berarti Anda harus menghindari pembelian makanan kemasan dengan kaleng penyok yang sedang diskon? Hal tersebut tergantung seberapa parah kerusakan kaleng.

"Kerusakan kecil pada kaleng tidak akan mempengaruhi kondisi makanan di dalamnya. Tapi jika ada penyok pada garis (seam) kaleng maka kondisi anaerobik kaleng telah rusak. Patogen dapat masuk dan menyebabkan gangguan kesehatan (foodborne illnes) bila dikonsumsi," kata Asosiasi Profesor Nutrisi dan Keamanan Makanan, Institut Kuliner Amerika, Suki Hertz, seperti dikutip dari Reader Disgest.

 

2 dari 2 halaman

Waspadai penyok parah

Namun, penyok yang parah juga perlu diwaspadai. United States Department of Agriculture (USDA) mendefinisikan seberapa penyok parah bisa diperiksa dengan mengusapnya dengan jari. Ini karena penyok tersebut juga seringkali memiliki ujung tajam.

USDA mengatakan bahwa makanan kemasan kaleng yang penyok dapat menyebabkan botulism. Botulism merupakan salah satu bentuk keracunan makanan yang menyerang sistem saraf. Gejalanya berupa pandangan ganda, kelopak mata kendur, kesulitas menelan dan sulit bernafas. Kemasan kaleng bocor dan gembung juga bisa menjadi tanda dari kaleng terkontaminasi.

Meskipun jarang, resiko terkena botulism harus dianggap serius. Di New York, restoran dapat kehilangan poin bila memiliki kaleng kemasan makanan yang penyok saat diperiksa. Menghindari makanan kemasan kaleng penyok merupakan salah satu cara menghindari keracunan makanan.

Penulis: Khairuni Cesario

Loading
Artikel Selanjutnya
Keracunan Leci, 47 Anak Meninggal Kena Radang Otak