Sukses

Anak Sehat Tak Hanya Ditandai oleh Fisiknya Saja, Tapi Juga Hal Ini

Liputan6.com, Jakarta Tak dipungkiri bahwa kerap kali untuk mengetahui anak dalam kondisi sehat atau tidak, orangtua cenderung fokus pada fisik semata. Itu memang cara termudah untuk mengetahui kesehatan anak. Namun sebenarnya ada faktor lain yang juga menentukan kesehatan anak. Simak penuturan Mommy Kinari Ghranesia dari Babyologist berikut ini.

Mungkin Moms salah satu dari kebanyakan orang tua yang sangat memperhatikan perkembangan sang buah hati. Dan Moms lakukan dengan cara melihat adanya ciri anak sehat dari segi fisik.

Memang itu cara yang paling mudah. Mengetahui bagus atau tidaknya perkembangan anak dari segi fisiknya.

Namun, banyak yang tidak sadar jika ada hal yang tak terlihat yang juga menjadi ciri dari anak yang sehat. Para ahli sering menyebutnya anak sehat dari segi mentalitasnya. Karena faktanya banyak anak yang terlihat secara fisik tapi tidak secara mental.

Maka dari itu, setelah Moms tahu apa saja ciri anak yang sehat dari segi fisik, selanjutnya Moms juga perlu tahu bagaimana tanda-tanda anak sehat dari sudut pandang mental.

 

 

2 dari 3 halaman

Tanda Anak Punya Masalah Mental

Berikut merupakan tanda-tanda anak punya masalah mental:

Masalah mental ini tidak selalu berhubungan dengan autism. Ini perlu diperjelas karena kebanyakan orang awam berasumsi bahwa anak yang memiliki masalah mental itu artinya anak autis. Padahal tidak.

Kalau anak autis, tentu terlihat ciri-cirinya secara fisik. Tapi, ada masalah mental yang secara fisik anak terlihat sangat sehat.

1. Mood Disorders

Para ahli kesehatan menyebutnya dengan istilah mood disorder. Ini merupakan kondisi di mana anak lebih sering merasa murung, sedih, dan tertekan, daripada merasa aman, nyaman, dan bahagia. Para ahli mengatakan mood disorders merupakan masalah mental yang membuat anak mudah sekali memiliki perubahan mood. Akan tetapi, dari perubahan tersebut, lebih sering anak merasakan kesedihan daripada kebahagiaan.

2. Behavior Changes

Salah satu tanda anak sehat secara mental adalah berperilaku yang santun terhadap sesama. Ini hal yang wajar. Akan tetapi, ada anak yang merasa ingin sekali berkelahi dengan anak seusianya, bahkan orang yang lebih dewasa.Terkadang anak tersebut baik. Tapi, terkadang tiba-tiba menjadi nakal dan ingin sekali berkelahi dengan anak lain. Ini masalah mental yang kemudian para ahli perkembangan anak menyebutnya dengan istilah behavior changes. Jadi, pada intinya, anak yang memiliki masalah mental ini lebih sering merah-marah dan ingin bertengkar daripada berperilaku baik dengan sesama.

3. Difficulty Concentrating

Ciri-ciri anak sehat sangat mudah diketahui ketika anak sudah masuk sekolah. Ia fokus berada di kelas, mendengarkan penjelasan dari guru, dan melakukan apa yang seharusnya dikerjakan di kelas. Imbasnya, prestasinya pun baik. Setidaknya, anak bisa mengikuti pelajaran. Sebaliknya, anak yang dikatakan kurang sehat itu sulit melakukan konsentrasi. Performa di kelas pun kurang. Anak sering melamun sendiri atau mengerjakan hal lain diluar apa yang seharusnya dilakukan.

4. Intense Feelings

Ini merupakan kondisi mental di mana anak terlalu takut terhadap sesuatu. Dan ketakuatan itu berlebihan. Contohnya saja ketika ia berada di ruangan yang sebenarnya tidak terlalu gelap, lalu anak menjerit sebisa-bisanya. Bahkan membayangkan ada hantu di kamar tersebut. Itu disebut dengan intense feelings. Semoga saja tidak ada tanda-tanda tersebut yang muncul dari anak Moms.

3 dari 3 halaman

Apa Penyebabnya?

Pahami Apa yang Menyebabkan Anak Mengalami Mental Illness!

Gangguan mental atau mental illness ternyata bukan disebabkan oleh hal yang berbahaya. Justru ini disebabkan oleh hal-hal yang sepele. Bahkan, kebiasaan kecil yang diterapkan oleh orang tua justru bisa memicu anak mengalami mental illness.

Contohnya saja sikap untuk selalu sempurna, atau yang sering disebut dengan perfectionist. Banyak orang tua yang menuntut anaknya untuk selalu menjadi yang terbaik. Harus sempurna di setiap hal.

Tentu itu hal yang bagus jika dijadikan motivasi. Tetapi akan menjadi buruk jika anak terlalu ditekan untuk menjadi sempurna di semua hal. Karena anak bisa mengalami apa yang disebut dengan anxiety disorder atau gangguan kecemasan.

Contoh lain adalah selalu memberikan larangan atau menakut-nakuti. Banyak orang tua yang sering menakut-nakuti si Kecil agar tidak melakukan sesuatu. Contohnya anak dilarang main di luar rumah karena nanti ada anjing galak atau ada sesuatu berbahaya.

Mungkin awalnya maksud orang tua baik. Yaitu agar anak mau mematuhi apa kata orang tua. Namun, ini bisa berimbas pada masalah lain, yaitu mood disorder. Anak mudah sekali berubah mood karena terbiasa mendengarkan kalimat larangan yang menakutkan dari orang tua.

Maka dari itu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat menentukan perkembangan anak. Moms tidak boleh hanya fokus untuk perkembangan anak secara fisik. Secara mental juga harus dipantau. Karena ini juga menjadi salah satu dari ciri anak sehat, yaitu bagaimana perilaku anak setiap hari.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini. Mereka merasa sudah memberikan yang terbaik ketika mereka sudah menyediakan makanan yang terbaik, susu yang terbaik, dan menyekolahkan di sekolah yang terfavorit.

Padahal itu saja tidak cukup. Justru yang paling penting adalah bagaimana Moms sebagai orang tua menerapkan pola asuh yang tepat. Karena ini yang mempengaruhi perkembangan mental anak. Dan ini akan membekas hingga anak dewasa nanti.

Jadi, Moms tidak hanya lihat ciri anak sehat dari segi fisiknya saja. Coba Moms perhatikan lagi bagaimana anak bertingkah laku. Bagaimana ia berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama. Perhatikan juga bagaimana jika anak mendapatkan masalah dan apa yang ia lakukan. Bagaimana juga jika ia marah dan kecewa. Apa respon yang ia lakukan.

Dari sinilah Moms bisa melihat bagaimana perkembangan mental anak yang juga menentukan bagaimana kondisi kesehatan anak secara keseluruhan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Tanpa Obat, Ibu Bisa Lakukan Ini saat Bayi Pilek
Artikel Selanjutnya
Alami GERD Saat Hamil, Ibu Harus Apa?