Sukses

Satu Kalimat Positif dari Ortu Dukung Pembentukan Karakter Anak

Liputan6.com, Jakarta Orangtua sering merasa khawatir jika membiarkan anak bermain dan melakukan sesuatu hal baik di dalam maupun di luar rumah. Tapi, terus-menerus melarang anak dalam melakukan kegiatan pun ternyata dapat menghambat pembentukan karakter anak.

Pola asuh orangtua akan berdampak pada pembentukan karakter anak. Dengan mengatakan "Iya boleh" kepada anak dalam melakukan suatu hal, dapat mendukung anak mengembangkan karakter anak unggul Indonesia yang sehat, cerdas, dan percaya diri. Gerakan "1 juta iya boleh" merupakan bentuk dukungan terhadap eksplorasi dan sosialisasi anak.

Drs. Hendra Jamal, M. Si, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia menyatakan, orangtua berperan penting dalam mempersiapkan anak unggul Indonesia.

"Pola pengasuhan yang diterapkan orangtua tentu akan berdampak pada pembentukan karakter si kecil. Diharapkan keterlibatan orangtua dalam memenuhi kebutuhan gizi, memberikan bimbingan, serta menanamkan nilai positif kepada si kecil, akan membantu terbentuknya generasi Indonesia yang dapat berkontribusi bagi kelangsungan bangsa dan negara di masa depan," kata Hendra di acara Dancow Gerakan "1 juta iya boleh" pada Kamis (7/2/2019).

Sementara itu menurut pakar tumbuh kembang anak Prof. Dr. dr. Soedjatmiko SpA (K), MSi, penting bagi balita untuk mendapat setimulasi bermain setiap hari dari keluarga dengan penuh kasih sayang.

"Stimulasi bermain akan merangsang kemampuan pendengaran, penglihatan, memori, kognitif, bicara, emosi, gerak kasar dan halus, yang akan mengembangkan semua potensi-potensi anak, sehingga kelak menjadi anak yang sehat, cerdas, kreatif, dan berperilaku baik," ungkap Soedjatmiko.

Cara terbaik yang dapat dilakukan orangtua adalah ikut terlibat dalam proses ekspolrasi dengan lebih banyak mengatakan "iya boleh" kepada anak.

"Jiika para orangtua mendorong si kecil untuk bereksplorasi secara tepat, sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya, tentu ini akan membantu si kecil untuk mengembangkan lima potensi karakter penting, yaitu berani, cerdas, kreatif, peduli, dan pemimpin," tambah Ratih Ibrahim, seorang psikolog klinis yang hadir dalam acara gerakan "1 Juta Iya Boleh" di Ayana Mid Plaza pada Kamis (7/2/2019).

 

2 dari 2 halaman

5 karakter yang perlu dikembangkan pada anak

Gerakan "1 Juta Iya Boleh" yang diprakarsai oleh Dancow ini memaparkan bahwa untuk menjadi anak unggul Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter, ada lima karakter penting yang perlu dikembangkan oleh orangtua kepada si kecil sejak usia dini, yaitu:

1. Berani

Eksplorasi merupakan salah satu cara untuk si kecil berinteraksi dengan lingkungan, sehingga keberanian dan rasa percaya dirinya dapat berkembang dengan baik. Rasa percaya diri yang sehat merupakan salah satu dasar dalam mengembangkan berbagai potensi lainnya, seperti problem-solving, decision-making, dan keterampilan sosial.

2. Cerdas

Melalui eksplorasi yang tepat, sesuai dengan tahap perkembangannya, aspek kognitif si kecil dapat terstimulasi melalui berbagai kegiatan dalam proses eksplorasinya.

3. Kreatif

Ketika terpapar pada berbagai stimulus dan situasi melalui kegiatan eksplorasi, imajinasi, dan kreativitas si kecil dapat berkembang dengan baik.

4. Peduli

Melalui aktivitas bersama teman lain atau orang dewasa, si kecil belajar berinteraksi, berbagi, mengenal dan memahami perasaan orang lain, menunggu giliran, serta meningkatkan toleransinya.

5. Pemimpin

Untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan, penting untuk si kecil memiliki sikap disiplin dan kemandirian yang baik. Eksplorasi mengasah kemampuan si kecil untuk mengambil kontrol akan berbagai hal di sekitarnya.

Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc., pakar nutrisi, turut menyampaikan bahwa eksplorasi anak harus disertai dengan perlindungan yang tepat.

"Ketika anak bereksplorasi, masih ada banyak tantangan penyakit yang mungkin bisa mengganggu. Sebanyak 41,9 persen anak Indonesia masih sering terkena infeksi saluran pernapasan dan 12,2 persen anak masih sering terkena diare. Di samping itu, anak yang lebih sering bermain di luar rumah memiliki risiko terkena penyakit 2-3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang hanya beraktivitas di rumah," ujar Saptawati menambahkan. 

Ditulis oleh: Siti Nurhaifa

Loading
Artikel Selanjutnya
Gawai Jadi Pemicu Gangguan Jiwa Anak
Artikel Selanjutnya
Bentuk Karakter Anak lewat Tokoh Animasi Edukatif