Sukses

Walau Gatal, Gigitan Serangga Ternyata Tak Boleh Digaruk

Liputan6.com, Jakarta Saat kena gigitan serangga, semua orang rasanya langsung otomatis menggaruk. Rasa gatal seperti tidak tertahankan, dan hanya bisa hilang setelah kita menggaruknya. 

Tinggal di negara beriklim tropis, gigitan serangga adalah gangguan yang kita temukan hampir setiap hari. Wajar memang, karena suhu panas yang dikeluarkan tubuh seperti undangan yang mengajak serangga datang.

Serangga sering datang ketika kita berkeringat. Walau sebenarnya, bukan keringat yang menarik serangga, melainkan kandungan karbon dioksida di dalamnya.

Gigitan serangga biasanya meninggalkan rasa gatal, yang akan terasa sangat memuaskan bila bisa menggaruknya. Kenapa bisa begitu?

Ketika digigit serangga, misalnya nyamuk, moncongnya yang panjang dan menyerupai sedotan akan menusuk kulit. Saat ini terjadi, serangga akan memasukkan ludahnya ke dalam kulit, jelas Jorge Parada MD, penasihat medis di National Pest Management Association, mengutip Reader's Digest, Selasa (13/2/2018).

Ludah nyamuk mengandung berbagai protein yang akan dianggap sebagai penyusup oleh tubuh. Hal ini akan memosisikan sistem imun dalam kodisi siaga, dan melepaskan senyawa yang dikenal sebagai "histamin". Histamin membantu sel sistem imun untuk mengalir lancar ke titik gigitan. Hal ini terjadi baik Anda digigit atau disengat serangga.

Dan ternyata, rasa gatal yang timbul akibat gigitan serangga adalah hal yang sehat. Jika Anda memiliki sistem imun yang rendah, tubuh tidak akan memberikan respons, ujar Jennifer T. Haley, MD, dan hal ini membuka risiko terkena infeksi.

Saksikan juga video menarik berikut:

 

1 dari 2 halaman

Histamin Penyebab Bentol

Akan tetapi, sesehat apa pun sistem imun, histamin tadilah yang menyebabkan timbulnya rasa gatal. Mereka juga bertanggung jawab atas munculnya bentol atau bengkak di tempat gigitan, jelas Dheeraj Taranath, DO, Direktur Regional Medis dari MedExpress.

Namun sayangnya, menggaruk gigitan serangga bukanlah hal yang baik. Pertama-tama, menggaruk hanya akan merangsang ludah nyamuk tadi, sehingga akan meningkatkan respons histamin.

Kedua, menggaruk bisa menggores kulit, yang kemudian membuat bakteri dari permukaan kulit dan kuku jari masuk ke dalam tubuh. Hal ini bisa berujung pada infeksi bakteri.

Jika Anda tidak bisa menekan dorongan untuk menggaruk, setidaknya cobalah pilihan yang lebih aman seperti menggosok area yang gatal dengan telapak tangan, saran Dr Taranath. Dia juga merekomendasikan untuk mencuci gigitan nyamuk dengan sabun untuk membasuh bakteri dan mengurangi rasa gatal.

Jika Anda menggaruk sampai berdarah, waspadai tanda-tanda infeksi. Jika ini terjadi, Anda mungkin akan memerlukan antibiotik.