Sukses

Kena Kanker Tulang, Nani Kira Lutut Bengkak karena Terkilir

Liputan6.com, Jakarta Masa remaja Nani harus terenggut akibat kanker tulang stadium lanjut. Gadis berjilbab yang kini berusia 21 tahun itu harus kehilangan kaki kanannya. Penyebaran sel kanker di kaki kanannya tak bisa diobati. Satu-satunya tindakan yang dilakukan adalah amputasi kaki.

Ketika berbincang dengan Nani saat berkunjung ke Kementerian Kesehatan, Jakarta, ditulis Jumat (16/2/2018), terlihat wajah cerianya. Ia berbagi kisah soal kanker tulang yang harus dilawannya. Kejadian bermula pada Juni 2012 saat Nani berusia 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP.

“Waktu itu, saya aktif ikut ekskul pramuka. Saat MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik), ada pemanasan sebelum senam. Di tengah-tengah pemanasan, tiba-tiba bunyi ‘krek’ di bagian lutut. Saya kira itu keseleo. Nah, dua minggu itu pegal-pegal, tapi enggak hilang-hilang. Sampai saya enggak bisa jalan,” cerita Nani asal Bogor, Jawa Barat.

Saat melihat kondisi Nani yang tidak bisa jalan. Orangtuanya memutuskan untuk membawa Nani dipijat. Selama satu bulan, Nani dipijat. Bukan membaik, lututnya malah bengkak. Walaupun bengkak, ia tetep dipijat.

“Akhirnya, bengkak itu jadi agak besar. Orangtua saya memutuskan ke puskesmas. Di puskesmas, saya dirujuk ke RS PMI Bogor. Sewaktu di puskesmas, dokternya enggak bilang apa-apa soal kondisi saya (adanya kanker tulang belum ditemukan). Katanya, ‘Untuk pemeriksaan lebih lanjut harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih detail dan lengkap pemeriksaannya,`" paparnya.

1 dari 4 halaman

Divonis kanker tulang

Demi diagnosis yang lebih rinci, Nani pergi ke RS PMI Bogor pada Juli 2012. Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan, Nani menderita kanker tulang stadium dua. Ia tak menyangka, di usianya yang masih belasan tahun, bengkak di lutut yang tak hilang-hilang ternyata pertanda kanker tulang.

“Kata dokter, penyebab kanker tulang yang saya alami itu dari pola makan. Dibilangnya, “Anak remaja kan biasa, sepulang sekolah makan enggak beraturan. Karena pola makan, kayak jajan  di luar, makan mi dan jajanan micin-micin kayak gitu,” ujar Nani.

Ketika ditanya, apakah penyebab kanker tulang karena salah pijat. Nani mengungkapkan, itu salah satu penyebab sel kanker menyebar cepat di kaki kanannya.

“Awalnya, kan kita enggak tahu, kalau itu kanker tulang. Harusnya kalau saya memilih berobat medis lebih cepat, area itu (bagian lutut yang bengkak) enggak boleh dipijat. Kalau dipijat justru kanker itu lebih cepat menyebar,” jelas Nani, yang merupakan anak keempat dari empat bersaudara.

Tatkala didiagnosis kanker tulang, Nani sempat terhenyak. Apalagi waktu itu, dokter memvonis Nani hanya mampu bertahan enam bulan lagi. Ia pun harus diamputasi. Padahal, kanker tulang masih stadium dua.

“Waktu itu, saya enggak mau diamputasi karena bengkaknya masih kecil. Saya minta jalan (alternatif) lain, selain diamputasi harus apa? Dokter di RS PMI, nyaranin ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta,” Nani menambahkan.

2 dari 4 halaman

Harus amputasi kaki

Untuk mencari alternatif lain pengobatan kanker tulang, selain amputasi, Nani diantar ibu, Ijah, dan ayahnya, Tatang, ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sayangnya, pengobatan Nani terbilang terlambat. Ini karena dirinya butuh pemeriksaan CT scan dan mengisi berkas-berkas lain.

Kelengkapan berkas itu membutuhkan proses lama untuk diselesaikan. Sementara itu, kanker yang dialaminya sangat ganas dan membutuhkan tindakan segera. Hal yang menakutkan terjadi, setelah berkas-berkas medis Nani lengkap, kanker tulang sudah sepenuhnya menyebar.

“Dari stadium dua jadi stadium empat. Dan itu harus diamputasi. Kenanya di bagian tengah lutut, penyebaran sel kanker ke bawah (kaki). Jadi, untuk menghentikan penyebaran sel kanker ke (bagian tubuh) atas, jalan satu-satunya harus amputasi kaki,” lanjut Nani, yang bercita-cita menjadi pengusaha.

Nani harus menjalani dua kali amputasi kaki kanan. Amputasi pertama pada Agustus 2012. Setelah amputasi pertama, ia menghabiskan waktu enam bulan kemoterapi. Kemudian amputasi kedua di awal 2013.

Amputasi kaki kanan membuahkan hasil, sel kanker berhenti menyebar. Kini, Nani sudah sembuh dari kanker tulang. Seluruh pengobatan kanker tulang pun mengandalkan kartu BPJS Kesehatan.

3 dari 4 halaman

Sempat depresi dan minder

Nani juga mengungkapkan, awal-awal didiagnosis kanker tulang sempat mengalami depresi dan terpuruk. Akibat kanker tulang, teman-teman di SMP yang semula akrab malah ada yang sempat menjauh. Nani sempat merasa minder menjalani kehidupan sehari-hari.

Namun, depresi dan minder perlahan-lahan sirna. Berkat motivasi dari sang ibu dan teman-teman sesama penderita kanker di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Jakarta.

“Yang bikin saya semangat itu orangtua, terutama ibu. Ibu saya enggak bisa baca tulis, tapi punya tekad nganterin saya berobat sampai saya sembuh. Sekarang, saya juga kuliah sambil kerja. Saya ambil jurusan akuntansi di BSI Salemba Jakarta dan jadi admin di YKAKI,” ucap Nani sambil terharu.

Nani belajar dari teman-teman di YKAKI, banyak penderita kanker usia anak.

“Yang kecil saja bisa, masa saya yang remaja enggak bisa menjalani (hadapi kanker) ini semua”, pikirnya. Ia juga memberanikan diri untuk memberikan motivasi kepada anak-anak kecil penderita kanker di YKAKI.

“Intinya saya bilang, ‘Lihat deh, Teteh saja bisa (sembuh dari kanker), kalian juga pasti bisa sembuh.’ Saya berharap, ke depannya, di daerah juga ada penanganan kanker agar tak terlambat didiagnosis,” tambah Nani, yang lulusan SMP Negeri 105 Cisarua dan SMK Al-Ikhlas Bogor.

Di akhir perbincangan, sebuah pesan inspiratif disisipkan Nani untuk anak-anak penderita kanker:

Apapun yang terjadi, bukan akhir dari segalanya. Kita bisa kok melakukannya (melawan kanker) yang terbaik. Intinya, kita semangat dan yakin sembuh.

Artikel Selanjutnya
Cara Kerja Si Buah Biru Lawan Sel Kanker
Artikel Selanjutnya
Tips Bicarakan Kanker dengan Anak