Sukses

Waspadai Demam pada Anak Akibat Penyakit Japanese Encephalitis

Liputan6.com, Jakarta Beredar pesan singkat berantai yang menyebutkan bahaya penyakit Japanese encephalitis (JE) yang menyerang seorang anak berusia sembilan tahun. 

Yang mengejutkan, gejalanya disebut mirip DBD seperti demam tinggi pada anak yang sangat umum terjadi. Berikut isi pesan singkat tersebut:

Anak Bina Bangsa School Elang laut Pluit umur 9 thn meninggal dunia..gejala mirip DBD.. Sekarang adiknya juga di ruang ICU karena menular.. Jadii..katanya..
Anak ini demam dr senen siang.. kakak adik demam.. udah ke dokter, katanya radang, tp kokonya radang lebih parah. Diksh obat, trs pulang.
Sampe rumah malah tambah parah, panas sampe 41. Dia uda lemes, ga kuat, blg mamanya 'ma, anter aku ke hospital donk'. Di tengah jalan uda kejang2 dia.
Sampe RS diksh obat minum + dr pantat jg ga mempan.. baju dibuka, badan di gosok2.. penanganan kaya sakit panas biasa aja.. akhirnya turun jg drastis smp 36.
Uda bs becanda2 lagi sm opanya. Jam 9pm msh bs becanda2..
Tiba2 dia mengap2 kaya ga bs nafas, dipakein selang oksigen ga mempan. Ampe lehernya biru..
Trs di monitor uda teeeettt garis lurus. Buru2 di CPR, muncrat darah dr idung sm mulut. Kata dokternya klo di CPR lagi bs patah2 ni tulangnya..akhrnya pasrah.. omanya ampe guling2an histeris ga percaya.. sedih bgt yahh 😭😭😭

Pas di mobil yg kejang2 gtu, dia smpt ga sadar..dia nyariin mamanya, padahal mamanya disitu. Dia blg Dave ga bs liat mama.. Dave ga bs liat tangan Dave sndri, ini putih semua, kaya berlian2 bagus banget. Tp Dave takut, koq ada ular cobra sama monster2.. 😭😭😭
Ini nama virusnya:
Japanese encephalitis (JE) is a disease spread through mosquito bites. Symptoms usually take 5-15 days to develop and include fever, headache, vomiting, confusion, and difficulty moving. Symptoms that develop later include swelling around the brain and coma. JE is a serious disease that may cause death.
# waspada demam karena virus dsb..

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa penyakit Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak disebabkan oleh virus Japanese ensefalitis termasuk family Flavivirus dan merupakan masalah kesehatan masyarakat di Asia termasuk di Indonesia.

Jumlah kasus JE di Indonesia pada 2016 yang dilaporkan sebanyak 326 kasus. Kasus terbanyak dilaporkan terdapat di Provinsi Bali dengan jumlah kasus 226 (69,3%).

Penularan virus tersebut sebenarnya hanya terjadi antara nyamuk, babi, dan burung rawa. Manusia bisa tertular virus JE bila tergigit oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi.

Biasanya nyamuk ini lebih aktif pada malam hari. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Kejadian penyakit JE pada manusia biasanya meningkat pada musim hujan.

”Di Bali, tingginya kejadian Japanese Encephalitis dikaitkan dengan banyaknya persawahan dan peternakan babi di area tersebut," tutur Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, dalam keterangan pers, ditulis Selasa (4/4/2017).

Sebagian besar penderita JE hanya menunjukkan gejala yang ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Gejala dapat muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah.

Kurang lebih 1 dari 200 penderita infeksi JE menunjukkan gejala yang berat dan berkaitan dengan peradangan pada otak (encephalitis), berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku pada tengkuk, disorientasi, koma (penurunan kssadaran), kejang, dan kelumpuhan.

Gejala kejang sering terjadi terutama pada pasien anak-anak. Gejala sakit kepala dan kaku pada tengkuk terutama terjadi pada pasien dewasa. Keluhan-keluhan tersebut biasanya membaik setelah fase penyakit akut terlampaui, tetapi pada 20-30% pasien, gangguan saraf kognitif dan psikiatri dilaporkan menetap. Komplikasi terberat pada kasus japanese encephalitis adalah meninggal dunia (terjadi pada 20-30% kasus encephalitis).

“Tidak bisa sembarangan menyatakan seseorang didiagnosis JE, selain berdasarkan pemeriksaan fisik atas gejala, juga diperlukan pemeriksaan laboratorium dan tidak bisa dilakukan di laboratorium klinik biasa," imbuh Jane.

Hingga saat ini, belum ada obat untuk mengatasi infeksi JE, pengobatan hanya bersifat suportif untuk mengurangi tingkat kematian akibat JE. Pengobatan yang diberikan berdasarkan gejala yang diderita pasien (simtomatik), istirahat, pemenuhan kebutuhan cairan harian, pemberian obat pengurang demam, dan pemberian obat pengurang nyeri. Pasien perlu dirawat inap supaya dapat diobservasi dengan ketat, sehingga penanganan yang tepat bisa segera diberikan bila timbul gejala gangguan saraf atau komplikasi lainnya.

Sebanyak 85% kasus JE yang dilaporkan pada 2016 terjadi pada kelompok umur kurang dari 15 tahun. Hal ini menyebabkan JE dianggap sebagai penyakit pada anak. Padahal, sebenarnya JE juga dapat berjangkit pada semua umur, terutama bila virus tersebut baru menginfeksi daerah baru dimana penduduknya tidak mempunyai riwayat kekebalan sebelumnya.

Intervensi yang paling utama dalam penanggulangan JE adalah pengendalian vektor, eliminasi populasi unggas, vaksinasi pada babi, eliminasi pemaparan manusia pada vektor, dan imunisasi JE pada manusia. Imunisasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah JE pada manusia.

“Pada September 2017 mendatang, Kemenkes akan mulai mengampanyekan imunisasi JE di 9 Kabupaten/Kota di Bali dengan sasaran sebanyak 897.050 anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun”, terang dr. Jane.

Ditambahkan oleh dr. Jane, setelah selesai dilakukan kampanye imunisasi JE, maka langkah selanjutnya adalah introduksi imunisasi JE ke dalam program imunisasi rutin pada anak usia 9 bulan yang dilaksanakan bersamaan dengan imunisasi campak. Perluasan introduksi imunisasi JE akan dilaksanakan berdasarkan kajian endemisitas wilayah masing-masing.