Sukses

Kebanggan Menjadi Seorang Ibu Sekaligus Peneliti

Liputan6.com, Jakarta Bagi wanita, tak dipungkiri ada beragam tantangan yang harus dihadapi saat memilih menjadi peneliti. Salah satunya harus pintar-pintar membagi waktu antara bekerja dan kebersamaan bersama anak.

Tapi jangan salah, lewat keahliannya para peneliti wanita bisa membuat 'kehebatan' sendiri di mata buah hati mereka masing-masing. Peneliti Ines Atmosukarto dan Fenny Martha Dwivany berbagi cerita kehidupan parentingnya dalam round table discussion bersama L'Oreal di kantor pusat L'Oreal, Jakarta pada Kamis, 6 Oktober 2016 lalu.

Ines Atmosukarto, tanamkan rasa ingin tahu dan tidak asal percaya pada anak

Ines Atmosukarto, ilmuwan wanita yang sudah sembilan tahun terakhir memimpin sebuah perusahaan start-up bioteknologi bernama Lipotek di Canberra, Australia.

Sebagai seorang peneliti yang namanya sudah terkenal di kancah internasional di bidang sains, Ines berkesempatan untuk melihat dunia secara gratis. Ia sering diundang memberikan presentasi di negara-negara lain di luar Indonesia. Selain itu ia juga sempat bersekolah di luar negeri. Beberapa kali putrinya ikut serta.

"Pada saat saya ambil S3, anak saya ikut. Hal ini tentu saja membuatnya ter-ekspose budaya lain sehingga membuat dirinya 'kaya'," tutur Ines.

Sebagai peneliti, wanita blasteran Indonesia-Rumania ini memegang teguh prinsip rasa ingin tahu dan tidak asal percaya. Hal ini pun ia terapkan pada buah hatinya.

"Kita itu bisa membuka mata pada generasi berikut untuk bertanya terhadap sesuatu, tidak selalu terima, jangan asal terima apa kata orang lain. Saya menanamkan untuk berani bertanya dan mencari kebenaran," tutur peraih bidang doktor di bidang biokimia dan biologi molekuler.

2 dari 2 halaman

Fenny, teman belajar anak

Fenny, menjadi teman anak belajar

Fenny Martha Dwivany, ilmuwan yang juga seimbang menjalankan perannya sebagai istri dan ibu.

Keahliannya sebagai peneliti, membuat dirinya jadi teman belajar yang asik bagi sang anak. Misalnya saat belajar tentang struktur tanaman, sebagai seorang peneliti pisang tentu Fenny bisa menjelaskan dengan lancar hal itu kepada buah hatinya, Ananda Dwivano Moeis.

Fenny pun berusaha, agar penelitian yang dilakukannya 'membumi'. Dalam artian bisa dipahami oleh anaknya. Sehingga ia bisa bercerita dengan anak mengenai pelajaran IPA dengan amat seru.

"Saya bisa sharing dengan anak. Ia pun bangga pada saya dan mengatakan kepada teman-temannya, "My mother is scientist". Pada saat ia bertanya tentang struktur tanaman, saya jadi ibu yang paling tahu dibandingkan ibu-ibu temannya lain," cerita wanita yang juga sebagai dosen ITB ini.

Kebanggaan anak terhadap dirinya pun sempat membuat Fenny amat senang. Pernah suatu kali profil dirinya masuk koran. Lalu koran tersebut sampai dibawanya ke sekolah.

"Pernah itu korannya di bawa ke sekolah ditunjukkan pada teman-temannya. Padahal kan ibunya bukan artis ya," tutur wanita yang menemukan metode melambatkan pematangan pisang ini sambil tertawa.

Baginya, ketika keluarga bangga padanya itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.