Sukses

3 Tips Singkat Melewati Hubungan Yang Kandas

Liputan6.com, Newport Beach - Salah satu situasi yang paling sulit, mengecewakan, dan menantang yang pernah dialami seseorang berkisar pada berakhirnya suatu hubungan. Perceraian dan putus hubungan menciptakan perasaan yang intens, jadi penting untuk belajar menghadapinya.

Hampir semua orang pernah mengalami putus dalam hubungan percintaan, baik pacaran atau pernikahan. Kenyataannya, memang perlu waktu untuk menemukan pasangan yang tepat sehingga ada saja yang terluput selagi melangkah maju.

Mungkin pernikahan Anda sedang menuju akhir atau seseorang tertentu yang Anda sangka menjadi jodoh, ternyata tidak berlanjut. Seandainya sedang mengalami hal ini, seperti kebanyakan orang, Anda tentu kecewa, sedih, atau kesal dengan apa yang terjadi dan tak bisa dihindari.

Banyak orang mencoba berpegang kepada sesuatu yang, dalam kenyataannya, tidak ada lagi. Mirip seperti mencoba menggapai sinar matahari menggunakan tangan, sehingga malah frustrasi dan lelah.

Jangan lupa, masa depan bukan berada di belakang. Melihat ke belakang hanya menambah pedih secara emosi dan mengganggu kemampuan untuk move on serta membuat mandeg dan terpaku pada masa lalu.

Bagi mereka yang merasa tidak mungkin melepaskan yang lama, seringkali terapi menjadi bagian integral untuk menerima dan proses pemulihan. Tapi sebagian lagi, mereka bisa menemukan cara melewatinya.

Mereka mendapat bantuan dari orang-orang lain yang telah berhasil menemukan cara untuk tiba di sisi seberang pengalaman kehilangan seseorang.

Dikutip dari Lifescript pada Kamis (24/3/2016), John H. Sklare, Ed.D menyebutkan adanya artikel tentang menghadapi putusnya hubungan, tapi ia mengutip 3 kiat dari helpguide.org, yaitu:

1. Luangkan waktu bersama orang-orang yang mendukung, menghargai dan menguatkan Anda

Waktu memikirkan ingin mencurahkan perasaan ke seseorang, pilihlah secara bijaksana. Kelilingi diri Anda dengan orang yang positif dan benar-benar mendengarkan. Penting bagi Anda untuk bisa jujur sebebas-bebasnya tentang apa yang sedang dialami, tanpa khawatir akan dihakimi, dikritik, atau diperintahkan harus berbuat apa.

2. Carilah bantuan dari luar kalau memang perlu

Jika menjangkau teman atau keluarga bukan hal yang terjadi secara alamiah, pertimbangkanlah untuk menemui konselor atau mengikuti kelompok dukungan. Yang terpenting adalah Anda setidaknya memiliki satu tempat di mana Anda merasa nyaman untuk membuka diri.

3. Bentuk pertemanan baru

Jika Anda merasa telah kehilangan jejaring sosial berbarengan dengan perceraian atau putus hubungan, upayakan untuk bertemu dengan orang-orang baru. Bergabunglah dengan kelompok jejaring atau minat khusus, ikuti kursus, melibatkan diri dalam kegiatan komunitas, menjadi sukarelawan di sekolah, kegiatan keagamaan atau organisasi kemasyarakatan lainnya.

Akhir suatu hubungan bisa menyakitkan dan menjadi pengalaman yang menekan, tapi bisa juga menjadi kunci menuju masa depan yang lebih bahagia dengan hubungan yang lebih baik di hadapan Anda.

Seperti halnya kebanyakan hal dalam hidup ini, bukan hal-hal yang terjadi pada Anda yang menentukan dan mengarahkan Anda, tapi lebih kepada bagaimana Anda menghadapinya.

Pada akhirnya, satu-satunya yang lebih buruk daripada pedih, sakit hati dan kehilangan adalah pernah mengalami hal-hal demikian tapi malah tidak belajar apapun darinya.