Sukses

Pria, Ini 12 Hal Untuk Diketahui Soal Perceraian

Liputan6.com, New York - Bagi seorang pria yang masuk dalam pusaran perceraian, tidak ada nasihat yang lebih baik daripada mereka yang pernah berada di dalamnya.

Dikutip dari Huffington Post pada Kamis (17/3/2016), berikut ini adalah sejumlah hal yang harus diketahui pria ketika sedang dibayang-bayangi perceraian:

1. Perceraian adalah salah satu hal kejadian yang paling meremukkan yang dialami oleh seorang pria, kecuali dibandingkan dengan kematian, tapi jangan berpikiran untuk melewati ini sendirian. Itulah mengapa kepedihannya terasa terlalu lama.

Luangkan waktu bersama dengan teman-teman pria yang dekat dan sanggup mendengarkan tanpa kebanyakan memberi nasihat. Sekadar meluapkan semuanya, tidak perlu mendapatkan nasihat.

Teman-teman dapat mendukung ketika kita merasa di paling bawah dan tidak perlu malu menghubungi mereka ketika perlu bicara. Itulah gunanya teman. –Ken Solin, penulis Act Like A Man dan The Boomer Guide To FindingTrue Love Online.

2. Ketika terpikir untuk memulai suatu hubungan baru atau memperbaiki yang lama, penting mengingat bahwa kita sekarang bukanlah kita nanti ketika sudah pulih dan seimbang lagi.

Jangan biarkan "kamu yang remuk" membuat keputusan besar bagi "kamu di masa depan". Sabarlah. Jadilah "kamu" lagi, baru kemudian memutuskan apa selanjutnya. –Matt Griswold, penulis blog Must Be This Tall To Ride.

3. Ketika saya berkencan lagi untuk pertama kalinya sesudah cerai, beberapa orang yang sudah pernah cerai mengatakan bahwa saya belum siap, terlalu dini untuk memasuki suatu hubungan. Saya meremehkan mereka karena merasa mereka tidak mengenal saya.

Sekarang saya menoleh lagi ke belakang, ternyata mereka benar. Orang tidak dapat tergesa-gesa memasuki hubungan yang baru hingga benar-benar keluar dari hubungan yang lama. –Al Deluise, penulis blog Conflict & Scotch.

2 dari 3 halaman

Fokus Pada Anak-anak

4. Tetaplah fokus kepada anak setiap saat. Pertama, memang itulah yang sepantasnya, dan, kedua, hal itu akan meringankan kepedihan yang mungkin dikatakan atau dilakukan pasangan dan repotnya gangguan yang disebabkan perceraian. –Joe Seldner

5. Kehidupan bersama dengan anak-anak berkutat dengan jadwal. Miliki kalender dan, jika anak sudah cukup umur, ajarkan mereka untuk menambah acaranya sendiri ke kalender itu. Biarkan mereka melihatnya setiap hari.

Di rumah saya, jika tidak tertera dalam kalender, acara itu tidak ada. Jadwal main bisbol, menginap, acara sandiwara sekolah, konser atau acara khusus apa pun harus tertera dalam kalender. Agak merepotkan di awalnya, tapi manfaatnya luar biasa. –Bill Flanigin

6. Jika punya anak-anak, orangtua yang satu lagi merupakan salah satu hubungan yang terpenting bagi kita, tanpa peduli apa pun perasaan kita. Demi beberapa alasan, kita melakukan profesionalisme dan diplomasi untuk berhasil dalam karir.

Begitu juga halnya, yakni kita juga harus menunjukkan keramahan dan kepedulian kepada mantan istri, supaya bisa berhasil sebagai orangtua. Ramahlah, walaupun sulit. Manfaat bagi diri kita dan anak-anak sungguh luar biasa. –Matt Griswold

7. Pengacara mungkin menyebutkan dengan ‘kunjungan’, namun anak-anak tidak pergi ke rumah kita sekedar sebagai kunjungan. Rumah kita adalah rumah ke dua baginya. Mereka akan tinggal di sana berserta dengan kita. Mereka perlu memiliki harapan dan keistimewaan.

Ketika anak-anak sedang bersama kita, itu bukan liburan, melainkan kehidupan. Jangan berlagak keren, jadilah seorang ayah. Kita bukan lagi bagian dari pasangan orangtua, sudah sendiri. Pikirkan baik-baik. –Bill Flanigin.

8. Jangan mengatakan apapun yang negatif kepada anak tentang ibu mereka. Hal itu melukai mereka. Anak-anak membutuhkan kita sebagai ayah mereka yang mengajarkan mereka tentang kehidupan. –Elliott Katz, penulis Being The Strong Man A Woman Wants: Timeless Wisdom On Being A Man.

9. Jangan mencela mantan kepada siapapun yang mendengarkan. Membosankan dan, lebih parah lagi, itulah tanda yang jelas bahwa kita belum move on.

Bagian besar dalam pemulihan adalah pengertian tentang bagian kita dalam pernikahan yang gagal itu, dengan pengecualian soal penyalahgunaan narkoba, karena dua belah pihak ikut andil dalam kegagalan.

Mengerti mana yang menjadi bagian kesalahan kita membantu untuk tidak mengulangi perilaku yang sama dalam hubungan berikutnya. –Ken Solin

3 dari 3 halaman

Merenung dan Mengucap Syukur

10. Luangkan waktu satu jam dalam sehari untuk merenungkan tentang apa yang terjadi dalam hidup kita. Satu jam sesuai pilihan kita. Jika kita mulai terpikir tentang perceraian kita di hari itu, singkirkan dan katakan kepada diri sendiri, “Saya akan memikirkan itu nanti jam enam.”

Jika kita luput jadwalnya karena suatu alasan, tunggulah hingga esok hari. Pada akhirnya, tanpa disadari, kita akan semakin memerlukan waktu perenungan itu. –Al Deluise.

11. Jangan mengharapkan akhir yang cepat. Saya ingat waktu itu 6 bulan sesudah perceraian dan menceritakan kepada seorang lain betapa senangnya karena sudah hampir tuntas. Ia tertawa dan mengatakan kepada saya belum tuntas.

Empat tahun kemudian, saya masih saja di dalamnya. Saya sepakat dengan dia. –Joe Seldner

12. Saya bersyukur untuk segalanya yang telah saya miliki. Saya bersukur bahwa saya memiliki 5 orang anak di dalam hidup saya yang terus menerus menghadiahi saya dengan cinta dan keberhasilan mereka.

Saya beruntung memiliki daftar panjang hal-hal yang saya syukuri, yang saya tambahkan setiap minggu. Ketika saya sedang gundah, saya membacanya dan langsung ceria lagi. –Matt Sweetwood