Sukses

Djoko Said Damardjati, Profesor Penggagas One Day No Rice

Liputan6.com, Jakarta Siapa yang tidak mengenal beras di Indonesia, hampir seluruh masyarakat Indonesia mengolahnya untuk mengonsumsi menjadi nasi setiap hari. Sayangnya, tingkat konsumsi beras per individu tergolong tinggi yaitu 108 kg/tahun/ individu namun peneliti di bidang padi sangat sedikit baik dulu maupun sekarang. Padahal peran peneliti diperlukan untuk bisa meningkatkan kualitas beras.

Hal inilah mendorong Djoko Said Damardjati (66) pada tahun 1970-an untuk menekuni bidang mutu beras. Memulai karir sebagai peneliti tenaga kontrak di Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

"Tidak banyak orang yang tertarik meneliti beras, padahal beras dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Saya lalu melawan arus dan mulai melakukan penelitian tentang padi sebagai komponen pangan," tuturnya saat berbincang kepada Health-Liputan6.com beberapa saat lalu di pabrik beras di Sragen, Jawa Tengah.

Beragam penelitian pun mulai ia lakukan baik dilakukan secara individu maupun tim yang membuahkan jadi pondasi bagi pemerintah membuat kebijakan di tahun 1980-an. "Tahun 1984 Indonesia melakukan swasembada, semua heboh dengan kualitas beras yang jelek. Saya keluarkan tulisan saya lewat seminar. Hingga akhirnya menjadi kebijakan pemerintah dimana saat panen harus memerhatikan waktu panen dan pasca panen," ujar pria kelahiran Solo ini.

Untuk meraih titel gelar akademik, penelitian thesis hingga disertasi yang ia lakukan tentang beras. Lalu, ia meraih gelar profesor riset pada tahun 2006, yang merupakan profesor riset ke-4 di Badan Litbang dan ke-16 di tingkat nasional yang membuat namanya menjadi Prof. (R). Dr. Ir. Djoko Said Damardjati.

2 dari 2 halaman

Penggagas one day no rice

Pengusul One Day Without Cooking Rice
Masih ingat sebuah gerakan yang dianjurkan Walikota Depok Jawa Barat adanya hari tanpa nasi? Hal itu berawal dari perbincangan diantara Prof. Djoko, beberapa kementerian, serta walikota.

"Saya tidak tahu persis bagaimana proses tersebut menjadi sebuah kebijakan, namun dulu sempat ada perbincangan pada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh pejabat kementerian serta walikota," tuturnya.

Usul tersebut ia ketahui dari Korea Selatan, dimana sang presiden mencanangkan hari tanpa nasi. Hasilnya tingkat konsumsi beras menjadi hanya 50 kg/tahun per individunya.

Menurut Prof Djoko, tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia sangat tinggi sehingga harus dikurangi dengan gerakan-gerakan seperti ini. Sehingga tidak menjadi negara yang tergantung pada nasi. "Tidak cuma nasi, paling tidak di Indonesia masih ada lima sumber pangan yang juga mengenyangkan seperti sorgum, sagu, ubi jalar, singkong, jagung," tegasnya.

Ia pun menegaskan bahwa ini adalah hari tanpa nasi, bukan beras. Ia berharap dengan adanya kebijakan tersebut beras bisa diolah masyarakat menjadi hasil pangan yang lain, aneka kue misalnya.

"Sehingga kegiatan perekonomian tidak berhenti hanya pada sawah dan pabrik penggilingan tapi industri pangan lain," ujarnya.

Kini, ia telah menyelesaikan tugasnya sebagai pegawai negeri sipil pada usia 65 tahun namun masih ingin  terus aktif di bidang teknologi pangan. Bersama rekan-rekan profesor riset badan litbang pertanian yang telah purnatugas mendiirikan sebuah perusahaan konsultan PT Agro Indo Mandiri yang berkantor di Jalan Pajajaran, Bogor, jawa Barat.