Sukses

Yang Harus Dilakukan Bila Anak Alami Ketidakmampuan Belajar

Liputan6.com, Jakarta Ketidakmampuan seorang anak dalam belajar (learning disability) seringkali membuat para orangtua geram. Jika kondisi ini dialami buah hati Anda, janganlah langsung mengatakannya bodoh dan tak mampu berbuat apa-apa. Karena, gangguan neurologis yang dialaminya, membuat dia sulit untuk menangkap materi pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Dalam sebuah kesempatan Pakar Kesulitan Belajar pada Anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Annelia Sari Sani, S.Psi, Psikolog berbagi pengetahuan tentang apa itu learning disability.

"Learning disability itu sebenarnya, dia itu anak yang pintar dan cerdas. Tapi, karena gangguan prosesing di dalam otaknya, membuatnya mengalami kesulitan untuk belajar. Jadi, bukan berarti si anak ini bodoh," kata Anne pada Health Liputan6.com, ditulis Jumat (16/4/2014).

Ketidakmampuan belajar ini pun beragam. Mulai dari kesulitan untuk memusatkan perhatiannya, sulit menghapal, sulit mengenali bentuk, sampai sulit sekali membedakan huruf. Meski sulit untuk memusatkan perhatian, Annelia menjelaskan, bukan berarti anak itu hiperaktif atau ADHD.

"Sulit untuk mengahapal huruf itu kondisi di mana anak ketukar antara huruf BDPGEMNW. Pun dengan angka 5 dan huruf S. Sesuatu yang membuat kita bermakna, bakal dianggap oleh mereka sebagai kode rahasia yang harus dipecahkan," kata Anne menambahkan.

Mengapa anak-anak yang mengalami ketidakmampuan belajar dikatakan anak yang pintar? Sebab, saat dilakukan tes, tak jarang ditemukan anak-anak itu memiliki IQ di atas rata-rata normal, yaitu 125 sampai 130. Yang mana, IQ normal berada pada skala 90 sampai 110. "Sebenarnya, kondisi yang membuatnya frustasi. Dia tahu, ada yang menahan dalam otaknya sehingga dia tidak bisa untuk melakukannya," kata dia menerangkan.

Untuk mengetahui ketidakmampuan belajar pada anak, orangtua dapat melakukan skrining ketika anak berusia 5 tahun. Usia di mana seorang anak mencicipi masa-masa indah di bangku taman kanak-kanak (TK). Atau, paling lambat saat anak memasuki sekolah dasar (SD). Jika kondisi itu cepat terdeteksi, itu akan bagus untuk tumbuh dan kembangnya di masa depan.

Anne menjelaskan, bila telat dalam melakukan skrining, takutnya anak akan berada pada kondisi di mana gangguan awalnya adalah learning disability, tapi karena mengalami berbagai kesulitan, anak menjadi frustasi dan mengalami gangguan emosi.

"Bayangkan saja, kalau dari kelas satu sudah mengalami kesulitan dan baru disadari saat anak berada di kelas 6, berapa lama ketahannya? Justru itu membuat anak menjadi kasihan. Alangkah baiknya, untuk cepat melakukan skrining, maka akan semakin bagus," kata dia menjelaskan.

"Bukan berarti sudah besar baru ketahuannya, si anak tidak ada masa depannya. Tidak begitu. Semuanya masih bisa `dibetulkan`," kata Anne menambahkan.

Untuk memperbaikinya, si buah hati harus melakukan terapi. Karena gangguan yang dialaminya terjadi di prosesing, maka terapi wajib yang harus dilakukan adalah sensoring integrasi. "Karena itu akan memperbaiki berbagai prosesing di otak," kata Anne menerangkan.

Selain itu, ada pula terapi edukasi dan terapi ortopedagogi. Di mana terapi itu akan mengajari anak cara belajar sesuai proses di otaknya.

Untuk pasien yang duduk di bangku SMA dan perkuliahan, terang dia, masih bisa didampingi dengan pengenalan cara kerja dari otaknya sendiri. Nantinya, para terapis akan mengajarkan bagaimana cara agar anak itu mampu melakukan sesuatu sesuai kemampuan otaknya.

Waspadai keterlambatan bicara

Terkait ketidakmampuan seorang anak dalam belajar, Anne mengatakan bahwa orangtua harus waspada bila menemukan buah hatinya mengalami kesulitan dalam berbicara. Ternyata, bagian otak yang mengatur kemampuan anak untuk berbicara, akan digunakan untuk belajar ketika anak besar.

Jadi, kalau ada riwayat keterlambatan dalam berbicara, orangtua harus waspada. Bahkan, Anne juga menyebutkan, sebuah penelitian menemukan bahwa 50 persen anak yang mengalami keterlambatan bicara, akan mengalami ketidakmampuan dalam belajar.

"Karena, semua itu kembali ke otak kita," kata Anne menerangkan.

Suatu hari Anne pernah menerima pasien seorang anak yang duduk di kelas 1 dan 2 SD. Ciri-cirinya, pasien itu mengalami kesulitan belajar. Tapi, setelah ditelusuri lebih mendalam, anak itu juga mengalami keterlambatan dalam berbicara.

Dijelaskan Anne, bisa saja keterlambatan berbicara pada anak ini merupakan faktor genetik. Biasanya, anak yang mengalami keterlambatan berbicara, ayah, om atau salah satu anggota keluarganya yang mengalami hal yang sama.

"Meski faktor genetik itu ada, apakah dapat diturunkan atau tidak, masih terus dicari kebenarannya. Di dunia saja, kondisi seperti ini masih terus dipelajari," kata Anne.

Namun sayang, di Indonesia masih belum banyak yang mempelajari ini. Karena, kata dia, orang Indonesia sangat `malas` bisa berhubungan langsung dengan otak.

"Seolah-olah, kalau hubungannya dengan otak, ya, sudah begitu saja. Masa bodoh gitu. Padahal, bila ditangani dengan cepat, masih banyak yang dapat kita lakukan untuk itu," kata Anne menekankan. (Adt/Igw)