Presiden Korea Selatan Ajak Korea Utara Berdialog Pasca Ledakan di DMZ

Korsel dan Korut secara teknis masih berada dalam kondisi perang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 18:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung pada Kamis (1/10/2026) menyerukan Korea Utara (Korut) untuk kembali membuka dialog, sehari setelah militer Seoul menuntut permintaan maaf atas ledakan di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka parah.

Tiga perwira Korea Selatan mengalami luka parah akibat ledakan pada 21 September di DMZ, kawasan penyangga yang dipenuhi ranjau dan memisahkan kedua Korea sejak gencatan senjata 1953. Salah satu korban kehilangan satu kaki.

Sehari sebelumnya, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar di pemerintahan, membantah bahwa Pyongyang berada di balik ledakan ranjau tersebut.

"Persoalan dalam hubungan antar-Korea sangat rumit. Namun, kami akan terus berupaya dengan sabar untuk mengurainya satu per satu," kata Lee dalam pidatonya memperingati Hari Angkatan Bersenjata Korea Selatan pada Kamis, seperti dilaporkan CNA.

"Saya berharap Korea Utara kini mau bergabung bersama kami dalam upaya memulihkan kepercayaan dan kembali berdialog setelah lama terhenti."

Militer Korea Selatan sehari sebelumnya menuntut permintaan maaf dari Korea Utara. Seoul menyebut insiden itu sebagai "pelanggaran nyata terhadap Perjanjian Gencatan Senjata dan merusak semangat kesepakatan antar-Korea yang telah ada".

Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) yang dipimpin Amerika Serikat (AS) juga mengatakan pada Rabu bahwa hasil penyelidikan bersama militer Korea Selatan menemukan "ranjau antipersonel aktif milik Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) di wilayah Korea Selatan, tepatnya di sisi selatan Garis Demarkasi Militer".

"Berdasarkan hasil penyelidikan, UNC menyimpulkan telah terjadi pelanggaran terhadap Perjanjian Gencatan Senjata," kata UNC, memperkuat pernyataan yang sebelumnya disampaikan Seoul.

Namun, adik Kim Jong Un menyebut tudingan Korea Selatan itu "rendahan dan kotor". Ia menuduh Seoul berusaha merekayasa bukti setelah menyalahkan Korea Utara atas insiden tersebut.

"Kami tidak akan tinggal diam melihat tindakan bermusuhan yang menimbulkan kekhawatiran besar di kawasan perbatasan," katanya.

 

Pengeras Suara

Sejak berkuasa pada Juni 2025, Presiden Lee mengambil pendekatan berbeda dari pendahulunya, Yoon Suk Yeol, yang dikenal lebih keras terhadap Korea Utara. Lee menawarkan pembicaraan tanpa prasyarat kepada Pyongyang yang memiliki senjata nuklir.

Bulan lalu, Lee mengatakan Washington sebaiknya mendorong pembekuan program nuklir Korea Utara, alih-alih langsung menuntut penghapusan program tersebut, dengan menawarkan pelonggaran sanksi sebagai imbalan.

Pendekatan terbaru Presiden AS Donald Trump kepada Pyongyang memunculkan kekhawatiran bahwa Seoul, yang merupakan sekutu Washington, dapat tersisih jika pembicaraan nuklir dengan Korea Utara kembali digelar. Selain didukung China, Pyongyang kini juga semakin dekat dengan Rusia.

Sejumlah pakar mengusulkan agar Korea Selatan kembali menyiarkan musik K-pop melalui pengeras suara ke arah Korea Utara sebagai salah satu bentuk respons. Pyongyang selama ini sangat menentang siaran semacam itu.

Namun, pakar lain menilai Seoul tidak memiliki banyak pilihan untuk membalas tanpa semakin membebani warga di kawasan perbatasan yang sudah harus menghadapi berbagai gangguan dan ancaman keamanan.

Dalam periode ketegangan antar-Korea sebelumnya, Pyongyang pernah menerbangkan balon-balon berisi sampah melintasi perbatasan serta menyiarkan suara-suara aneh dan mengganggu ke wilayah Korea Selatan.

Yang Moo-jin, mantan presiden University of North Korean Studies di Seoul, mengatakan kepada AFP bahwa pidato Lee kemungkinan ditujukan untuk membuka kembali komunikasi dan membahas berbagai persoalan antara kedua negara.

"Untuk berdialog, harus ada saluran komunikasi. Setelah komunikasi melalui saluran itu berjalan, persoalan-persoalan tersebut dapat dibahas dan langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa terulang dapat diambil," kata Yang.