Trump Ancam Penjarakan Jurnalis Pembocor Operasi Penyelamatan Pilot di Iran

Mengapa Trump tidak memperbolehkan jurnalis AS membocorkan operasi penyelamatan pilot di Iran?

Diterbitkan 07 April 2026, 11:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (6/4/2026) mengancam akan memenjarakan jurnalis yang pertama kali melaporkan keberhasilan penyelamatan seorang pilot militer AS di Iran, jika mereka menolak mengungkap sumber informasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara pemerintah dan media. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dilaporkan kerap mengeluhkan pemberitaan terkait konflik AS-Israel di Iran yang dinilainya terlalu negatif, bahkan secara terbuka mengkritik sejumlah organisasi media.

Insiden ini bermula setelah sebuah jet tempur AS ditembak jatuh di wilayah Iran pada Jumat lalu. Sejumlah media kemudian melaporkan bahwa satu dari dua pilot di dalam pesawat tersebut berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat militer AS, dikutip dari laman Japan Today, Selasa (7/4).

Trump menilai publikasi informasi itu berpotensi membahayakan operasi penyelamatan pilot kedua yang saat itu masih berlangsung, meskipun pada akhirnya pilot tersebut juga berhasil dievakuasi dengan selamat.

“Kami tidak membicarakan yang pertama selama satu jam. Lalu seseorang membocorkannya, dan kami akan menemukan siapa pelakunya,” ujar Trump. “Kami akan mendatangi perusahaan media yang mempublikasikannya dan mengatakan, ‘Demi keamanan nasional, berikan informasinya atau masuk penjara.’”

Trump tidak menyebut secara spesifik media atau jurnalis yang dimaksud. Namun, beberapa outlet seperti The New York Times, CBS News, dan Axios diketahui termasuk di antara yang pertama melaporkan penyelamatan pilot tersebut.

Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan klarifikasi lebih lanjut terkait pihak media yang menjadi sasaran ancaman tersebut.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap media, Ketua Komisi Komunikasi Federal (FCC) Brendan Carr sebelumnya juga memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa penyiar yang menayangkan “berita palsu” memiliki kesempatan untuk “memperbaiki arah” sebelum masa perpanjangan lisensi mereka berakhir. Pernyataan itu merujuk pada unggahan Trump di platform Truth Social yang menuding media arus utama ingin melihat AS kalah dalam perang.

Langkah terbaru Trump ini diperkirakan akan memicu kekhawatiran baru terkait kebebasan pers dan perlindungan sumber jurnalistik di Amerika Serikat.