Berdandan Ala Peaky Blinders, 4 Pemuda Afghanistan Ditangkap Polisi Moral Taliban

Keempat pemuda ini ditangkap dan akan masuk program rehabilitasi dari polisi Taliban.

Diterbitkan 11 Desember 2025, 16:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kabul - Empat pemuda di Provinsi Herat, Afghanistan, ditahan otoritas Taliban setelah berjalan-jalan di ruang publik dengan mengenakan kostum ala serial Inggris “Peaky Blinders”.

Mereka kemudian dimasukkan ke dalam program “rehabilitasi” karena dianggap mempromosikan budaya asing, dikutip dari laman CBS News, Kamis (11/12/2025).

Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan Taliban menyatakan para pemuda itu—yang dikenal di kota Jibrail karena sering tampil dengan mantel panjang dan topi datar—dinilai meniru aktor film Barat dan melanggar nilai budaya Islam.

“Mereka mempromosikan budaya asing dan meniru aktor film di Herat. Program rehabilitasi dimulai untuk mereka,” ujar juru bicara kementerian, Saif-ur-Islam Khyber, dalam unggahan di media sosial, Minggu.

Namun kepada CBS News, Selasa, Khyber menyebut mereka “tidak ditangkap secara resmi”, melainkan hanya dipanggil, diberi nasihat, lalu dibebaskan. Ia menegaskan pakaian ala karakter Shelby itu “tidak mencerminkan identitas Afghanistan”.

“Pakaian mereka tidak sesuai dengan budaya kami… Jika ingin meniru panutan, kita harus mengikuti pendahulu agama yang saleh,” katanya.

Keempat pemuda—Asghar Husinai, Jalil Yaqoobi, Ashore Akbari, dan Daud Rasa—belakangan populer di media sosial Afghanistan. Video dan foto mereka berjalan bersama dalam kostum “Peaky Blinders” beredar luas sebelum penahanan terjadi.

Dalam wawancara dengan kanal YouTube lokal pada akhir November, mereka mengatakan hanya mengagumi gaya busana serial tersebut dan mendapat sambutan positif dari warga. “Orang-orang menghentikan kami di jalan untuk berfoto,” kata Yaqoobi.

 

 

Dianggap Bertentangan dengan Ajaran Agama

Namun Taliban menilai gaya berpakaian itu “bertentangan dengan nilai Islam dan budaya Afghanistan”. Sebuah video yang dirilis kementerian bahkan memuat rekaman suara salah satu pemuda yang menyatakan penyesalan.

“Saya tidak sadar telah menyebarkan hal-hal yang bertentangan dengan Syariah… Saya telah berhenti,” ujar suara yang tidak diungkap identitasnya.

Seorang teman dekat mereka menyebut tindakan Taliban tersebut “konyol”. “Teman kami hanya bersenang-senang… tetapi polisi agama Taliban menahan mereka. Sekarang mereka di balik jeruji,” katanya kepada CBS News.

Insiden ini terjadi di tengah pengetatan aturan sosial oleh Taliban sejak kembali berkuasa pada 2021, termasuk pembatasan ekstrem terhadap perempuan, penegakan aturan berpakaian, dan penindakan terhadap perilaku yang dianggap tidak Islami.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Taliban juga mengumumkan penangkapan dua dukun jalanan di Balkh karena praktik yang disebut bertentangan dengan hukum Syariah.