Pemilik Rumah di China Tolak Pindah, Proyek Kereta Api Senilai Rp87 Triliun Tertunda 2 Tahun

Mengapa sang pemilik rumah bersikeras tidak mau pindah?

Diterbitkan 17 September 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Seorang pemilik rumah di Provinsi Jiangsu, China, jadi perbincangan luas karena rumahnya yang membandel di tengah pembangunan infrastruktur.

Tindakan sang pemilik rumah membuat proyek pembangunan rel kereta cepat senilai 38 miliar yuan atau senilai Rp87 triliun selama dua tahun.

Alasannya, ia menolak pindah kecuali dibayar miliaran dolar untuk rumah sederhana miliknya.

Proyek kereta cepat yang menghubungkan Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai mulai dibangun pada 2020, dilansir dari Oddity Central, Rabu (16/9/2025).

Proyek ini mencakup pembangunan rel dan infrastruktur penunjang sepanjang 163,54 km yang hampir rampung dalam hitungan tahun.

Namun, ada satu rumah di Jiangsu yang menolak direlokasi. Pemiliknya tidak mau pindah sebelum pemerintah memenuhi tuntutan kompensasi dengan harga tinggi.

Akibat kebuntuan itu, pemerintah akhirnya membangun jembatan rel di sisi kanan dan kiri rumah tersebut, hingga membuatnya terisolasi.

Seharusnya, jalur kereta cepat itu diresmikan pada 2024. Namun karena sikap pemilik rumah yang keras kepala, peresmian resmi pun tertunda.

Awalnya ia menuntut 100 ribu yuan (Rp228 juta) per meter persegi, jauh di atas aturan resmi pemerintah.

Bahkan, sempat melipatgandakan tuntutannya hingga 200 ribu yuan (Rp456 juta) per meter persegi.

Proyek Akhirnya Berjalan

Pemilik rumah yang dijuluki "Bibi Zhang" ini yakin bisa mendapat tawaran lebih besar daripada tetangganya.

Ia menolak tawaran pemerintah yang sebenarnya cukup besar, yakni 5 juta yuan (Rp11 miliar) ditambah tiga unit rumah dengan ukuran serupa.

Pemerintah tidak bisa begitu saja menghentikan proyek bernilai 38 miliar yuan hanya karena satu rumah, tetapi pembangunan jalur kereta pun sempat tertunda dua tahun.

Sementara itu, foto dan video drone rumah tersebut menjadi berita nasional di China.

Tekanan media membuat Bibi Zhang stres berat hingga menderita neurasthenia. Pada akhirnya, ia menyerah dan menyatakan setuju menerima tawaran pemerintah sesuai aturan resmi.

Dengan begitu, rumah paling membandel di Jiangsu itu tidak lagi menghalangi jalannya pembangunan kereta cepat raksasa tersebut.