Petunjuk Misteri Bom Boston: Panci Presto Penyok!

2 pertanyaan terus mengusik aparat keamanan: siapa yang melakukan, dan mengapa? Belum jelas juga apakah pelaku teroris dalam negeri atau jaringan internasional.

Diterbitkan 18 April 2013, 00:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Teror bom di ajang Boston Marathon masih diliputi misteri. Padahal sebelumnya, hanya dalam hitungan hari setelah teror bom Oklahoma 19 April 1995 yang menewaskan 168 orang, aparat telah menemukan terangkanya: Timothy McVeigh. Pun dalam aksi teror terhebat dalam sejarah AS, 9/11, hanya perlu dua hari bagi penyelidik untuk fokus ke Al Qaeda.

Kini, saat orang-orang meratapi kepergian tiga korban tewas, sementara puluhan yang terluka  masih dirawat di rumah sakit, dua pertanyaan terus mengusik aparat keamanan: siapa yang melakukan serangan, dan mengapa?

Bahkan untuk investigatior ulung, mereka belum bisa menentukan apakah serangan Senin kemarin dilakukan teroris domestik atau luar negeri.

Menurut mantan Asisten Direktur FBI, Tom Fuentes, bisa jadi ini dilakukan teroris dari Timur Tengah atau teroris dalam negeri seperti  Eric Rudolp, pelaku teror Olimpiade Atlanta 1996. "Aku condong pada keduanya. Aku telah melakukan penyelidikan di Irak juga AS," kata dia. "(Serangan)  ini memiliki ciri dan keunggulan dari keduanya -- domestik dan internasional," kata dia seperti dimuat CNN, Rabu (17/4/2013).

Siapa persis yang melakukannya, sendirian atau bagian dari kelompok memang masih jadi misteri besar. "Kami benar-benar tidak tahu, apakah ini ancaman teror dari pelaku domestik atau internasional --  bagian dari konspirasi yang lebih luas," kata politisi Partai republik, Michael McCaul, anggota Komisi Keamanan Dalam Negeri.

Panci Presto Penyok

Dua bom, yang meledak nyaris bersamaan, hanya dalam jeda waktu 12 detik. Salah satunya berupa panci presto yang disembunyikan di dalam tas ransel. Demikian ungkap FBI dan Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) dalam buletinnya, Joint Intelligence Bulletin.

Dalam gambar yang dimuat dalam buletin tersebut, terlihat sisa-sisa tas ransel, sirkuit pemicu ledakan bom pada pukul 10.17 waktu setempat, dan potongan logam.

Sementara, bom kedua juga ditempatkan dalam wadah dari logam. Namun, tak cukup bukti untuk menyimpulkan apakah itu juga berupa panci presto.

Agen khusus FBI, Richard DesLauriers dalam konferensi pers mengatakan, potongan nilon ditemukan di lokasi kejadian. Juga fragmen diduga paku, peluru senapan angin BB, dan gotri  atau pelet-- bulatan lebih kecil dari kelereng yang terbuat dari logam, yang diduga ditempatkan di dalam panci presto.

Benda-benda mencurigakan itu dikirim ke laboratorium FBI di Virginia, di mana para teknisi akan berusaha merekonstruksi alat tersebut. "Investigasi baru dalam tahap awal. Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Berbagai kemungkinan soal tersangka dan motif masih terbuka lebar," kata dia seperti dimuat BBC.

DesLauriers meminta masyarakat berpartisipasi, melaporkan siapapun yang menemukan petunjuk mencurigakan. "Seseorang pasti punya petunjuk soal siapa yang melakukan ini," DesLauriers. "Kerjasama masyarakat memainkan peran penting dalam penyelidikan."

Deslauriers meminta masyarakat untuk melaporkan siapa saja yang berbicara tentang rencana menjadikan ajang Boston Marathon sebagai target, atau menunjukkan minat soal bahan peledak.

Juga siapapun yang mungkin mendengar suara ledakan di daerah terpencil -- diduga ditimbulkan seseorang yang sedang menguji bom, atau melihat seseorang membawa "sebuah barang yang luar biasa berat, atau tas berwarna gelap" di sekitar lokasi dan waktu kejadian.

Pemerintah AS di masa lalu telah memperingatkan para agen federal bahwa panci presto -- panci kedap utara yang membuat masakan mudah masak -- bisa disulap jadi bahan peledak.

Apalagi, diketahui, panci presto kerap digunakan jaringan teroris Al Qaeda. Bahkan pernah dimuat dalam majalah organisasi itu, Inspire, dalam artikel berjudul  "Make a bomb in the kitchen of your Mom" -- cara membuat bom di dapur ibumu.

Menurut laporan intelijen, bahan peledak dengan menggunakan panci bertekanan tinggi juga jamak ditemukan di Afghanistan, India, Nepal, dan Pakistan.

Petunjuk juga ditemukan di tubuh para korban. Dr George Velmahos, kepala perawatan trauma di Massachusetts General Hospital, mengatakan tim medisnya menemukan barang-barang seperti pelet dan benda-benda mirip paku dalam tubuh pasien. "Banyak. Ada orang yang memiliki 10, 20, 30, 40 potongan logam itu dalam tubuh mereka. Bahkan lebih," kata dia.

Di tempat terpisah, insiden ledakan di Boston diakui Komisaris Ed Davis sebagai "tempat kejadian perkara yang paling kompleks yang pernah ditangani kepolisian setempat sepanjang sejarah."

Aparat berwenang kini masih mengkaji 2.000 petunjuk, tak terhitung banyaknya foto dan video yang diambil dari lokasi, sembari terus minta bantuan publik untuk memberikan petunjuk apapun untuk menemukan pelaku. (Baca juga: Teori Konspirasi Bom Boston Merebak: Ada Pria Misterius di Atap!)

3 Korban Terkonfirmasi

Siapapun pelaku teror di Boston Marathon, ia telah membangkitkan "horor" teror di benak masyarakat AS. Juga merenggut 3 nyawa tak berdosa

Korban pertama adalah Martin Richard. Bocah 8 tahun itu kebetulan berdiri di garis finis menonton perlombaan Boston Marathon bersama keluarganya. Luka parah yang ia derita membuat nyawanya melayang.

Sementara, Sang Ibu,  Denise (43) seorang pustakawan sekolah dalam kondisi kritis. Ia mengalami luka parah dan harus menjalani operasi otak. Sementara adik perempuannya, Jane, yang baru berusia 6 tahun kehilangan satu kakinya. Kakak Martin, Henry (12) dan ayahnya Bill (42) selamat -- meski psikologis mereka terguncang hebat.

Korban kedua adalah Krystle Campbell (29), seorang manajer restoran. Kala itu ia bersama  temannya, Karen Rand di dekat garis finis -- untuk menyambut pacar Karen yang ikut lomba lari.

Tragisnya, ayahnya, William Campbell, selama 12 jam yakin bahwa para dokter di Massachusetts General Hospital sedang mengoperasi putrinya.

Saat dokter mengizinkan William dan istrinta menjenguk pasien, mereka terkejut bukan kepalang. Sebab, pasien tersebut adalah Karen, bukan anak mereka. Panik pun melanda. Sejam kemudian, sejumlah detektif datang dan menunjukkan korban tewas yang ternyata adalah Krystle.

"Aku nyaris pingsan," kata sang ayah seperti dimuat Daily Mail. Ternyata saat kejadian  Krystle membawa KTP milik Karen.

Belakangan, identitas korban ketiga akhirnya terungkap, ia adalah gadis 23 tahun bernama Lu Lingzi. Ia tak hanya cantik, mahasiswa pascasarjana Boston University itu adalah sosok cerdas yang bernyali mengejar impiannya sampai Amerika Serikat.

Korban datang ke ajang Boston Marathon bersama Zhou Danling, mahasiswi ilmu aktuaria di Boston University -- yang sempat mengalami koma saat dirawat di Boston Medical Center, namun kabar terakhir ia menunjukkan tanda-tanda kondisinya membaik. Meski belum bisa bicara, Danling sudah bisa berkomunikasi dengan pena dan kertas. (Ein)