Sukses

Selandia Baru Usulkan Pengenaan Pajak pada Sendawa Sapi

Liputan6.com, Auckland - Pemerintah Selandia Baru pada Selasa (11/10) mengusulkan pengenaan pajak atas gas rumah kaca yang dihasilkan hewan ternak dari bersendawa dan buang air kecil sebagai bagian dari rencana untuk mengatasi perubahan iklim.

Pemerintah mengatakan retribusi pertanian tersebut akan menjadi yang pertama di dunia, dan bahwa petani harus dapat menutup biaya dengan membebankan lebih banyak untuk produk ramah iklim, dikutip dari VOA Indonesia, Kamis (13/10/2022).

Namun para petani dengan cepat mengutuk rencana tersebut. Federasi Petani, kelompok utama industri, mengatakan rencana itu akan "menghancurkan kota kecil Selandia Baru” dan membuat lahan pertanian di negara itu akan berganti dengan pohon.

Presiden Federasi Petani Andrew Hoggard mengatakan para petani telah berusaha bekerja sama dengan pemerintah selama lebih dari dua tahun dalam rencana pengurangan emisi yang tidak akan menurunkan produksi pangan.

Anggota parlemen oposisi dari Partai ACT yang konservatif mengatakan rencana itu sebenarnya akan meningkatkan emisi di seluruh dunia dengan memindahkan pertanian ke negara lain yang kurang efisien dalam membuat makanan.

Industri pertanian Selandia Baru sangat penting bagi perekonomiannya. Produk susu, termasuk yang digunakan untuk membuat susu formula di China, adalah penghasil ekspor terbesar negara itu.

Negara tersebut hanya berpenduduk lima juta orang, tetapi memiliki sekitar 10 juta sapi dan sapi perah dan 26 juta domba.

Industri pertanian yang besar telah membuat Selandia Baru menjadi unik karena sekitar setengah dari emisi gas rumah kacanya berasal dari pertanian. Hewan ternak menghasilkan gas yang menghangatkan planet ini, terutama metana dari sendawa ternak dan nitrous oxide dari urin mereka.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan hasil pajak dari retribusi pertanian yang diusulkan itu akan digunakan untuk mendanai teknologi baru, penelitian dan pembayaran insentif bagi petani.

“Petani Selandia Baru akan menjadi yang pertama di dunia untuk mengurangi emisi pertanian, memposisikan pasar ekspor terbesar kami untuk keunggulan kompetitif yang membawa dunia semakin cerdas tentang asal makanan mereka,” kata Ardern.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Kentut Sapi Ternyata Bisa Ancaman Kondisi Bumi

Kentut sapi atau seperti disebut sebagao emisi bovine, merupakan bagian penting yang mengancam eksistensi bagi manusia.

Ancaman itu dikenal sebagai perubahan iklim dan didorong oleh berbagai aktivitas manusia di Bumi.

Memelihara ternak untuk daging adalah salah satu kegiatan yang sering luput dari perhatian, namun menyumbang 18 persen dari emisi gas rumah kaca global.

Inilah sejumlah alasan mengapa Anda harus peduli dengan sendawa dan kentut sapi yang berkaitan dengan perubahan iklim.

1. Kentut Sapi Mengandung Metana

Hal yang paling mengkhawatirkan dari saluran pencernaan sapi adalah metana.

Meskipun karbon dioksida adalah penyebab utama perubahan iklim, metana 84 kali lebih kuat dalam hal memerangkap panas di atmosfer.

Selain itu, emisi metana menyebar ke udara dengan cepat, menciptakan efek pemanasan yang lebih cepat daripada gas rumah kaca lainnya.

 

3 dari 3 halaman

2. Kentut Sapi dan Hujan Asam

Secara teknis, sebagian besar emisi juga berasal dari sendawa sapi. Sendawa dan kentut bertanggung jawab atas dua pertiga dari amonia yang dilepaskan ke udara.

Amoniak bersifat racun bagi hewan air, berbahaya bagi tanah yang subur, dan berperan penting dalam mengangkut polutan penyebab hujan asam ke atmosfer.

3. Tak Hanya Kentut, Daging Sapi Punya Jejak Karbon

Daging sapi memiliki jejak karbon lebih besar per pon daripada daging populer lainnya: dua kali lebih besar dari domba, enam kali lebih besar dari babi, dan tujuh kali lebih besar dari ayam.

Menurut sebuah penelitian, memproduksi satu kilogram (2,2 pon) daging sapi memiliki efek yang sama terhadap lingkungan seperti mengendarai mobil sejauh 155 mil.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS