Sukses

Mar-a-Lago Rumah Donald Trump Digerebek, Surat Kim Jong-un hingga Barack Obama Ditemukan

Liputan6.com, Palm Beach - Surat Kim Jong-un disebut telah ditemukan di rumah Donald Trump yang digeledah FBI. Kediaman Donald Trump, Mar-a-Lago digeledah karena perkara dokumen-dokumen rahasia. 

Menurut laporan New York Post, Rabu (10/6/2022), ada 12 dus yang diambil FBI. Penggeledahan itu membuat Donald Trump kesal karena dianggap ada politisasi. 

Wall Street Journal menyebut sejumlah dokumen yang diambil termasuk surat dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Ketika menjabat sebagai presiden, Donald Trump kerap saling menghina dengan Kim Jong-un via Twitter, namun hubungan keduanya menghangat dan Trump berkunjung ke Korea Utara pada 2019. 

Ada pula ternyata surat dari Mantan Presiden Barack Obama. Uniknya, ada juga jadwal, memo, hingga menu ulang tahun yang ikut disita. Totalnya ada sekitar 100 halaman dokumen yang disita.

Fox News melaporkan bahwa FBI meminta surat penggeledahan karena pihak Donald Trump dirasa tidak kooperatif seperti sebelumnya. Para investigator percaya masih ada dokumen-dokumen rahasia lain yang berada di kediaman Trump. 

Ketika penggeledahan terjadi, Donald Trump sedang berada di New York. Eric Trump, anak ketiga Trump, memberitahukan ayahnya bahwa FBI menggeledah Mar-a-Lago. 

Pihak Trump menyebut lawan politiknya takut jika Donald Trump kembali maju pada pilpres AS 2024. Hingga kini, Donald Trump masih belum memberikan konfirmasi apakah ia akan mencoba jadi presiden lagi, namun ia sering melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai daerah untuk bertemu para simpatisannya.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Partai Republik Tak Terima

Partai Republik marah dan mantan Presiden Donald Trump menuntut penjelasan atas serangan FBI di rumahnya di Florida, Mar-a-Lago.

Dikutip BBC, Rabu (10/8), FBI dan Departemen Kehakiman belum mengomentari pencarian tersebut, yang diungkapkan Trump pada Senin malam. 

Partai Republik menggambarkan pencarian itu bermotif politik, dengan tokoh-tokoh terkemuka menuntut penjelasan dan penjelasan dari Jaksa Agung Merrick Garland, kepala Departemen Kehakiman (DoJ).

Mantan Wakil Presiden Trump, Mike Pence, yang secara halus menjauhkan diri di tengah spekulasi bahwa mereka berdua dapat meluncurkan pencalonan Gedung Putih 2024, meminta jaksa agung untuk memberikan "pertanggungjawaban penuh" tentang mengapa surat perintah penggeledahan dilakukan.

"Tidak ada mantan Presiden Amerika Serikat yang pernah menjadi sasaran penggerebekan kediaman pribadi mereka dalam sejarah Amerika," tulisnya di Twitter.

Sekutu Trump di Kongres, sementara itu, berjanji untuk meluncurkan penyelidikan jika mereka memenangkan kembali kendali Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat dalam pemilihan paruh waktu November, ketika keseimbangan kekuasaan di Washington akan diputuskan.

Sementara banyak Demokrat menyambut penggerebekan itu, yang lain bergabung dengan seruan agar Departemen Kehakiman memberikan lebih banyak informasi. Beberapa menyuarakan kekhawatiran bahwa hal itu dapat meningkatkan dukungan untuk mantan presiden.

"Ini bisa sangat berguna baginya karena banyak orang berkumpul di sekelilingnya selama ini," Dave Aronberg, pengacara negara bagian untuk Palm Beach, tempat Mar-a-Lago bermarkas, mengatakan kepada BBC. 

"Trump akan menggunakan ini untuk mendapatkan kembali status martirnya."

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Usai Digeledah FBI, Donald Trump Sindir Joe Biden Pakai Isu Inflasi

Rumah Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Florida digeledah FBI pada Senin (9/8/2022). Target FBI adalah Mar-a-Lago yang dijuluki "Gedung Putih Musim Dingin" karena rumah itu selalu dikunjungi Presiden Trump ketika musim dingin.

Penggeledahan yang dilakukan FBI disebut langkah politik karena lawannya takut ia akan mengumumkan maju sebagai presiden di 2024.  

Fox News, Selasa (9/8), melaporkan bahwa penggeledahan itu terkait hal-hal yang Donald Trump bawa setelah selesai menjabat sebagai Presiden.

Usai penggeledahan FBI, Donald Trump juga merilis video di media sosial Truth miliknya. Pada video itu, Donald Trump menyorot aksi Rusia dan mengkritik Presiden AS Joe Biden. 

"Kita adalah negara yang merosot. Kita adalah negara gagal. Kita negara yang memiliki inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir," ujar Donald Trump dalam video tersebut. 

Trump juga berkata negaranya kini harus "mengemis kepada Venezuela dan Arab Saudi untuk mendapat minyak" dan "negara yang menyerah di Afghanistan."

Di pemerintahan Joe Biden, inflasi di AS memang sedang meroket ke atas 9 persen dan ekonomi sedang resesi. Terkait masalah minyak, Joe Biden juga baru-baru ini berkunjung ke Arab Saudi dan bertemu Pangeran Mohammed bin Salman untuk membahas minyak. 

Kabar penggeledahan di FBI terkuak usai diumumkan langsung oleh Donald Trump. Ia menyebut kejadian itu sebagia "hari yang gelap" karena ia menganggap ada politisasi.

"Sebuah serangan dari Demokrat Radikal Kiri yang dengan putus asa tak mau saya maju sebagai Presiden di 2024, terutama berdasarkan polling baru-baru ini, dan mereka akan melakukan segalanya untuk menyetop Republik dan Konservatif di Pemilu Midterm mendatang," tulis Donald Trump dalam pernyataan resminya.

4 dari 4 halaman

Masalah Hukum Trump

Pada Mei lalu, pengadilan banding negara bagian memutuskan bahwa mantan presiden AS Donald Trump harus menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah sumpah, dalam penyelidikan perdata negara bagian New York ke dalam sejumlah praktik bisnisnya.

Mengutip VOA Indonesia, Jumat (27/6), satu panel yang terdiri dari empat hakim di divisi naik banding dari pengadilan negara bagian itu pada Kamis 26 Mei 2022 mempertahankan keputusan Hakim Manhattan Arthur Engoron yang keluar pada pada 17 Februari lalu, untuk memberlakukan subpoena atau surat perintah menghadap bagi Trump dan dua anaknya untuk memberi kesaksian kepada tim penyelidik dari Jaksa Agung New York Letitia James.

Trump sebelumnya sudah mengajukan banding dan berusaha membatalkan keputusan tersebut.

Pengacaranya berkilah bahwa perintah memberi kesaksian untuk keluarga Trump melanggar hak konstitusional mereka, karena jawaban mereka dapat digunakan dalam penyelidikan kejahatan yang juga sedang berlangsung. 

Donald Trump Tuntut Hillary Clinton, Tuding Berkonspirasi Rusak Kampanye Pilpres 2016

Sebelumnya, mantan Presiden Donald Trump mengajukan gugatan federal yang luas pada Kamis 25 Maret 2022 terhadap Hillary Clinton, Komite Nasional Demokrat dan 26 orang serta entitas lain yang ia klaim berkonspirasi untuk merusak kampanye Pilpres 2016 dengan mengaikatkannya secara palsu ke Rusia.

Mengutip CNN, Jumat 25 Maret 2022, gugatan itu menyebutkan sejumlah besar karakter yang dituduh Donald Trump selama bertahun-tahun mengatur konspirasi "negara dalam" terhadapnya - termasuk mantan Direktur FBI James Comey dan pejabat FBI lainnya, pensiunan mata-mata Inggris Christopher Steele dan rekan-rekannya, dan segelintir orang. penasihat kampanye Clinton.

"Dengan kedok 'penelitian oposisi,' 'analisis data,' dan strategi politik lainnya, para Tergugat dengan kejam berusaha mempengaruhi kepercayaan publik," kata gugatan yang diajukan di pengadilan federal di Florida. "Mereka bekerja sama dengan satu tujuan, melayani diri sendiri: menjelek-jelekkan Donald J. Trump."

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS