Sukses

Eijkman: New Normal di Indonesia Bukan Herd Immunity Ala Swedia

Liputan6.com, Stockholm - Indonesia sedang bersiap memasuki periode new normal. Rencana ini menuai polemik di media sosial karena banyak masyarakat yang menolak. 

Penilaian yang berkembang adalah new normal di Indonesia dinilai sama dengan herd immunity seperti yang dilakukan Swedia. Saat ini, kematian di Swedia adalah yang tertinggi di Eropa Utara.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio, menyatakan herd immunity memang bisa kontroversial. Namun, ia memastikan new normal di Indonesia tidak sama dengan herd immunity.

"Kalau pemahaman saya, herd immunity itu secara umum di mana 70 persen atau lebih masyarakat sudah punya kekebalan. Bagaimana mencapai itu? Ada yang caranya melalui vaksinasi ada yang caranya natural, secara alami. Alami itu juga beda-beda. Ada yang dengan sengaja menceburkan orang-orang ke situasi masih banyak virus, itu yang tidak dibenarkan," ujar Amin kepada Liputan6.com, Kamis (28/5/2020).

"Saya yakin bukan itu (herd immunity) saat ini (di Indonesia)," ia menjelaskan. 

Amin berkata, herd immunity bisa memiliki tujuan yang baik, tetapi ia tidak setuju dengan strategi ala Swedia. 

"Bukan seperti yang dilakukan Swedia di mana masyarakatnya betul-betul dilepas, dibebaskan, itu bukan cara yang elegan," ujarnya. 

Ia berkata cara yang benar agar masyarakat kebal di tengah new normal adalah dengan hidup sehat. Caranya bisa dengan minum vitamin dan rutin memakai masker.

Pemerintah pun diminta konsisten mengingatkan masyarakat agar patuh, serta gesit mendeteksi jika ada kasus corona saat new normal.

"Jadi kalau kita melakukan kehidupan new normal, berarti kita diberi kesempatan melakukan aktivitas, kesempatan produktif, tetapi kita melaksanakannya dengan menjaga agar kita sehat, agar kita tidak sakit, walaupun kita hidup berdampingan dengan virus tadi," pungkasnya. 

Baca juga: Herd Immunity di Swedia Gagal Lawan Corona COVID-19? Ini Datanya 

2 dari 3 halaman

Kriteria New Normal

Pemerintah mengungkap empat provinsi yang sedang bersiap memasuki era new normal yakni, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Gorontalo. Kota-kota seperti Tangerang, Surabaya, dan Pekanbaru juga termasuk. 

Penerapan era new normal hanya akan diterapkan di provinsi dan kabupaten/kota yang indeks penularan virus corona (R0) sudah di bawah satu.

"Nanti juga akan kita mulai untuk  tatanan baru ini kita coba di beberapa provinsi kabupaten dan kota yang memiliki R0 di bawah satu," ujar Jokowi saat memimpin rapat terbatas melalui video conference.

Dia menjelaskan penerapan kebijakan new normal di suatu daerah bergantung pada R0 dan Rt yang sudah menurun.

Jika R0 kurang dari satu, maka rata-rata orang yang terinfeksi akan menularkan kurang dari 1 orang. Sebaliknya, apabila R0 diatas satu maka masih ada penyebaran virus corona.

"Persiapan pelaksanaan tatanan normal baru yang akan kita lihat dari angka-angka dan fakta-fakta di lapangan utamanya yang berkaitan dengan R0 dan Rt," jelas Jokowi.

Jika penerapan new normal di 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota tersebut efektif, maka akan diperluas ke daerah-daerah lainnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: