Sukses

Pakar Beberkan Bahaya Herd Immunity Hadapi Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Wabah penyakit akibat infeksi virus akan hilang ketika mayoritas populasi kebal, dan individu berisiko terlindungi oleh populasi umum. Dengan begitu virus akan sulit menemukan host atau inang untuk menumpang hidup dan berkembang. Kondisi itu disebut dengan Herd Immunity atau kekebalan kelompok.

Menurut pakar epidemiologi Universitas Padjajaran (Unpad), Panji Fortuna Hadisoemarto, secara teori, kalau suatu penyakit menular sudah menginfeksi sejumlah tertentu di suatu kelompok masyarakat, otomatis herd immnunity terbentuk.

"Dengan asumsi infeksinya akan menimbulkan kekebalan," jelas Panji kepada Liputan6.com, Minggu (5/4/2020).

Namun sebelum kekebalan ini terbentuk, lanjut Panji, mayoritas kelompok masyarakat mesti terinfeksi terlebih dahulu. Semakin menularkan suatu penyakit, semakin banyak penduduk yang terinfeksi sebelum terbentuknya herd immunity.

Panji menjelaskan, kekebalan kelompok diterapkan pada suatu populasi yang tak menerapkan karantina wilayah maupun intervensi lain yang menjegal laju penyebaranaan virus. Jadi virus dibiarkan menginfeksi ke seluruh kelompok masyarakat sampai terbentuk herd immunity dengan sendirinya.

Panji menyebut, jika hal itu dilakukan di Indonesia dalam konteks wabah Covid-19 ini, maka 75 persen penduduk Indonesia terinfeksi virus Corona. Hal itu dengan catatan pemerintah tidak melakukan intervensi apa-apa, termasuk karantina wilayah dan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB).

"Apa pun yang bisa menurunkan penularan. PSBB pun bisa menurunkan penularan, tapi mungkin tidak cukup untuk 'menghentikan' penularan," papar Panji.

Panji pun memprediksi bahwa jika kelompok besar masyarakat Indonesia sudah terinfeksi, maka persentase angka kematiannya tak sebesar seperti saat ini yang mencapai sekitar delapan persen. Namun secara nominal angkanya sangat jauh melambung.

"Kalau kematian dari yang terinfeksi akan jauh lebih kecil dari delapan persen, Mas. Yang dilaporkan sekarang kan hanya dari yang terdiagnosis dan dirawat di RS, artinya mereka yang sakitnya berat sampai sangat berat. Tapi dari sekian banyak yang terinfeksi, sebagian besar akan sakit ringan bahkan tidak bergejala," ungkapnya.

Panji mengasumsikan jika sebagian besar sudah terinfeksi, angka kematiannya berkisar antara satu sampai dua persen saja. Namun satu sampai dua persen dari total 75 persen penduduk Indonesia angkanya bukan main-main.

"Kalau dari yang terinfeksi mungkin 1-2 persen saja. Saya pikir 1,5-2,5 juta kematian kalau tidak ada intervensi itu angka yang reasonable," kata Panji.

 

2 dari 3 halaman

Puncak Mei

Angka tersebut bukanlah angka yang sedikit. Artinya jika pemerintah Indonesia tak melakukan intervensi laju penyebaran virus Corona, sekitar satu setengah hingga dua setengah juta penduduk Indonesia akan terbunuh karena virus ini.

Maka, lanjut Panji, cara paling efektif untuk menekan angka kematian itu dengan cara menurunkan jumlah kasus baru secara maksimal serta meningkatkan kesembuhan bagi yang sudah terinfeksi. Langkah ini dilakukan dengan cara melakukan isolasi dan karantina.

"Dan semoga nanti vaksin. Obat bisa meningkatkan dan mempercepat kesembuhan, artinya akan menurunkan penularan juga (karena masa penularan dipersingkat)," jelas Panji.

Dari pemodelan yang ia lihat, puncak kasus Covid-19 di Indonesia akan terjadi di bulan Mei nanti. Namun menurut dia, setiap daerah akan berbeda-beda mengalami puncak wabah ini.

"Saya rasa cukup reasonable. Tapi menurut saya puncak ini akan dialami di waktu yang berbeda, untuk wilayah yang berbeda di Indonesia. Jakarta akan mencapai puncak lebih cepat dari tempat lain karena mulainya juga lebih cepat," terangnya.

Terakhir, Panji pun berpesan agar pemerintah mendengarkan rekomendasi dari para ahli jika ingin terlepas dari mimpi buruk ini. "Tolong dengarkan masukan ahli. Soalnya sudah begitu banyak masukan, rasanya tidak didengar," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: