Sukses

10 Hari Lockdown, Kematian Akibat Corona COVID-19 Masih Membayangi Spanyol

Liputan6.com, Madrid - Jalanan di pusat kota dan bisnis Madrid benar-benar kosong. Kekosongan ini menandai hari ke-10 bagi ibu kota Spanyol tersebut menghentikan aktivitas di luar ruangan.

Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan lockdown guna menekan angka penyebaran Virus Corona COVID-19.

Satu-satunya tanda-tanda kehidupan adalah mereka yang datang dan pergi di rumah sakit terdekat di mana lima orang lainnya meninggal dalam semalam, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu (25/3/2020).

Epidemi COVID-19 telah menghantam keras di kota berpenduduk 6,5 juta yang biasanya ramai ini.

Yang terdengar kini bukan klakson mobil, melainkan suara alarm ambulans. Sejauh ini Spanyol telah kehilangan 2.696 orang karena virus tersebut, dengan 60 persen kematian di Madrid dan wilayah sekitarnya.

Di gerbang rumah sakit universitas La Paz di utara kota, anggota staf sedang menurunkan lusinan botol oksigen ketika para dokter yang mengenakan topeng dan sarung tangan.

"Sebuah tenda dibuka sejak kemarin untuk kemungkinan pasien VirusĀ Corona COVID-19 dan mereka yang memiliki gejala ringan," jelas seorang juru bicara.

"Staf kami siap bekerja. Kami sudah mendapatkan baju dan masker pelindung," tambahnya.

Pekan lalu, seorang perawat berusia 52 tahun di Negara Basque utara meninggal, menjadi korban Corona COVID-19 pertama di antara petugas kesehatan.

"Ini mengingatkan bahwa kita sangat terancam," kata Del Barrio yang pasangannya adalah seorang perawat yang telah dites positif dan berada di rumah di karantina.

"Jumlah tempat tidur telah berkurang banyak karena pemotongan anggaran selama krisis ekonomi," kata Del Barrio, seorang anggota serikat pekerja.

"Dan sekarang ini kita benar-benar kehilangan semua perawat dan dokter yang pergi bekerja di luar negeri."

2 dari 3 halaman

Pemerintah Spanyol Dinilai Lambat Tangani Corona COVID-19

Mantan Gelandang Real Madrid, Ivan Campo mengkritik keras pemerintah Spanyol terkait pandemi Virus Corona COVID-19. Campo menilai pemerintah Spanyol lambat.

"Setiap hari semakin buruk, karena mereka tidak solid dan kompeten," ujar Campo seperti dilansir Sportskeeda.

Virus Corona COVID-19 telah menjadi pandemi dan menyebar ke seluruh dunia. Virus itu pertama kali ditemukan di Tiongkok, Desember tahun lalu.

Di Eropa, Italia menjadi negara terparah dengan jumlah korban jiwa mencapai 4.825 orang. Saat ini, menurut data New York Times, ada sekitar 59.138 kasus di sana.

Spanyol sendiri menempati urutan kedua di Eropa dengan 28.572 kasus. Dari jumlah itu, 1.720 orang meninggal dunia termasuk eks Presiden Real Madrid, Lorenzo Sanz.

Campo menilai, pemerintah Spanyol terus berbohong terkait pandemi virus corona. Menurut pria asal Meksiko itu, pemerintah Spanyol juga kurang komunikatif.

"Saya mendengar Perdana Menteri memperpanjang masa darurat karena virus corona hingga 15 hari sejak hari ini (Senin, red)" kata Campo.

"Tetapi apakah mereka membuat jumpa pers kemairn dan dapatkah mereka menyampaikannya kepada rakyat?" katanya lagi.

Lebih lanjut, Campo juga mengirim ucapan duka kepada keluarga Sanz. Ia menilai, Sanz merupakan sosok Presiden yang peduli kepada para pemain.

"Terima kasih telah menjaga dan membantu saya seperti keluarga sendiri dalam masa sulit itu," kata Campo.

Campo bermain bagi Real Madrid pada 1998 hingga 2003. Sementara, Sanz menjadi Presiden pada 1995 hingga 2000.

Selama bermain baig Real Madrid, Campo mempersembahkan 1 trofi Liga Spanyol, 2 trofi Liga Champions, dan 1 trofi Interkontinental.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Muncul Kasus Hantavirus di China, Lebih Mematikan dari Corona COVID-19?
Artikel Selanjutnya
Angka Kematian di Italia Akibat Corona COVID-19 Bertambah 743 Orang