Sukses

Ilmuwan: Virus Corona COVID-19 Berasal dari Alam, Bukan Buatan Manusia

Liputan6.com, Jakarta Amerika Serikat dan China sempat saling tuding soal asal usul pandemi Corona COVID-19. Presiden Donald Trump menyebutnya sebagai 'Chinese Virus' alias virus dari Tiongkok.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian bikin geger saat mengatakan, "bisa jadi US Army atau tentara AS yang membawa epidemi itu ke Wuhan".

Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, Nature Medicine mematahkan anggapan China maupun kubu Donald Trump, sekaligus membantah teori konspirasi yang menyebut virus pemicu COVID-19 atau SARS-CoV-2 adalah buatan manusia atau senjata biologis yang sengaja diciptakan.

Seperti dikutip dari situs www.sciencedaily.com, Rabu (18/3/2020), hasil analisis data publik terkait sekuens atau urutan genom (genome sequence) dari SARS-CoV-2 dan virus terkait tidak ditemukan bukti bahwa virus tersebut diciptakan di laboratorium.

"Dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang telah diketahui, kami meyakini bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses yang alami," kata Kristian Andersen PhD, associate professor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, yang menjadi salah satu penulis laporan studi tersebut.

Selain Andersen, sejumlah ilmuwan lain juga ikut andil dalam studi dan penulisan makalah berjudul, 'The proximal origin of SARS-CoV-2' itu. Termasuk, Robert F. Garry dari Tulane University, Edward Holmes dari University of Sydney, Andrew Rambaut dari University of Edinburgh, dan W. Ian Lipkin dari Columbia University.

Virus Corona (coronavirus) adalah keluarga besar (famili) virus yang dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang luas.

Meski telah dikategorisasi pada 1960-an, penyakit parah pertama yang diketahui disebabkan oleh Virus Corona adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mulai menjadi epidemi di China pada 2003.

Sementara, penyakit kedua yang mewabah adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang bermula di Arab Saudi pada 2012.

Dan, pada 31 Desember 2019, pihak berwenang China memberitahukan pada Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai wabah virus corona baru yang menyebabkan penyakit parah, yang kemudian dinamai SARS-CoV-2.

Hingga kini, virus tersebut memicu pandemi COVID-19 yang menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Hingga Rabu 18 Maret 2020 pukul 18.33, tercatat ada 201.530 kasus positif Virus Corona, 8.007 pasien meninggal dunia, dan 82.034 lainnya pulih. Kasus meluas karena penularan bisa terjadi antar-manusia.

Tak lama setelah epidemi terjadi, para ilmuwan China mengurutkan genom SARS-CoV-2 dan menyediakan data bagi para peneliti di seluruh dunia.

Andersen dan para koleganya menggunakan data sekuens tersebut untuk mengeksplorasi asal mula dan evolusi SARS-CoV-2 dengan fokus ke sejumlah fitur khas virus tersebut.

Para ilmuwan menganalisis pola genetik (genetic template) protein lonjakan (spike proteins), armature atau pelindung di bagian luar virus yang digunakannya untuk menangkap dan menembus dinding luar sel manusia dan hewan.

Lebih khusus, mereka berfokus pada dua fitur penting dari protein lonjakan: domain pengikat reseptor atau receptor-binding domain (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang, dan cleavage site yang memungkinkan virus untuk membuka celah dan memasukkan sel inang.

 

2 dari 2 halaman

Bukti Asal Usul COVID-19

Para ilmuwan menemukan bahwa bagian RBD dari protein lonjakan SARS-CoV-2 telah berevolusi sehingga bisa efektif menargetkan fitur molekuler di bagian luar sel manusia yang disebut ACE2 -- reseptor yang terlibat dalam pengaturan tekanan darah.

Protein lonjakan SARS-CoV-2 nyatanya sangat efektif untuk mengikat sel-sel manusia. Dari situ, para ilmuwan menyimpulkan, itu adalah hasil seleksi alam dan bukan produk rekayasa genetika.

Bukti evolusi alami ini didukung oleh data tulang punggung (backbone) SARS-CoV-2, yakni struktur molekul keseluruhannya.

Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, misalnya, mereka harus membuatnya dari backbone virus yang diketahui bisa menyebabkan penyakit.

Namun, para ilmuwan menemukan bahwa backbone milik SARS-CoV-2 berbeda secara substansial dengan yang ada pada virus corona lain, yang telah dikenal sebelumnya, dan kebanyakan menyerupai virus terkait yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

"Kedua fitur virus, mutasi pada bagian RBD dari protein lonjakan dan backbone yang berbeda mengesampingkan dugaan manipulasi laboratorium sebagai potensi asal SARS-CoV-2," kata Andersen.

Temuan Andersen dan koleganya disambut baik Josie Golding, PhD, pemimpin bagian epidemi Wellcome Trust, yang berpusat di Inggris.

Ia menyebut, temuan tersebut sangat krisial dengan menghadirkan pendapat berbasis bukti untuk menepis rumor yang beredar tentang asal-usul virus SARS-CoV-2 yang memicu pandemi COVID-19.

Jadi, dari mana virus pemicu COVID-19 berasal?

Menurut ilmuwan, berdasarkan analisis urutan genom, ada dua kemungkinan,

Pertama, virus berevolusi ke kondisi patogen saat ini melalui seleksi alam di inang non-manusia dan kemudian melompat ke manusia.

Proses itu mirip dengan wabah Virus Corona yang terjadi sebelumnya, manusia terinfeksi virus setelah terpapar langsung dengan musang (SARS) dan unta (MERS).

Para peneliti menduga kelelawar sebagai reservoir yang paling mungkin untuk SARS-CoV-2. Namun, sejauh ini belum tercatat ada kasus transmisi langsung dari kelelawar ke manusia.