Sukses

Ilmuwan Menguak Alasan Virus Corona COVID-19 Menyebar dengan Cepat

Liputan6.com, Jakarta - Kasus Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia, hingga Minggu (15/3/2020), telah mencapai 156.396, dengan pasien sembuh sebanyak 73.966 orang. Sedangkan angka kematian akibat Virus Corona COVID-19 secara global, tercatat sebanyak 5.833 jiwa. 

Di tengah pandemi COVID-19, para peneliti menelusuri apa yang membuat virus ini menyebar dengan mudah hampir ke seluruh dunia. Sejumlah analisis genetik dan struktural telah mengidentifikasi fitur kunci dari virus --protein di permukaannya-- yang mungkin dapat menjelaskan mengapa COVID-19 menginfeksi sel manusia dengan mudah.

Kelompok lain sedang menyelidiki melalui pintu mana Virus Corona jenis baru ini menembus jaringan manusia -reseptor pada membran sel. Baik reseptor sel dan protein virus menawarkan target potensial bagi obat untuk memblokir patogen, tetapi para peneliti mengatakan itu masih terlalu dini dipastikan.

"Memahami penularan virus adalah kunci pembatasan dan pencegahan di masa depan," kata David Veesler, seorang ahli virologi struktural di Universitas Washington di Seattle, seperti dikutip dari laman Nature.

COVID-19 ini menyebar jauh lebih mudah dari pada Virus Corona lain penyebab SARS. Berikut ini penjelasan yang ditemukan para peneliti:

2 dari 5 halaman

1. Penyerbu Berduri

Untuk menginfeksi sel, Virus Corona baru ini menggunakan protein 'jarum' yang mengikat membran sel, suatu proses yang diaktifkan enzim sel tertentu. Analisis genom dari virus ini mengungkapkan lonjakan protein berbeda dari kerabat dekat, dan menunjukkan bahwa protein tersebut memiliki tempat di atasnya yang diaktifkan enzim sel inang yang disebut furin.

Ini penting karena furin ditemukan di banyak jaringan manusia, termasuk paru-paru, hati, dan usus kecil, yang berarti virus itu berpotensi menyerang banyak organ, kata Li Hua, seorang ahli biologi struktural di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong Wuhan, China.

Temuan ini dapat menjelaskan beberapa gejala yang diamati pada orang dengan Virus Corona, seperti gagal hati, kata Li, yang ikut menulis analisis genetik virus yang diunggah pada server pracetak ChinaXiv pada 23 Februari. SARS dan Virus Corona lain dalam genus yang sama dengan virus baru tidak memiliki situs aktivasi furin, katanya.

Ahli virus dari Universitas Cornell, Gary Whittaker mengatakan, tempat aktivasi furin "menempatkan virus sangat berbeda untuk SARS dalam hal masuknya ke dalam sel, dan mungkin mempengaruhi stabilitas virus dan penularan," jelasnya. Timnya menerbitkan analisis struktural lain dari lonjakan protein virus corona pada bioRxiv pada 18 Februari.

Beberapa kelompok lain juga telah mengidentifikasi tempat aktivasi yang memungkinkan virus menyebar secara efisien di antara manusia.

3 dari 5 halaman

2. 10 Kali Lebih Kuat

Tim Li juga melihat molekul yang bisa menghalangi furin, yang bisa diselidiki sebagai terapi yang memungkinkan. Tetapi penelitian terkendala wabah yang semakin meluas. Li tinggal di kampus dan saat ini dia satu-satunya anggota yang dapat mengakses laboratorium timnya.

Kelompok McLellan di Texas telah mengidentifikasi fitur lain yang dapat menjelaskan mengapa virus corona baru sangat sukses menginfeksi sel manusia. Eksperimen mereka telah menunjukkan bahwa lonjakan protein terikat dengan reseptor pada sel manusia - dikenal sebagai angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) - setidaknya sepuluh kali lebih kuat daripada lonjakan protein pada virus SARS.

Tim Veesler juga menemukan lonjakan protein terikat dengan afinitas tinggi terhadap reseptor ACE2, yang menunjukkan reseptor adalah target potensial lain untuk vaksin atau terapi. Misalnya, obat yang menghambat reseptor mungkin membuat virus corona lebih sulit menembus sel.

4 dari 5 halaman

3. Tak Dapat Diprediksi

Tetapi beberapa peneliti berhati-hati terkait bagaimana peran tempat atau situs aktivasi dalam mendorong penyebaran virus corona dengan lebih mudah.

"Kami tidak tahu apakah ini akan menjadi masalah besar atau tidak," kata Jason McLellan, seorang ahli biologi struktural di Universitas Texas.

Whittaker mengatakan studi dalam model sel atau hewan diperlukan untuk menguji fungsi situs aktivasi.

"Virus corona tidak dapat diprediksi, dan hipotesis yang baik sering berubah menjadi salah," katanya.

 

Reporter: Hari Ariyanti

Sumber: Merdeka.com

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: