Sukses

Kisah Calon Kuat PM Malaysia Petik Nilai Kepemimpinan dari BJ Habibie

Liputan6.com, Jakarta - "Saya dan Pak Habibie sejatinya berbeda," kata Anwar Ibrahim, mantan eks-wakil perdana menteri Malaysia mengenang hubungannya dengan Presiden ke-3 Indonesia tersebut.

"Dia teknokrat, ilmuwan. Saya gerakan mahasiswa, pejuang rakyat. Jadi lain," lanjutnya.

Tapi perbedaan-perbedaan itu tak membatasi Anwar untuk memiliki relasi yang dekat dengan BJ Habibie.

"Kami bisa berbicara panjang tentang apapun, sains, politik, negara dan dunia," kata Anwar.

"Kerap kali saya kalah dengan Habibie jika berdebat dengannya. Tapi ketika saya kalah, saya naikkan nada suara saya bak aktivis pada umumnya," ujar Anwar sambil tertawa.

Anwar bercerita tentang hubungannya dengan Habibie ketika bertakziah ke kediaman sang mendiang presiden RI di Patra Kuningan, Jakarta pada Rabu 9 Oktober 2019 malam.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Anwar Ibrahim memberikan tausiah pengalaman dengan almarhum Presiden ke-3 RI BJ Habibie di Patra Kuningan, Jakarta, Rabu (9/10/2019). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Lawatan anggota parlemen Malaysia dari Parti Keadilan Rakyat Malaysia (PKR) itu bertepatan dengan tahlilan malam ke-28 sejak meninggalnya Presiden Habibie pada 11 September 2019.

Keduanya telah berhubungan dekat sejak Habibie masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi RI. Hubungan itu berlanjut hingga Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 RI dan kemudian, Presiden ke-3 RI menggantikan Presiden Soeharto yang dilengserkan.

Anwar Ibrahim mengatakan, kedekatan keduanya bahkan seperti hubungan kakak-adik.

Saat Anwar mengalami "masa sulit" --dicopot sebagai wakil perdana menteri oleh PM Mahathir Mohammad, memimpin gerakan Reformasi yang beroposisi Mahathir dan dipenjara pada 1999-2004 atas tuduhan homoseksual-- Habibie memberikan dukungan kepadanya.

"Saat Habibie mendengar kondisi saat itu, beliau melakukan langkah diplomatik dengan menghubungi Perdana Menteri (Mahathir) dan mengatakan, 'jangan apa-apakan adik saya'," ingatnya.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Anwar Ibrahim diterima putra Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Thareq Kemal Habibie saat tiba di Patra Kuningan, Jakarta, Rabu (9/10/2019). Kedatangan Anwar untuk takziah atas wafatnya Habibie. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Anwar pun mengingat, sambungan komunikasi itu, ditambah dengan hubungan bilateral RI - Malaysia periode 1999-2000-an yang memang tengah menegang akibat sejumlah isu --seperti sengketa perbatasan hingga TKI-- semakin memperkeruh keadaan kedua negara.

Politikus Malaysia itu dibebaskan pada 2004. Namun, ia kemudian dipenjara lagi pada 2015 atas jeratan skandal homoseksual yang menimpanya pada 2008.

Pada masa itu, hubungan Anwar dan Habibie tetap erat. Bahkan Habibie menaruh empati yang begitu besar saat politikus Malaysia itu hendak dipenjara.

Anwar menghirup udara bebas dari penjara setelag diberikan pengampunan penuh oleh Raja Malaysia pada 16 Mei 2018 dan segera setelah itu, ia suwun ke rumah Habibie empat hari setelahnya pada 20 Mei 2018.

Bagi Anwar Ibrahim, semua hal itu menunjukkan apa yang ia sebut sebagai "kedekatan intim antara kedua pemimpin" dan justru bisa memberikan sumbangsih positif bagi kedua negara jika dimanfaatkan dengan baik.

"Jika dapat kita teruskan hubungan intim begini di antara pemimpin-pemimpin, maka senantiasa, permasalahan-permasalahan antar negara itu bisa diselesaikan," ujarnya yang menggarisbawahi hubungan kedua negara kini telah sangat jauh lebih baik dibanding masa-masa lalu.

2 dari 3 halaman

Memetik Nilai-Nilai Kepemimpinan dari Habibie

"Bagi saya Pak Habibie tidak dikenal sebagai seorang politikus biasa," jelas Anwar membuka penjelasannya ketika ditanya oleh jurnalis mengenai nilai-nilai kepemimpinan apa yang bisa dipetik dari mendiang Presiden ke-3 RI itu.

"Dia teknokrat, negarawan, ilmuwan, salah satu yang terhebat bahkan."

"Kepemimpinannya digerakkan oleh hati nurani dan keikhlasan. Sikapnya yang patut dicontoh adalah kepemimpinannya yang mengedapankan nilai-nilai manusiawi, kebebasan politik, demokrasi dan memenuhi agenda Reformasi," kata politikus Malaysia yang juga merupakan pemimpin gerakan Reformasi Malaysia 1999.

Tetapi, nilai paling mendasar yang bisa dicontoh dari Habibie adalah "bagaimana ia bisa memadukan secara apik, nilai teknokrat, sains dengan religiusitas dan spiritualitasnya."

"Nilai-Nilai itu adalah hal langka bagi pemimpin-pemimpin masa kini, yang justru patut mereka contoh dari Habibie."

"Dimensi yang biasa kita temui pada sosok-sosok seperti kyai, ternyata muncul dari dalam diri seseorang yang merupakan teknokrat dan ilmuwan andal."

Dan tak lupa, kata Anwar, "adalah bagaimana Habibie sangat menjunjung tinggi nilai kasih keluarga. Bagaimana ia begitu mencintai Ainun dan anak-anaknya, itulah yang sangat saya kenang."

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Indonesia dan Malaysia Setuju Gunakan Drone untuk Pantau Perbatasan
Artikel Selanjutnya
Reaksi Miss Malaysia Gagal Menang Kostum Terbaik Miss Universe 2019