Sukses

Video Baru Titanic Kuak Mikroba Laut yang Menggerogoti Bangkai Kapal Ini

Liputan6.com, London - Lokasi tenggelamnya kapal RMS Titanic telah dikunjungi manusia untuk pertama kalinya setelah hampir 15 tahun terakhir tak terjamah. Para penjelajah bawah laut memeriksa keadaan terkini dari kapal legendaris tersebut yang karam di Samudra Atlantik.

Berkarat di kedalaman 3.810 meter (sekitar 12.500 kaki) di lepas pantai Newfoundland, Kanada, kapal paling termasyhur dalam sejarah ini sudah mengalami pelapukan parah, menurut tim eksplorasi.

Bertujuan untuk mempelajari dan merekam sisa-sisa kapal untuk film dokumenter, para ahli dan ilmuwan yang mengorganisir ekspedisi tersebut terkejut karena menyaksikan bangkai Titanic membusuk, di dua bagian kapal yang terbelah dan karam di dua tempat yang berbeda dengan jarak ratusan meter.

"Aspek yang paling menarik dari ekspedisi ini adalah melihat bagaimana Titanic 'dikonsumsi' oleh lautan dan kembali ke bentuk unsurnya, sembari menyediakan perlindungan bagi sejumlah hewan laut yang sangat beragam," kata presiden Triton Submarines, Patrick Lahey.

Bangkai Titanic yang direkam oleh tim penjelajah bawah laut Triton Submarines. (Screengrab video Atlantic Production)

Kru dari Triton Submarines melakukan lima kali penyelaman pada awal Agustus 2019, dengan menggunakan Faktor Pembatas (Limiting Factor) depth submergence vehicle (DSV), memfilmkan Titanic dalam resolusi tinggi 4K untuk pertama kalinya dan tiga dimensi (3D).

Terekspos pusaran arus di dasar laut, Titanic perlahan-lahan terkoyak oleh korosi garam dan bakteri pemakan logam.

"Ada mikroba di bangkai kapal yang menggerogoti besi bangkai Titanic, menciptakan struktur rusticle, bentuk logam yang jauh lebih lemah," ujar ilmuwan ekspedisi dan peneliti lingkungan laut Clare Fitzsimmons dari Newcastle University di Inggris.

Bintik-bintik (rusticle) ini semakin larut menjadi fragmen-fragmen yang lebih halus, akhirnya berubah menjadi bubuk yang dapat tersapu oleh arus samudera.

Karena hal tersebut, para ahli memperkirakan bahwa seluruh bangkai kapal mungkin bakal lenyap pada 2030 atau tidak lama setelah itu. Sementara itu, mikroba yang melahap Titanic tidak meninggalkan apa-apa, selain noda karat di dasar Atlantik.

"Area pelapukan yang paling mengejutkan adalah sisi kanan tempat tinggal petugas, di mana sang kapten berada," tutur sejarawan Titanic, Parks Stephenson, seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (22/8/2019).

"Gambar bak mandi si kapten adalah favoritnya para penggemar Titanic, dan sekarang tempat tersebut sudah hilang. Seluruh lubang dek di sisi itu runtuh, bersamaan dengan kabin-kabin. Kerusakannya akan terus berlanjut."

2 dari 4 halaman

Nama Bakteri

Salah seorang ilmuwan dalam ekspedisi penyelaman tersebut, Lori Johnson, mengatakan: "Masa depan bangkai Titanic akan terus memburuk dari waktu ke waktu, ini adalah proses natural."

Ia menambahkan: "Baketeri tersebut adalah jenis bakteri alami. Proses kerusakan akhirnya menjadi sedikit lebih cepat karena adanya sekelompok bakteri, komunitas yang bekerja secara simbolis untuk makan zat besi dan belerang."

Bakteri yang dinamai Halomonas titanicae ini, pertama kali dikumpulkan pada tahun 1991, pada formasi karat seperti es, tetapi tidak diidentifikasi sampai 2010. Mikroorganisme tersebut bahkan dapat bertahan hidup pada tekanan kuat di air yang pekat.

3 dari 4 halaman

Penghormatan Terakhir

Saat mengunjungi situs tersebut, tim ekspedisi meletakkan karangan bunga untuk menghormati 1.500 orang (penumpang dan awak) yang tewas dalam tragedi tenggelamnya Titanic pada 1912.

Selain video beresolusi tinggi, para ilmuwan ekspedisi mensurvei kecelakaan yang menimpa Titanic dengan menggunakan teknik fotogrametri, yang di masa depan akan memungkinkan rekreasi 3D Titanic dalam virtual dan augmented reality.

Untuk generasi mendatang, rekonstruksi buatan ini akan menjadi satu-satunya cara untuk menyaksikan warisan fisik salah satu bencana laut paling mematikan di dunia.

"Kecelakaan itu sendiri adalah satu-satunya sumber yang bisa kita dapatkan tentang Titanic," kata sejarawan maritim Robert Blyth dari National Maritime Museum di Inggris, yang tidak terlibat dengan ekspedisi itu.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Tragedi Kabut Asap
Loading
Artikel Selanjutnya
Pejabat Militer AS: Video Penampakan Diduga UFO Itu Ternyata UAP
Artikel Selanjutnya
Jangan Buang Daun Jambu Biji, Ini 5 Manfaat dan Khasiatnya