Sukses

Meski Tidak Dijual, Potensi Greenland Sangatlah 'Mahal'

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini memiliki gagasan kontroversial. Ia ingin membeli Greenland. Keinginan sang pemimpin nyentrik itu mungkin telah ditolak oleh Denmark, lapor AFP dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (17/8/2019).

Gagasan Trump untuk membeli Greenland, yang dilaporkan oleh Wall Street Journal pada Jumat, "bukanlah proposal yang serius", kata Heather Conley, seorang spesialis di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington. Meski demikian, Amerika Serikat memang telah membangun arktik sebagai bagian penting geostrategisnya.

Walaupun Greenland tidak dijual, wilayah itu sangat penting bagi pertahanan Amerika Serikat sejak Perang Dunia II, lapor AFP. Saat itu, wilayah itu digunakan sebagai basis untuk memantau kapal-kapal (termasuk kapal selam) Nazi yang melewati "Arctic Avenue," gerbang laut ke Atlantik utara.

Pada tahun 1943 Angkatan Udara Amerika Serikat membangun pangkalan udara paling utara di Thule, Greenland.

Thule sangat penting dalam Perang Dingin, garis pemantauan pertama terhadap potensi serangan Rusia. Dengan populasi 600 orang, pangkalan hari ini adalah bagian dari misi NATO, mengoperasikan pemantauan satelit dan sistem deteksi rudal strategis dan menangani ribuan penerbangan setahun.

"Sistem radar peringatan dini di Greenland utara membantu melindungi Amerika Utara dan merupakan bagian penting dari peralatan pertahanan rudal kami," kata Luke Coffey dari The Heritage Foundation.

"Untungnya AS dapat memastikan dan memenuhi kepentingan keamanannya dengan mempertahankan pangkalan udara ini di Greenland utara," lanjut sumber yang sama.

Selain potensi geostrategis, Greenland juga memiliki sumber daya alam yang belum dimanfaatkan seperti minyak, mineral, dan unsur-unsur tanah yang berharga di mana didambakan oleh China, Amerika Serikat, dan negara-negara teknologi utama lainnya.

2 dari 3 halaman

Jadi Rebutan Negara Besar

Conley mengatakan, setelah Perang Dingin surut pada 1990-an, Amerika Serikat sebenarnya telah berhenti memikirkan Arktik.

Namun, ketika lapisan es kutub mulai menyusut, Rusia menjadi lebih aktif dan Cina telah bergerak untuk melakukan pembangunan di daerah tersebut. 

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menggarisbawahi adanya minat AS dalam "melindungi" Greenland dalam pidato pada Mei lalu di Finlandia. Kali itu ia mengecam China dan Rusia karena "perilaku agresif" di Kutub Utara.

"Wilayah ini telah menjadi arena kekuatan dan persaingan global" karena cadangan minyak, gas, mineral, dan stok ikan yang sangat besar, ia memperingatkan.

"Hanya karena Kutub Utara adalah tempat hutan belantara bukan berarti itu harus menjadi tempat pelanggaran hukum," katanya.

Tetapi Washington belum mengambil banyak tindakan nyata, kata Conley. Pompeo hanya menawarkan bahwa Departemen Luar Negeri akan menempatkan diplomat di ibukota Greenland, Nuuk selama enam bulan dalam setahun.

"Retorika dan reaksinya - ada celah yang sangat besar," katanya.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Alasan Media AS Tak Rekomendasikan Bali dan Pulau Komodo Dikunjungi pada 2020
Artikel Selanjutnya
RI Tolak Tegas Niat AS Melanggengkan Permukiman Israel di Tepi Barat