Sukses

PBB: Produksi Kokain Dunia Mencapai Rekor Baru

Liputan6.com, Jakarta - Produksi kokain global mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada 2017, memecahkan rekor tahun sebelumnya sebesar 25 persen, demikian disampaikan oleh UN drugs and crime agency pada Rabu, 25 Juni 2019 dalam laporan tahunannya.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu (26/6/2019) Ladang-ladang baru dan kelompok pelaku kriminal meningkatkan produksi di pemasok utama dunia.

"Tentu saja itu berita buruk. Ini berita buruk bagi negara-negara penghasil. Apa yang terjadi di Kolpmbia mengkhawatirkan," kata Angela Me, kepala penelitian Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) yang berbasis di Wina.

Laporan itu mengatakan lonjakan produksi "terutama didorong oleh peningkatan produksi kokain di Kolombia, yang menghasilkan sekitar 70 persen dari kokain dunia".

Pada dekade hingga 2017, ada peningkatan 50 persen dalam manufaktur, mencapai rekor 1.976 ton dua tahun lalu, menurut laporan itu, yang mendasarkan angka-angkanya pada sistem pemantauan nasional.

Selama periode 10 tahun yang sama, jumlah kokain yang disita di seluruh dunia naik 74 persen.

Pada tahun 2017, pihak berwenang di seluruh dunia mencegat rekor jumlah obat: secara keseluruhan 1.275 ton disita, naik 13 persen tahun-ke-tahun.

"Ini menunjukkan bahwa upaya penegakan hukum menjadi lebih efektif dan memperkuat kerja sama internasional dapat membantu meningkatkan tingkat intersepsi," kata laporan itu.

Produksi kokain di beberapa daerah pusat Kolombia turun setelah perjanjian damai 2016 dengan mantan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, atau FARC, karena petani ditawari alternatif untuk menanam coca.

 

2 dari 2 halaman

Efek Kokain

Secara global sekitar 35 juta orang terkena dampak penyalahgunaan kokain hingga tahun 2017.

"Lebih banyak orang membutuhkan perawatan daripada yang kita pikirkan sebelumnya. Enam dari tujuh orang tidak menerima perawatan yang mereka butuhkan."

UNODC memperkirakan bahwa ada 53,4 juta pengguna kokain di seluruh dunia pada 2017, naik 56 persen dari perkiraan 2016 karena survei dari India dan Nigeria.

Loading