Sukses

Irak Temukan Kuburan Massal Korban Kekejaman Saddam Hussein

Liputan6.com, Bagdad - Presiden Irak Barham Salih mengatakan bahwa negaranya tidak boleh melupakan kejahatan Saddam Hussein, maupun membiarkan partainya kembali berkuasa.

Kalimat itu dinyatakan pada Minggu, 14 April 2019 setelah menghadiri penggalian kuburan massal warga etnis Kurdi yang dibunuh oleh pasukan Saddam pada tiga dasawarsa lalu.

 

Makam tersebut ditemukan di padang pasir sekitar 179 kilometer arah barat Kota Samawa, Irak. Dalam kuburan yang dimaksud terdapat sisa jenazah puluhan warga Kurdi yang "dihilangkan" oleh pasukan Saddam, kata kantor Salih, melansir VOA Indonesia pada Senin (15/4/2019).

Mereka adalah sebagian dari 180.000 orang yang mungkin telah terbunuh dalam kampanye "Anfal" yang dilancarkan Saddam. Kampanye itu secara khusus menargetkan warga etnis Kurdi Irak pada akhir 1980an, dengan konon turut menggunakan senjata kimia. Pada saat itu, desa-desa dibumihanguskan dan ribuan orang Kurdi dipaksa masuk ke kamp-kamp.

"Dia membunuh mereka karena mereka tidak bisa menerima kelanjutan rezim ini, karena mereka menginginkan kehidupan yang merdeka dan terhormat," kata Salih, seorang etnis Kurdi dalam konferensi pers di lokasi pemakaman.

"Dia juga membawa mereka ke Samawa untuk mengubur mereka. Tapi orang-orang kami di Samawa menerima mereka," tambah Salih

"Irak yang baru tidak boleh melupakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap sesame orang Irak dari seluruh kelompok," katanya.

2 dari 3 halaman

Tumbangnya Saddam Hussein

Kekuasaan Saddam Hussein tumbang pada 2003 setalah memimpin Irak selama hampir 24 tahun. Pelancar aksi kudeta saat itu adalah Koalisi Sekutu.

Tepat pada 9 April 2003, patung raksasa Saddam Hussein yang menjadi simbol kekuasaan, dihancurkan oleh sekutu.

Saat itu, sejumlah tank tempur Amerika Serikat turun ke kota Baghdad. Sekutu menghancurkan sejumlah simbol kekuasaan Saddam Hussein dengan palu godam. Seorang tentara AS merangsek ke bagian wajah patung raksasa Saddam, dan menutupi wajah patung dengan bendera Amerika Serikat. Namun kemudian bendera AS tersebut diganti dengan bendera Irak.

Sekelompok orang yang menjadi oposisi Saddam berkumpul di sekitar patung raksasa yang sedang ditumbangkan. Mereka kemudian ikut merusak pahatan batu tersebut sambil bernyanyi-nyanyi menggambarkan rasa bahagianya. Bagian kepala patung Saddam lalu diseret di jalan.

Hal serupa terjadi di sejumlah wilayah Irak lain. Patung-patung Sadam Hussein ditumbangkan dan dihancurkan tentara AS dan warga Irak yang meyakini bahwa kudeta terhadap Hussein adalah jalan terbaik.

Petinggi militer AS, Brigjen Vincent Brooks mengatakan, "rakyat Irak kini terbebas dari cengkeraman rezim Saddam Hussein. Satu per satu kita lucuti kekuasaannya." AS dan sekutu akan menarik pasukan setelah situasi Irak kondusif dan terpilihnya pemimpin baru.

3 dari 3 halaman

Divonis Mati

Sementara itu, Saddam Hussein kemudian divonis hukuman mati pada 5 November 2006. Sanksi pidana itu diberikan oleh Pengadilan Irak karena dinyatakan bersalah dan bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap ratusan warga Syiah.

Semasa menjabat sebagai Presiden dari 1979 sampai 2003, Saddam disebut menciptakan pemerintahan yang otoriter dan berupaya mempertahankan kekuasaannya melalui langkah perang, misalnya Perang Iran-Irak (1980–1988) dan Perang Teluk (1991).

Kedua perang itu menyebabkan penurunan drastis stabilitas negara, kesejahteraan, dan hak asasi manusia warga Irak. Pemerintahan Saddam dinilai menindas gerakan-gerakan yang dianggapnya mengancam, khususnya gerakan yang muncul dari kelompok-kelompok etnis atau keagamaan yang memperjuangan kemerdekaan atau pemerintahan otonom.

Pada waktu yang bersamaan, Saddam juga dianggap sebagian kalangan sebagai pahlawan yang terkenal di antara banyak bangsa Arab karena berani menantang Israel dan Amerika Serikat. Sementara, sebagian pihak internasional tetap melihat Saddam sebagai sebuah ancaman, terutama setelah Perang Teluk 1991.

Saddam pada akhirnya dieksekusi gantung pada 30 Desember 2006, tepat pada hari raya Idul Adha. Hingga saat ini, eksekusi Saddam masih menyisakan misteri.

Berdasarkan sejumlah rekaman video, eksekusi terhadap Saddam tidak dilakukan dengan benar. Dari video terlihat ada lubang tidak wajar di leher Saddam Hussein.

Sejarah lain mencatat pada 9 April 1999, Presiden Niger Ibrahim Baré Maïnassara dibunuh dalam upaya kudeta. Pada 9 April 2001, Presiden Abdurrahman Wahid menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif di Indonesia (Keppres nomor 19 tahun 2001).

Loading
Artikel Selanjutnya
Senang hingga Waspada, Ini Berbagai Tanggapan Dunia Atas Kekalahan ISIS
Artikel Selanjutnya
Meski ISIS Kalah Telak, Namun Pengaruh Pemimpinnya Diyakini Belum Lenyap