Sukses

Kisah WNI di Kuwait yang Rela Cuti Demi Nyoblos Pilpres 2019

Liputan6.com, Kuwait City - Salah satu diaspora Indonesia di Kuwait, Utary Suhardiman (25), menyempatkan diri untuk cuti kerja setengah hari demi mengikuti pemilihan umum di Kedutaan Besar RI di Kuwait City pada Jumat 12 April 2019.

Utary, pramugari maskapai Kuwait Jazeera Airways, yang dihubungi melalui pesan singkat di Jakarta, Sabtu, mengatakan ia telah meminta izin cuti setengah hari ke atasannya agar diizinkan pulang ke Kuwait saat pemilihan umum.

Satu hari sebelum pemilihan umum berlangsung, Utary mengatakan ia masih bertugas di Baku, Azerbaijan.

"Pagi saya terbang dari Baku ke Kuwait, untungnya masih dapat ikut pemilu,” kata Utary kepada Antara yang Liputan6.com kutip Sabtu (13/4/2019).

Utary mengaku sengaja meluangkan waktu untuk ikut pemilu karena memilih presiden dan anggota dewan merupakan hak sekaligus tanggung jawabnya sebagai warga negara Indonesia.

“Ini pertama kalinya saya memilih di luar negeri, jadi ikut pemilu ini bukti sikap cinta kepada Tanah Air,” kata dia di Kuwait.

2 dari 3 halaman

Pilpres 2019 RI di Belanda Digelar Hari Libur

Beda dengan Pilpres 2019 RI di Kuwait, pesta demokrasi Indonesia di Belanda dilangsungkan pada hari libur. WNI pun semakin antusias berpartisipasi.

Sebanyak 11.744 warga negara Indonesia (WNI) di Belanda menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres 2019. Demikian seperti disampaikan oleh Sekretariat Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Den Haag melalui pesan yang dikutip dari Antara.

Pilpres 2019 bagi masyarakat Indonesia di Belanda dilaksanakan pada Sabtu, 13 April 2019 dengan metode pemilihan datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan melalui pos, yang diikuti oleh 11.744 orang WNI.

Penetapan hari pemungutan suara di Belanda pada Sabtu, 13 April 2019, karena memperhatikan hari libur kerja atau sekolah/kuliah WNI di Belanda serta mempertimbangkan antusiasme WNI calon pemilih yang akan hadir di TPS pada pemilu serentak 2019. Sesuai peraturan KPU, pemilihan di luar negeri dapat dilakukan antara tanggal 8-14 April 2019, namun penghitungan suara dilakukan serentak pada 17 April 2019.

Di Den Haag, tersedia lima Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) dan dua TPS Pos. Sebanyak 9.700 calon pemilih akan hadir ke TPSLN Den Haag yang berlokasi di Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH), beralamat di Rijksstraatweg 679, 2245 CB Wassenaar.

Selain datang langsung ke TPSLN, sistem pemilihan juga dilakukan melalui pos bagi 2.044 WNI pemilih yang mengalami kesulitan untuk hadir ke TPSLN. PPLN Den Haag memberikan kesempatan mengirim kembali surat suaranya sebelum 17 April 2019 untuk dapat dihitung pada hari penghitungan.

Apabila surat suara tersebut baru tiba setelah 17 April 2019, maka surat suara tersebut tidak dapat dimasukkan dalam penghitungan.

Sebanyak 199 orang WNI yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap luar negeri (DPTLN), masuk sebagai Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) yang ditetapkan setelah PPLN mengesahkan DPT pada Desember 2018 yang lalu.

Selain itu, PPLN Den Haag telah mengindikasikan sebanyak 1.026 WNI di Belanda akan masuk ke dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).

3 dari 3 halaman

Antrean WNI Nyoblos Pilpres 2019 di Australia Picu Gangguan Lalu Lintas

Sementara itu, para ekspatriat Indonesia yang tinggal di Australia rela mengantre berjam-jam untuk berpartisipasi dalam Pilpres 2019. Menurut Komite Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Indonesia, sekitar 15.000 orang berbondong-bondong memberikan hak suara mereka di konsulat Indonesia di Melbourne.

Seperti diberitakan ABC.net.au, Sabtu (13/4/2019), ada sekitar dua juta pemilih Indonesia yang memenuhi syarat tinggal di luar negeri, termasuk 65.000 orang di Australia. Mereka memberikan suara beberapa hari sebelum Tanah Air mereka melangsungkan Pilpres 2019 pada Rabu 17 April.

Banyak orang Indonesia di Australia adalah pelajar dan merupakan pemilih untuk pertama kalinya.

Di antara mereka yang mengantre untuk memberikan hak suara pada hari Sabtu adalah Albert Witanto, seorang siswa di Melbourne. Ia menggambarkan pemilihan tahun ini sebagai "kompetisi yang sangat ketat, seperti ketika Trump berhadapan dengan Clinton".

Ini merupakan pemungutan suara pertama bagi pemuda 22 tahun itu, sehingga dirinya merasa gugup tentang hasilnya nanti. Selain itu, ia juga memiliki harapan tinggi untuk masa depan negaranya.

Siauw Exel Prasadhana Setiawan, siswa Indonesia lain di Melbourne, mengatakan ia dan keluarganya pada awalnya telah melakukan diskusi mendalam tentang apakah akan memilih atau tidak, karena kedua kandidat presiden memiliki kekurangan mereka sendiri.

Meskipun sangat tidak mungkin bahwa pemimpin negara Muslim terbesar di dunia dapat menyelesaikan semua masalah negara dalam jangka waktu lima tahun, Setiawan yang berada di salah satu negara bagian Australia itu menginginkan seorang pemimpin yang dapat mengatasi korupsi dan kelalaian pengelolaan lingkungan, serta meningkatkan perlindungan bagi kaum minoritas.

Di Melbourne, sejumlah besar pemilih menyebabkan gangguan lalu lintas di depan gedung konsulat. Garis pembatas terlihat membentang ratusan meter di luar bangunan tersebut.

Sebagian besar dari para pemilih, sekitar 2.000 orang kabarnya gagal mendaftar online sebelumnya. Mereka diminta mendaftar pada Sabtu pagi dan kembali untuk memberikan suara satu jam sebelum pemilihan ditutup pada pukul 19.00.

Anggraini Prawira, yang mendaftar secara online dan melewatkan antrean, mengatakan dia terkejut melihat kerumunan yang jauh lebih besar daripada pada Pilpres sebelumnya.

"Semua orang sangat antusias untuk datang dan melihat ... dan kami ingin memilih, kami menginginkan yang terbaik untuk Indonesia," kata Anggraini Prawira.

Pilpres 2019 ini menyebabkan perpecahan di antara orang Indonesia, karena pilihan politik yang berbeda-beda. Tetapi Prawira mengatakan dia berharap pemilihan akan berjalan damai dan hasilnya akan dihormati oleh semua pihak -- siapa pun yang menang.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Hal yang Dilakukan Prabowo pada Masa Tenang Pemilu 2019
Artikel Selanjutnya
Pilpres 2019 Jadi Ajang Kumpul WNI di Tanzania hingga Santap Menu Khas RI