Sukses

4 Penculik Sergap Turis AS di Uganda, Minta Tebusan Rp 7,1 Miliar

Liputan6.com, Kampala - Pasukan keamanan Uganda tengah memburu orang-orang bersenjata yang menculik seorang turis Amerika dan sopirnya di dalam taman nasional, dekat perbatasan dengan Republik Demokratik Kongo (DRC).

Empat penculik menghentikan sekelompok wisatawan di bawah todongan senjata pada Selasa 2 April 2019 senja waktu setempat, ketika mereka melewati taman nasional Ratu Elizabeth untuk melihat binatang liar.

Polisi Uganda mengidentifikasi orang Amerika itu sebagai wanita berusia 35 tahun, dan mengatakan para penculik kemudian menggunakan telepon genggamnya untuk menuntut uang tebusan US$ 500.000 atau sekitar Rp 7,1 miliar untuk pembebasan dua orang itu.

Pengemudi yang juga diculik adalah seorang pemandu safari pengalaman berusia 48 tahun. Ia telah bekerja di bidang itu selama bertahun-tahun.

"Para penculik, menggunakan telepon korban, menuntut US$ 500.000. Kami sangat yakin tebusan ini adalah alasan di balik penculikan itu," kata juru bicara kepolisian Polly Namaye seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (4/4/2019).

Dua wisatawan lain, yang digambarkan polisi sebagai "pasangan tua", juga berada di lokasi saat orang-orang bersenjata itu menyerang. Tetapi mereka tidak diculik atau dilukai secara fisik.

Mereka kemudian memberitahu pihak berwenang dari pondok tempat mereka tinggal.

"Serangan itu terjadi pada hari Selasa antara pukul 18.00 dan 19.00," kata polisi.

Sehari kemudian, tentara menyebar di sepanjang perbatasan dengan DRC, tetapi ketika malam tiba, polisi mengatakan mereka percaya para penculik masih berada di negara itu.

“Operasi gabungan oleh polisi Uganda, Pasukan Pertahanan Rakyat Uganda (UPDF) dan sipir Satwa Liar Uganda sedang berlangsung untuk menemukan dan menyelamatkan mereka,” kata juru bicara pemerintah, Ofwono Opondo, kepada AFP.

"Prioritas pada titik ini adalah untuk menemukan, menyelamatkan dan membawa mereka kembali ke tempat yang aman."

Pasukan perlindungan wisata Uganda juga telah mengerahkan unit khusus.

"Polisi telah mengirim pasukan elit dari polisi pariwisata untuk memperkuat tim keamanan di taman nasional Queen Elizabeth, untuk secara aktif mengejar sekelompok empat pria bersenjata yang tidak diketahui," kata Namaye.

"Tim keamanan gabungan telah memotong semua area keluar di perbatasan antara Uganda dan DRC untuk mencari para korban," tambahnya.

Taman nasional Queen Elizabeth adalah salah satu cagar alam margasatwa paling terkenal di negara Afrika timur, membentang di sepanjang perbatasan dengan daerah konflik DRC yang juga berbatasan dengan taman nasional Virunga yang tertua di Afrika.

Sejumlah kelompok milisi dan gerombolan bersenjata dikabarkan berkeliaran di DRC timur.

Pemerintah Virunga bahkan sempat menangguhkan semua kegiatan pariwisata tahun 2018 lalu setelah seorang ranger tewas dan dua turis Inggris diculik. Korban dan sopir dibebaskan dua hari setelah serangan itu.

Taman dibuka kembali pada bulan Februari; beberapa minggu kemudian, seorang ranger lain dilaporkan terbunuh.

Taman Uganda membentang di khatulistiwa, meliputi 1.978 km persegi (764 mil persegi) di barat daya negara itu. Berjarak sekitar 150 km (90 mil) utara dari taman nasional Bwindi Impenetrable, terkenal di kalangan wisatawan karena trekking gorila.

Uganda adalah rumah bagi lebih dari separuh gorila gunung yang terancam punah di dunia.

Saksikan juga video berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Penculikan Turis Sebelumnya

Pada tahun 1999, pemberontak Rwanda menewaskan delapan turis asing di sana. Hal itu memberikan pukulan besar bagi industri pariwisata Uganda.

Pemberontak adalah bagian dari kelompok milisi yang terlibat dalam genosida Rwanda 1994 sebelum melarikan diri ke hutan DRC.

Pariwisata adalah industri utama bagi Uganda, sebagai penghasil utama mata uang asing. Ratusan ribu wisatawan mengunjunginya setiap tahun.

Juru bicara militer, Brigadir Richard Karemire, bersikeras penculikan itu adalah "insiden yang terisolasi" dan bahwa Uganda tetap aman bagi wisatawan.

"Badan-badan keamanan, termasuk militer, bekerja bersama untuk memastikan turis dan pengemudi dibebaskan tanpa cedera," kata Karemire.

Loading
Artikel Selanjutnya
Rokok Elektrik di AS Telan Korban, 8 Orang Meninggal Dunia
Artikel Selanjutnya
Delegasi China Batal Kunjungi Petani AS, Gara-gara Donald Trump?