Sukses

Gara-Gara Lagu Kampanye Tak Sesuai Visi, 5 Politisi Ini Di-Bully Banyak Orang

Liputan6.com, Jakarta - Dalam rangka memenangkan kontestasi politik, calon presiden biasanya memiliki lagu khusus untuk berkampanye.

Lagu yang digunakan biasanya bernada menarik, dengan lirik yang mudah dihafal, sehingga akan mudah menarik minat publik. Maka tidak salah jika beberapa calon presiden dalam sejarah pernah mengaransemen lagu iklan komersil yang sangat terkenal untuk kampanye.

Sayangnya, tidak semua lagu kampanye serta merta bagus. Sejumlah politisi dunia bahkan sempat dihujat, diledek, dan menjadi bahan tertawa hanya karena jingle yang dipilih.

Berikut beberapa lagu yang pernah digunakan oleh pemimpin dunia dalam masa kampanye politik, dilansir dari Mental Floss, Sabtu (9/2/).

Simak pula video berikut:

2 dari 6 halaman

1. Saddam Hussein

Siapa sangka pemimpin Irak pernah menggunakan lagu milik Whitney Houston, berjudul "I Will Always Love You" untuk kampanye pemilihan presiden Oktober 2002.

Lagu itu dinilai paling tidak masuk akal jika digunakan sebagai alat penggalang dukungan massa.

Lagu kampanye yang dinyanyikan ulang oleh Dolly Parton itu, disiarkan melalui radio dari terbit fajar hingga senja, dari Baghdad hingga Basra; sesaat sebelum masa kampanye berakhir.

3 dari 6 halaman

2. Ronald Reagan

Ronald Reagan memilih lagu milik Bruce Springsteen, sebagai lagu kampanye pada pemilihan 1984. Padahal, siapapun pasti tahu bahwa lagu anti perang itu menggambarkan kegagalan Amerika Serikat di Perang Vietnam.

Sebagian dari lirik lagu tersebut memiliki arti, "Saya punya teman di Khe Sahn, memerangi Viet Cong (Vietkong). Mereka masih di sana, dia semua pergi."

4 dari 6 halaman

3. John Quincy Adam

Berbeda dari lagu kampanye pada umumnya yang berusaha memperlihatkan sisi baik dari sang calon, John Quincy Adams justru memilih lagu yang bersifat mengancam.

Dalam lagu itu, terdapat lirik "Fire's a-comin', swords a-comin', pistols, gun and knives are comin', if John Quincy not be comin'."

Maksud lagu tersebut, jika John Quincy tidak terpilih, maka api, pedang, pistol, senjata, dan pisau akan datang.

Meskipun telah "mengancam" pemilih, nyatanya usahanya sia-sia. Pada pemilihan tahun 1829, ia kalah dari Andrew Jackson.

5 dari 6 halaman

4. Angela Merkel

Kanselir Jerman, Angela Merkel, memilih lagu yang sepertinya tidak tepat untuk sebuah kampanye pemilu 2005.

Angela Merkel memilih lagu berjudul Angie, milik Rolling Stones. Diduga ia tidak benar-benar teliti dalam memilih, karena ternyata lagu itu berisi perpisahan.

Sebagian lirik lagu berarti "Tanpa cinta dalam jiwa kita, dan tidak ada uang di mantel kita... Semua mimpi yang kita pegang sangat erat tampak seperti semua habis dalam asap. Bukankah sudah waktunya kita mengucapkan selamat tinggal?"

Selain lagu yang terkesan tidak tepat, Angela Merkel harus menerima kenyataan pahit. Rolling Stone menyatakan tidak memberikan izin lagu itu digunakan sebagai alat kampanye.

6 dari 6 halaman

5. Nicolas Maduro

Kepopuleran lagu "Despacito" membuat Presiden Venezuela yang tengah menghadapi konflik, Nicolas Maduro, menggunakan remix lagu itu menjadi jingle kampanye pada 2017 lalu.

Lagu "Despacito" dari duo asal Puerto Rico yang berisi rayuan romantis itu, diubah menjadi kampanye soal amendemen konstitusi persatuan dan perdamaian di Venezuela.

Langkah ini langsung ditentang oleh penyanyinya yang diwakili Fonsi sang produser. Lewat kicauan di media sosial Twitter, keduanya menolak lagu "Despacito" dijadikan sebagai propaganda Maduro.

Warga Arizona Bersiap Hadapi Badai Musim Dingin

Tutup Video
Loading