Sukses

Presiden AS Donald Trump dan Miskonsepsinya soal Pemanasan Global

Liputan6.com, Washington DC - Komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menghubungkan musim dingin buruk di kawasan Midwest AS sebagai tanda bahwa pemanasan global telah 'pergi', membuat sejumlah media dan pegiat lingkungan mengernyitkan alis, serta mempertanyakan seberapa jauh pemahaman sang presiden tentang konsep pemanasan global.

Sebelumnya, dalam sebuah tweet pada Senin 28 Januari 2019 waktu lokal, Trump berkicau dengan nada nyinyir: "Di Midwest yang indah, suhu mencapai minus 60 derajat (fahrenheit, setara minus 15 derajat Celsius), suhu terdingin yang pernah tercatat. Dalam beberapa hari mendatang, diperkirakan akan semakin dingin."

"Orang tidak bisa bertahan di luar bahkan selama beberapa menit. Apa yang terjadi dengan Global Warning (editor: Trump menulis 'Warning', padahal seharusnya 'Warming')? Harap kembali dengan cepat, kami membutuhkan Anda!"

Tetapi, laporan ilmiah yang dirilis oleh lembaga pemerintahan Trump dan pakar iklim bertentangan dengan komentar Donald Trump yang mengindikasikan bahwa pemanasan global tak akan ada jika cuaca dingin menerjang.

Menurut ilmuwan, suhu Bumi masih jauh lebih hangat daripada 30 tahun yang lalu dan terutama 100 tahun yang lalu, menunjukkan bahwa Planet Biru mengalami pemanasan global.

Suhu Bumi secara keseluruhan pada Selasa 29 Januari 2019 adalah 0,3 derajat Celcius lebih hangat dari rata-rata 1979-2000 dan 1,6 derajat lebih hangat daripada rata-rata sekitar 100 tahun yang lalu, menurut data dari University of London, Penganalisa Iklim University of Maine dan NASA, seperti dikutip dari The Associated Press, Kamis (31/1/2019).

Data itu menunjukkan bahwa Bumi secara keseluruhan --bukan AS saja-- mengalami pemanasan global.

Sementara di AS, 48 negara bagian yang mengalami suhu rendah hanya menyumbang 1,6 persen dari total suhu rata-rata dunia.

Ketika itu terjadi, lima negara bagian AS --termasuk 48 negara bagian yang saat ini tengah bersuhu rendah-- justru memiliki suhu yang jauh lebih hangat dari biasanya.

"Ini hanyalah peristiwa cuaca ekstrem dan tidak mewakili tren suhu skala global," kata ilmuwan iklim Northern Illinois University, Victor Gensini mematahkan komentar Presiden Donald Trump dalam kesempatan terpisah.

Suhu ekstrem sebaliknya, alias super panas, "terjadi di Australia sekarang," lanjut Gensini.

Adelaide pekan lalu bersuhu 46,6 derajat Celcius, mencetak rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat oleh kota besar Australia itu.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Ilmuwan: Trump Memukul Rata Dua Konsep yang Berbeda

John Cook, profesor komunikasi perubahan iklim di George Mason University menilai, komentar yang dibuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengabaikan gambaran yang lebih besar dari sebuah fenomena pemanasan global dan perubahan iklim sebagai konteks yang lebih luas.

"Ia seperti berpendapat bahwa malam hari membuktikan bahwa matahari tidak ada," kata Cook.

Sejauh bagaimana hal itu mempengaruhi orang, pemerintahan Trump sendiri, melalui Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) merilis laporan ilmiah tahun lalu yang mengatakan bahwa sementara perubahan iklim yang disebabkan manusia akan mengurangi kematian akibat cuaca dingin "di 49 kota besar di Amerika Serikat, perubahan dalam suhu panas dan dingin ekstrem diproyeksikan akan menghasilkan lebih dari 9.000 kematian prematur tambahan per tahun" pada akhir abad ini jika emisi gas rumah kaca terus meningkat pada tingkat baru-baru ini.

Trump memukul rata cuaca dan iklim, dua konsep yang berbeda. Cuaca dianalogikan seperti suasana hati, yang cepat berlalu. Iklim seperti kepribadian, yang bersifat jangka panjang dan luas, seperti benua, belahan bumi, dan planet, kata ilmuwan.

"Di dunia yang memanas (akibat pemanasan global), Anda masih akan mengalami peristiwa yang luar biasa panas dan dingin di bagian tertentu dunia," lanjut ilmuwan iklim Berkeley Earth, Zeke Hausfather.