Sukses

Mengapa Kita Harus Copot Sepatu Ketika Masuk ke Dalam Rumah?

Liputan6.com, Texas - Di banyak budaya Barat, tamu yang bertandang ke rumah seseorang umumnya masih mengenakan sepatu atau alas kaki yang dipakainya. Tidak melepaskannya. Pemilik rumah pun demikian. Mereka selalu memakai sandal saat berada di dalam tempat tinggalnya bahkan sampai tempat tidur.

Namun, bagaimana dengan koloni bakteri yang dibawa oleh sepatu tamu saat menginjakkan kakinya di dalam rumah seseorang? Apakah kuman-kuman ini akan menyebar dan bersarang di dalam hunian? Berbahayakah bakteri-bakteri ini?

Jawaban dari semua pertanyaan itu adalah "ya".

Menurut ahli mikrobiologi lingkungan dan spesialis penelitian di University of Arizona, Jonathan Sexton, rata-rata sepatu yang kerap digunakan terkandung ratusan ribu bakteri per inci perseginya.

Sol sepatu, pada dasarnya, adalah tempat bertemu dan berkumpulnya mikroba-mikroba ini. Setiap langkah yang kita ambil, kita seolah "menjemput" mikroorganisme yang baru.

"Cukup banyak (bakteri) ke mana pun Anda pergi," kata Sexton kepada Live Science, yang dikutip Liputan6.com pada Senin (7/1/2019). Namun waspadalah, beberapa tempat seperti kamar mandi memiliki lebih banyak kuman.

Tetapi sebenarnya, apa jenis koloni bakteri yang menempel di sepatu kita? Apakah keberadaan mereka menimbulkan ancaman kesehatan yang serius?

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa hampir semua sepatu --yang digunakan dalam beberapa sampel penelitian-- dilapisi dengan bakteri fekal (bakteri koliform yang berasal dari tinja manusia atau hewan berdarah panas), termasuk salah satu di antaranya yakni Escherichia coli atau biasa dikenal sebagai E.coli.

E. coli ditemukan oleh banyak ilmuwan pada 96% sol sepatu. Meski banyak jenis E.coli tidak berbahaya bagi manusia, namun ada juga yang dapat menyebabkan diare parah, infeksi saluran kemih dan bahkan meningitis.

"Tidak pada setiap sepatu, tetapi pada mayoritas. Anda dapat menemukan beberapa jenis E.coli di sana," ungkap Sexton menjelaskan.

Selain E. coli, penelitian selanjutnya juga menemukan fakta lain, yaitu adanya Staphylococcus aureus, yang bertanggung jawab terhadap berbagai macam infeksi kulit. Akan tetapi, yang lebih mengkhawatirkan adalah infeksi darah dan jantung.

Dalam studi terkemuka yang diterbitkan pada tahun 2014 dalam jurnal Anaerobe, para periset mengambil sampel benda-benda yang ada di 30 rumah di Houston, Texas, Amerika Serikat. Mereka mencari tahu keberadaan Clostridium difficile (C. difficile), bakteri dengan umur panjang yang umumnya menyebabkan masalah di usus, misalnya diare.

Dari semua barang-barang rumah tangga yang dijadikan sampel, para peneliti menguak bahwa sepatu menyimpan lebih banyak C. difficile, bahkan jumlahnya lebih besar dari yang ada di permukaan toilet.

Untuk itulah, sangat dianjurkan bahwa kita harus mencopot sepatu yang kita pakai, ketika masuk ke dalam rumah setelah seharian beraktivitas di luar ruangan.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Masuk ke Saluran Pernapasan

Namun, peneliti menyebut bahwa beban bakteri yang dibawa oleh sepatu kita atau tamu di dalam ruangan, biasanya tidak cukup kuat untuk membuat orang sehat menjadi sakit parah.

"Untuk individu yang bugar, bakteri pada sepatu kemungkinan tidak menimbulkan risiko (sakit)," kata Kevin Garey, penulis studi C. difficile tahun 2014 dan profesor di Fakultas Farmasi University of Houston College.

Biasanya, orang yang sehat perlu melakukan kontak dengan ribuan mikroba dari satu strain bakteri berbahaya, untuk benar-benar terinfeksi sesuatu, Sexton menambahkan.

Poin lainnya adalah kebanyakan dari kita tidak menghabiskan banyak waktu di lantai, tempat bakteri sepatu tinggal.

Dalam beberapa kasus, bakteri yang ada di lantai dapat terbang ke udara dalam ruangan dan terhirup oleh kita. Inilah yang mungkin menyebabkan risiko infeksi saluran pernafasan.

"Saya lebih mengkhawatirkan seorang bayi yang merangkak di lantai. Bagi orang dewasa yang sehat, ini bukan masalah besar. Tapi tidak bagi anak-anak itu," papar Sexton.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Fosil Rumput Laut Tertua Ditemukan, Umurnya 1 Miliar Tahun
Artikel Selanjutnya
Kuda Nil Berkeliaran Bikin Warga Kolombia hingga Ilmuwan Khawatir, Ada Apa?