Sukses

Alkohol Berlimpah hingga Perkumpulan Seks, Ini 7 Pesta Liar dalam Sejarah Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Sejarah menyajikan kita sudut pandang mengenai cara hidup masyarakat di masa lampau dan bagaimana hal tersebut menjadi pembelajaran bagi peradaban manusia pada masa kini. 

Sama halnya dengan peradaban modern, salah satu hal yang juga dilakukan oleh masyarakat di masa lampau adalah berpesta, sebagai cara untuk merayakan hidup.

Tidak hanya pesta yang menampilkan kemewahan, sama halnya seperti masyarakat modern, terselip pula beberapa perayaan hura-hura yang terkesan liar.

Dikutip dari Ranker.com pada Minggu (22/7/2018), beberapa pesta liar yang pernah disinggung dalam telaah sejarah populer, antara lain mangkuk besar di salah satu rumah pembesar Romawi Kuno --yang bahkan dapat didayungi-- dan tradisi meminum bir hingga mabuk di era Firaun.

Namun di luar itu, terdapat segelintir pesta yang dinilai lebih liar, dan terkadang tidak masuk akal, sengaja dilakukan oleh sebagian orang untuk kesenangan duniawi.

Tidak jarang di antara pesta liar itu berujung pada petaka, yang tidak hanya merugikan si penyelenggara pesta, melainkan juga spektrum yang lebih luas.

Berikut adalah tujuh pesta paling liar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 8 halaman

1. Pesta Seks Paus Alexander VI

Paus Alexander VI, atau juga dikenal dengan nama Paus Borgia, disebut pernah melakukan hal paling gila dalam sejarah Vatikan. Pada 1501 silam, ia menggelar sebuah jamuan makan malam bertajuk "Perjamuan Chestnut", dengan diam-diam mendatangkan puluhan pekerja seks komersial (PSK).

Para tamu undangan yang beradal dari kalangan bangsawan Romawi dan pejabat Gereja Katolik, ditantang untuk berhubungan seks paling banyak dan tahan lama dengan para PSK yang disewa.

Setelah menikmati makan malam dengan hidangan daging lezat dan minuman anggur istimewa, sekitar 50 PSK naik ke atas meja dan melakukan tarian striptis, dan menggoda para tamu undangan yang semuanya pria.

Paus kemudian mengumumkan sebuah kompetisi, bahwa siapapun yang bisa tidur dengan sebagian besar PSK tersebut, akan diberikan hadiah spesial dari kantong pribadinya. Namun hingga kini, tidak diketahui pasti siapa pemenangnya.

3 dari 8 halaman

2. Tradisi Mesir Kuno Minum Bir Hingga Mabuk

Bangsa Mesir kuno tahu bagaimana membuat bir, dan mereka merayakannya setiap tahun di sebuah "pesta mabuk-mabukan". Agenda tersebut memperingati momen dalam mitologi lokal, di mana umat manusia diselamatkan dari kehancuran karena seorang dewi pembunuh, Hathor, mabuk dan pingsan.

Untuk merayakannya, masyarakay Mesir Kuno menyalakan obor, menari, dan "bepergian melalui rawa-rawa," yang sejarawan berspekulasi dapat merujuk ke hubungan seks.

Tidak ketinggalan, pesta tersebut diiringi oleh bir yang terus menerus disajikan di sepanjang malam. Konon, minuman beralkohol yang dihabiskan untuk pesta terkait bisa mencapai satu ton. Tua dan muda, semua mengonsumsinya tanpa beban.

4 dari 8 halaman

3. Pesta Raja Prancis yang Berujung Maut

Pada 1393 silam, sebuah pesta kerajaan di Prancis berlangsung buruk hingga menyebabkan sang raja meninggal akibat terbakar hidup-hidup.

The Bal des Ardents, julukan bagi agenda kontrovesial tersebut, merupakan sebuah pesta kostum di tengah perayaan pernikahan Raja Charles VI dan Putri Isabeau yang cantik jelita.

Sang raja yang dijuluki "Charles The Mad" --Charles yang gila-- berpikir akan terliaht unik ketika dirinya mengenakan kostum serupa monster berbulu. Mengajak lima kawannya, ia menjahitkan secara khusus kostum yang dinilainya mampu mencuri perhatian.

Sayangnya, ketika para tamu pesta mencoba melihat lebih dekat kostum tersebut menggunakan obor, api tiba-tiba menyambar, membuat kepanikan seisi ruangan.

Empat dari enam pria yang menggunakan kostum tersebut tewas terbakar, sedangkan satu orang berhasil selamat setelah melompat ke dalam tong anggur. Adapun sang raja, beruntung masih hidup setelah mencoba berlindung di bawah rok besar yang dikenakan bibinya, dan kemudian disiram air oleh petugas istana.

Meski begitu, konon Raja Charles VI menderita luka bakar yang cukup serius di bagian tubuh atasnya.

5 dari 8 halaman

4. Puluhan Ribu Orang Berpesta di Gedung Putih

Ketika Andrew Jackson siap disumpah sebagai presiden Amerika Serikat (AS) ketujuh pada 1829, ia berinisiatif untuk menggelar open house di Gedung Putih, bersamaan dengan proses inaugurasinya.

Namun di luar dugaan Old Hickory, ulukan sang presiden, puluhan ribu rakyat datang berbondong-bondong ke Gedung Putih, dengan maksud untuk mengucapkan selamat secara langsung ke Andrew Jackson .

Namun sayangnya, ada sekelompok oknum yang berbuat onar akibat pengaruh minuman beralkohol. Mereka disebut menghancurkan perabotan, dan merusak banyak dekorasi pusat pemerintahan Negeri Paman Sam itu.

Menurut catatan sejarah, Presiden Jackson sendiri harus melompat keluar jendela untuk melarikan diri dari kerumunan gaduh.

Gedung Putih diselamatkan oleh janji minuman keras gratis jika para tamu berkenan segera pulang. Setelah itu, Presiden Jackson meminta Kongres AS mengeluarkan anggaran sebesar US$ 50.000 (setara Rp 724 juta) untuk mendekorasi ulang.

6 dari 8 halaman

5. Pesta Meriah Selama Seminggu Penuh

Dalam catatan sejarah, pesta yang pertama kali digelar oleh Kerajaan Prancis di Istana Versailles dikenal dengan juluk "Pleasures of the Enchanted Isle", atau suka cinta pulau yang mempesona.

Julukan tersebut tidak asal diberikan, karena diakui oleh banyak pihak, pesta itu tampil layaknya theme park di era modern, besar dan penuh dengan hal-hal mengagumkan.

Pesta ini digelar oleh Raja Louis XIV pada tanggal 7-13 Mei 1664, dan diklaim sebagai persembahan terhaap ibu kandung sang penguasa. Namun, nyatanya agenda akbar itu tidak lebih menjadi ajang pamer istri cantiknya, Louise de la Vallière.

Banyak sejawaran menyebut pesta itu sangat besar dan rumit, di mana dihadirkan istana palsu untuk menyalakan kembang api, pelampung besar yang diletakkan di kolam sehingga seolah terlihat seperti paus, hingga para tamu yang mengenakan kostum glamor.

7 dari 8 halaman

6. Pesta yang Menghancurkan Ibu Kota Persia

Bagi Aleksander Agung, tidak ada saingan yang lebih besar dari Kekaisaran Persia, dan pada 330 SM, ia menaklukkan ibu kota mereka, Persepolis.

Setelah itu, Aleksander Agung memerintahkan prajuritnya untuk membakar seisi kota Babilonia, di mana keputusan itu didasarkan pada saran Thais, seorang wanita yang cukup berpengaruh di lingkaran petinggi Kekaisaran Makedonia.

Padahal kala itu, saran Thais disampaikan ketika keduanya sedang berada di bawah pengaruh alkohol, pasca-pesta pora yang digelar untuk merayakan keberhasilan menaklukkan Persia.

Beberapa laporan sejarah menyebut Thais memiliki hubungan asmmara dengan jenderal tertinggi Makedonia, Ptolemy. Namun, sebagian pihak menduga ia juga menjalin affair dengan Aleksander Agung.

8 dari 8 halaman

7. Tiga Hari Makan Besar oleh Kekaisaran China

Pesta yang diadakan pada tahun 1720 itu merupakaan perayaan atas komitmen damai suku Han dan Manchu yang telah laman berkonflik satu sama lain.

Pemimpin China kala itu, Kaisar Xuanye dari Dinasti Kangxi, menyelenggarakan pesta besar selama tiga hari berturut-turut, sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke-66.

Lebih dari 300 hidangan disajikan, memadukan tradisi kuliner tidak biasa dari suku Han dan Manchu, termasuk di antaranya sup daging macan tutul, olahan ekor badak, dan daging punuk unta.