Sukses

Negara Ini Berambisi Gantikan Plastik dengan Sabut Kelapa dan Bulu Ayam

Liputan6.com, Apia - Dalam upaya untuk melindungi kelestarian Samudera Pasifik, pemerintah Samoa segera melarang penggunaan semua perlengkapan makan dari plastik sekali pakai, mulai Januari mendatang.

Dikutip dari The Guardian pada Senin (25/6/2018), wadah makanan dan gelas styrofoam juga akan dilarang, setelah pemerintah setempat yakin bahwa alternatif baru pengganti plastik terbukti bisa diandalkan.

"Era baru sudah tersedia untuk Samoa ... kita akan menjaga kelestarian Pasifik yang biru, dan bergabung dengan semangat global untuk memulihkan kondisi lautan, memperbaiki ekosistem laut yang rusak akibat sampah plastik," kata Ulu Bismarck Crawley, kepala eksekutif di kementerian sumber daya alam dan lingkungan.

James Atherton dari Samoa Conservation mengatakan kepada Radio NZ, bahwa ada peningkatan penelitian tentang alternatif berkelanjutan untuk kantong plastik dan wadah makanan sekali pakai.

Beberapa contoh bahan baku alternatif yang disebut andal untuk menggantikan peran plastik sekali pakai adalah serat kelapa, bulu ayam, dan serat singkong. Ketiga bahan baku unik tersebut terbukti dapat terurai dengan cepat --sekitar dua minggu-- oleh tanah, sehingga meminimalisir bahaya pencemaran.

Selain itu, berbagai bahan baku alternatif plastik itu berpeluang untuk diteliti tentang penyederhanaan produksi, sehingga bisa diterapkan secara swadaya oleh masyarakat luas. 

Sebuh survei yang dilakukan oleh kementerian terkait menyebut adanya peningkatan signifikan tentang jumlah limbah plastik di lautan Pasifik, yakni dari 26.000 ton pada 2011, menjadi lebih dari 32.850 ton di akhir tahun lalu, atau naik lebih dari 20 persen dalam jangka waktu kurang dari satu dekade.

Diperkirakan bahwa Samoa menghasilkan sekitar 8.869 ton plastik per tahun, dan bahwa sekitar 70% dari sampah di perairan pesisir kota terbuat dari plastik, yang mencekik sistem bakau, membunuh satwa laut dan mencemari banyak pantai wisata yang indah.

"Masalah ini terlalu besar bagi kami jika tidak segera mengambil tindakan apa pun," kata Crawley. "Dengan menjadikan perubahan ini sebagai prioritas bangsa, kami berharap dampak positifnya akan dirasakan tidak hanya oleh masyarakat Samoa, tetapi juga oleh komunitas global."

 

*Pantau hasil hitung cepat atau Quick Count Pilkada 2018 untuk wilayah Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Bali dan Sulsel. Ikuti juga Live Streaming Pilkada Serentak 9 Jam Nonstop hanya di liputan6.com.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Dampak Positif yang Lebih Luas

Tahun lalu, Perdana Menteri Tuilaepa Sailele Malielegaoi berjanji pada konferensi laut PBB untuk mengatasi polusi plastik, yang menjadi ancaman lingkungan terbesar bagi pulau-pulau do Pasifik. , banyak di antaranya sedang dalam proses melarang plastik atau mengurangi konsumsi plastik.

Kosi Latu, direktur jenderal Sekretariat Program Lingkungan Wilayah Pasifik, mengatakan: "Kami mengucapkan selamat kepada Samoa karena telah mengambil tindakan tegas dan bekerja sama untuk membuat perubahan yang akan menguntungkan kita semua."

"Hal ini juga akan memiliki dampak positif bagi Samoa, yang tengah bersiap menjadi tuan rumah Pacific Games pada 2019, dan bisa menjadi kompetisi olahraga bebas plastik pertama," lanjut Latu menjelaskan.

Pada 1950-an, dunia menghasilkan sekitar dua juta ton plastik dalam setahunnya. Angka itu sekarang telah naik menjadi 330 juta ton per tahun - dan diprediksi menjadi tiga kali lipat pada 2050 mendatang.

Negara-negara lain telah melarang atau menghentikan kantong plastik sekali pakai termasuk Kenya, Vanuatu, dan beberapa negara bagian di Australia

Artikel Selanjutnya
Ancaman Bahaya Sampah Plastik Kian Meluas di Antartika
Artikel Selanjutnya
Mengerikan, Laut Tengah Diprediksi Bisa Jadi Lautan Plastik