Sukses

Jejak 'Ratu Intel' Mata Hari di Hotel Bersejarah Amsterdam

Liputan6.com, Amsterdam - Riwayat Mata Hari tamat pada 15 Oktober 1917 di usia 41 tahun. Kala itu, menjelang fajar waktu Prancis, perempuan berjuluk 'The Greatest Woman Spy' atau ratunya mata-mata, dieksekusi di depan regu tembak yang jumlahnya 12 orang. 

Sejumlah saksi mata menyebut, perempuan itu menanti maut dengan tabah. Ia berdiri tegak, menolak menggunakan penutup mata. Tangannya pun sama sekali tak diikat. 

Mata Hari menatap langsung para algojonya. Ia melayangkan cium jauh ke mereka, sebelum sebuah peluru menembus jantungnya. Satu peluru lainnya lalu ditembakkan ke telinganya, menembus batok kepala. 

Meski 100 tahun lebih berlalu sejak kematiannya, Mata Hari terus dikenang. Kisahnya hidupnya diabadikan dalam buku, film, sandiwara, pertunjukan balet, dan banyak lainnya. 

Terutama di tanah airnya, di Belanda. Sebuah patung didirikan di kampung halamannya di Leeuwarden. Barang-barang peninggalannya dipajang di "Mata Hari Room" di Fries Museum di kota yang sama.

Sejumlah tempat menyandang namanya, dari restoran keluarga hingga bar di kawasan lampu merah atau red district di Amsterdam.

Hotel tempatnya berbulan madu juga mengabadikannya sebagai nama kamar: Mata Hari Suite, yang luasnya 58 meter persegi, menghadap kanal Amsterdam dan Leidseplein yang tak pernah sepi.

Perempuan bernama asli Margaretha Geertruida 'Grietje' Zelle itu menikah dengan Rudolf MacLeod di Amsterdam pada 11 Juli 1895. Malam pertama mereka habiskan di sebuah hotel di Leidseplein yang kini dikenal sebagai American Hotel.

Lokasi bulan madu Mata Hari hingga markas Nazi, Hotel American Amsterdam yang dibangun pada 1880  punya sejarah yang panjang (Liputan6.com/Elin Yunita Kristanti)

Saat dikonfirmasi, benarkah Mata Hari pernah tinggal di hotel tersebut, seorang resepsionis  American Hotel membenarkannya.  

"Ya benar, dia memang pernah tinggal di sini," kata dia kepada Liputan6.com. "Tapi sayang, kamar itu sedang ditinggali tamu, Anda tak bisa melihat ke dalamnya." 

Usia bangunan American Hotel sudah ratusan tahun. Seperti halnya gedung-gedung tua yang mendominasi lanskap Amsterdam, mereka seakan dibangun 'untuk selamanya'.

Seperti dikutip dari sejarah American Hotel, bangunan asli hotel dirancang oleh arsitek bernama CAA Steinigeweg. Pembangunan dimulai pada Mei 1880 dan berakhir pada Oktober tahun berikutnya.

Bangunannya bergaya Viennese Renaissance, namun ada pengaruh Amerika yang kental, misalnya dekorasi elang perunggu sepanjang empat meter dan patung kepala suku Indian dan istri-istrinya.

Hotel tersebut termasuk maju pada eranya, dengan lampu listrik di setiap kamar, instalasi pipa, juga toilet.

Pada 1900, 20 tahun setelah pembangunannya, bangunan asli hotel dihancurkan atas perintah general manager, August Volmer. Kala itu ia menggandeng arsitek W. Kromhout.

Setelah dibuka kembali pada 1902, sejumlah renovasi dilakukan, bahkan hingga kini. 

American Hotel menjadi saksi sejarah pergolakan zaman, dari pecahnya Perang Dunia I pada 1914 yang diikuti resesi hingga Perang Dunia II, ketika pasukan Nazi menginvasi Belanda pada Mei 1940, atas perintah Adolf Hitler.

Setelah Rotterdam dibombardir, Belanda menyerah. Para petinggi pemerintahan dan keluarga kerajaan mengungsi ke London, Inggris. Nazi kemudian memburu kaum Yahudi dan memasukkan mereka ke kamp konsentrasi -- yang memunculkan kisah-kisah menyedihkan, seperti yang ditulis gadis bernama Anne Frank dalam buku hariannya. 

Di masa pendudukan Nazi, hotel yang juga dikenal dengan nama Hampshire Hotel itu juga berubah fungsi.  

 "Selama Perang Dunia II, bangunan hotel digunakan sebagai markas Nazi," demikian dikutip dari History of American Hotel.

Setelah periode gelap itu, bangunan hotel kembali dioperasikan seperti semula, menjadi penginapan bagi warga lokal juga para pengunjung dari berbagai negara. 

Pada 1996, American Hotel bergabung menjadi bagian dari kelahiran situs reservasi online pertama di dunia, Booking.com. 

"Menjadi hotel pertama yang terdaftar di Booking.com pada 1996, saat perusahaan masih bernama Bookings.nl," demikian informasi yang diperoleh dari Booking.com.

 

2 dari 2 halaman

Nasib yang Berubah di Tanah Jawa

Metamorfosis Margaretha Geertruida 'Grietje' Zelle menjadi Mata Hari melibatkan banyak intrik. Dan semua itu bermula dari kisah perkawinan yang gagal. 

Perkawinannya dengan Rudolf MacLeod mengubah jalan hidup perempuan itu untuk selamanya.

Pasangan itu bertemu lewat iklan pencarian jodoh di surat kabar. Kala itu, MacLeod yang berpangkat kapten tentara kolonial di Hindia Belanda (cikal bakal Indonesia) mencari seorang istri yang bersedia dibawa merantau ke tanah jauh.

Usia Mata Hari kala itu baru 18 tahun. Hidupnya yang morat-marit jadi alasan mengapa ia mau menikahi MacLeod yang usianya 20 tahun lebih tua. Usaha ayahnya sudah lama bangkrut. Cita-cita perempuan itu jadi guru taman kanak-kanak kandas gara-gara skandal asmara terlarang dengan kepala sekolah tempat ia mengajar.

Alasan lain, seperti dikutip dari buku Performing Otherness: Java and Bali on International Stages, 1905-1952 karya Door M. Cohen, Mata Hari kala itu suka pria berseragam militer.

Keduanya akhirnya menikah di Amsterdam pada 11 Juli 1895. Malam pertama mereka habiskan di sebuah hotel di Leidseplein.

Dua tahun kemudian, setelah Rudolf MacLeod menghabiskan cuti sakitnya, keduanya bertolak ke Jawa. Mereka tinggal di Ambarawa, Jawa Tengah, kemudian pindah ke Malang, Medan, dan Banyu Biru di Sumatera.

Di Jawa, Mata Hari mempraktikkan gaya hidup Indische. Sehari-hari ia mengenakan sarung dan kebaya, sedikit-sedikit berbahasa Melayu, dan 'memelihara babu. Perempuan Belanda itu kian 'njawani' dengan berlatih tarian Jawa.

Konon, Mata Hari memang berdarah Jawa dari garis ibu. Kulitnya cokelat dan rambutnya pun hitam. Namun, sejarawan belum sepakat soal garis keturunannya.

Saat masih tinggal di Hindia Belanda, Margaretha Zelle memakai nama alias, Mata Hari, yang yang berarti Sang Surya, Matahari. Kelak nama itulah yang membuatnya populer dan dikenal dunia.

Malang, kehidupannya di tanah jajahan jauh dari membahagiakan. Anak lelakinya tewas, dia bercerai dengan suaminya yang kerap memukul, gemar mabuk, dan memelihara gundik. Derita bertambah karena putranya meninggal dunia, diduga diracun.

Merasa tertekan, Mata Hari menuntut pegat. Ia pun pindah ke Paris, Prancis. Di sana, ia mencoba peruntungan jadi pemain sirkus. Dan akhirnya gagal.

Ia kemudian banting setir jadi penari 'eksotis' -- sekaligus erotis. Mata Hari mempertontonkan ketelanjangan, yang tabu di Eropa kala itu.

Dengan daya tarik sensualnya, juga mitos yang ia ciptakan di atas panggung, Mata Hari menjelma jadi sosok yang dikenal. Dia punya hubungan intim dengan pejabat militer, politisi, dan orang-orang berpengaruh, bahkan jadi 'simpanan' putra mahkota Jerman saat itu -- koneksinya ini memungkinkan dia bepergian melintasi batas-batas negara.

Saat jadi penari telanjang di Berlin, Mata Hari dikabarkan direkrut agen rahasia Jerman. Beberapa penulis biografi, misalnya, Erika Ostrovsky yakin bahwa Mata Hari pernah menjalani pelatihan di sekolah mata-mata Jerman di Antwerp, Belgia. Oleh Jerman, dia disebut dengan kode 'H21'.

Selain jadi mata-mata Jerman, Mata Hari juga direkrut menjadi mata-mata Prancis -- yang dia lakukan demi uang agar bisa hidup bersama kekasihnya yang asal Rusia, Vladmir Masloff.

Pada bulan Januari 1917, saat atase militer Jerman di Madrid mengirim pesan radio ke Berlin menggambarkan kegiatan mata-mata Jerman dengan kode nama H 21. Pesan itu disadap agen mata-mata Prancis. Dari informasi-informasi itu, diduga kuat H 21 adalah Mata Hari.

Pada 13 Februari 1917, Mata Hari dicokok aparat Prancis di sebuah hotel. Tuduhannya, agen ganda.

"Saya tidak bersalah," kata Mata Hari saat diinterogasi, tegas. "Seseorang sedang mempermainkan saya - kontra spionase Perancis. Saya sedang dalam tugas mata-mata dan saya bertindak hanya dalam perintah itu," kata dia, seperti dimuat laman www.mata-hari.com.

Pembelaannya mentah. Ratu erotis itu lalu diadili dengan dakwaan menjadi mata-mata Jerman dan bertanggung jawab atas kematian 50.000 tentara. Dia diputus bersalah.

Setelah nyawa hilang dari raga, tak ada keluarga yang mengklaim jasadnya. Tubuh Mata Hari berakhir di meja praktik fakultas kedokteran. Sementara kepalanya disimpan di Museum Anatomi Paris.

Pada tahun 2000 diketahui bahwa kepala itu menghilang --mungkin raib saat museum itu dipindahkan pada 1954.

Loading
Artikel Selanjutnya
Jerman Integrasikan Unit Pertahanan Udara di Bawah Komando Belanda
Artikel Selanjutnya
Promosi Musik Dangdut di Belanda Lewat DangDutch 2018