Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Permohonan Terakhir Pria Kanada yang Dihukum Gantung oleh Warga Pedalaman Peru

Liputan6.com, Lima - Pihak berwenang di Peru telah menahan dua orang yang dituduh membunuh seorang pria asal Kanada dengan cara menggantungnya. Kedua terduga ditangkap setelah penyidikan terhadap bukti video dan foto yang diambil menggunakan kamera ponsel.

Dikutip dari News.com.au, Selasa (24/4/2018), Sebastian Woodroffe (41) -- nama korban – terlihat terus meminta ampun seraya meronta kesakitan, karena tubuhnya ditarik paksa menggunakan tali yang mengikat lehernya.

Woodroffe dibiarkan terseret kesakitan di atas lumpur tebal, dan disaksikan oleh puluhan warga setempat. Ia telah dituduh membunuh Olivia Arevalo, seorang tabib wanita berusia 81 pada Kamis, 19 April 2018, di Ucayali, salah satu distrik terpencil di pinggiran hutan hujan Amazon.

Dalam salah satu cuplikan video, terdengan secara samar-samar, teriakan ampun dari Woodroffe yang berujar bisa membuktikan, bahwa insiden yang menimpa dirinya adalah sebuah kesalahpahaman.

Namun, suara riuh warga yang menonton "penyiksaan" tersebut menghalangi suara beberapa ratapan yang diucapkan pria Kanada tersebut. 

Pada beberapa foto yang viral, terlihat hampir seluruh tubuh Woodroffe -- dengan pakaian yang terkoyak -- berlumuran lumpur pekat, seraya memegang tali memohon dilepaskan dari ikatan yang melilit lehernya. 

Kepolisian setempat menemukan jasad Woodroffe di lokasi yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah Arevalo pada Sabtu, 21 April 2018, sehari setelah video persekusi kepadanya viral di media sosial.

Woodroffe yang berasal dari Provinsi British Columbia, adalah satu dari ribuan turis asing yang berkunjung ke hutan hujan Amazon di Peru untuk mencari tahu tentang ayahuasca, sebuah ramuan minuman pahit berwarna gelap yang terbuat dari campuran berbagai tanaman asli setempat.

Koktail halusinogen -- yang juga disebut yage -- telah dikenal sejak lama oleh suku-suku asli di Brasil, Peru, Ekuador, dan Kolombia. Ramuan ini diyakini mampu menjadi obat yang ampuh bagi berbagai jenis penyakit.

Namun, oleh para turis Barat -- termasuk dari Kanada, ramuan ini terkadang dijadikan eksperimen untuk mendapat sensasi halusinasi layaknya zat psikotropika, meski terkadang memiliki konsekuensi mematikan.

 

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Terbunuhnya Arevalo Lomas Memicu Kemarahan Luas di Peru

Sementara itu, pembunuhan Arevalo Lomas memicu kemarahan besar di Peru, karena sang tabib dikenal juga sebagai aktivis lingkungan yang mengecam keras pengalihan fungsi hutan hujan Amazon untuk industri.

Sebelumnya, beberapa aktivis lingkungan setempat juga menerima teror yang tidak kalah mengerikan -- meski tidak sampai meninggal -- karena menolak imbauan meninggalkan tanah leluhurnya.

Imbauan alih fungsi lahan di banyak wilayah terpencil di Pegunungan Andes dan lembah Sungai Amazon kerap memicu konflik dengan penduduk setempat.

Beberapa kali juga tercatat orang luar yang dianggap mengganggu, dihukum sepihak oleh penduduk lokal sesuai dengan keputusan adat.

Adapun pemerintah Kanada, baik melalui Kementerian Luar Negeri maupun Kedutaan Besar di Lima, belum memberi keterangan apa pun terkait insiden tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Kanada baru mengeluarkan tanggapan terhadap insiden ini pada Senin, 23 April 2018.

"Kanada menyampaikan belasungkawa terdalam atas meninggalnya Olivia Arevalo Lomas, seorang tetua dan pembela hak asasi manusia setempat," tulis pernyataan resmi dari Kantor Hubungan Luar Negeri Kanada.

"Kami juga sadar bahwa terdapat warga Kanada yang tewas dalam insiden terkait. Kami membuka layanan konsuler terhadap keluarga bersangkutan," lanjut pernyataan tersebut.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Korban Tewas Insiden Van Tabrak Pejalan Kaki di Toronto Jadi 10 Orang
Artikel Selanjutnya
Identitas Sopir Van yang Tabrak Pejalan Kaki di Toronto Terungkap