Sukses

Inggris Akan Melarang Penggunaan Botol dan Sedotan Plastik

Liputan6.com, London - Mulai tahun depan, Inggris akan melarang dengan tegas penggunaan sedotan plastik, cotton bud, dan beberapa produk plastik sekali pakai.

Hal itu dilakukan sebagai bagian dari dari upaya pemerintah untuk memangkas sampah plastik di sungai dan lautan.

Dikutip dari BBC, Jumat (20/4/2018), Perdana Menteri Theresa May menyampaikan informasi tersebut di hadapan para pemimpin negara Persemakmuran, yang melakukan pertemuan besar di London pada Kamis, 19 April 2018.  

"Persemakmuran adalah sebuah komunitas unik, yang memiliki keanekaragaman satwa liar dan lingkungan, sehingga penting untuk memulai tindakan (penanggulangan polusi) sejak sekarang," ujar PM May, mengajak para negara Persemakmuran untuk terlibat aktif dalam pembahasa isu terkait. 

Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra) menjelaskan bahwa di Inggris, cotton bud bekas pakai kerap dibuang ke saluran toilet, yang bisa berisiko terangkut melalui jalur air menuju lautan.

Karena ukurannya yang kecil, tulis laporan tersebut, cotton bud kerap termasak oleh burung dan hewan laut.

Disebutkan pula, bahwa secara keseluruhan, diperkirakan terdapat 150 juta ton sampah plastik di lautan dunia, mengakibatkan lebih dari 100.000 mamalia laut mati karena terjerat atau mengiranya sebagai makanan.

Menurut Menteri Defra, Michael Gove, rencana pelarangan produk plastik sekali pakai tengah dibahas dengan serius pada 2018. Hal ini diharapkan bisa segera diubah menjadi aturan hukum, paling lambat awal tahun depan.

"Hanya melalui kerja sama antara pemerintah, pelaku bisnis, dan publik, kita dapat menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi selanjutnya," jelas Gove.

Pemerintah Skotlandia disebut menjadi yang pertama di Britania Raya yang membahas isu ini di tingkatan lebih serius, yakni sejak Desember 2017.

Beberapa kota di wilayah paling utara di pulau Inggris itu telah menerapkan harga khusus untuk penggunaan produk plastik sekali pakai, seperti cangkir kopi, sedotan, hingga 'kantong kresek' di berbagai toko retail.

Selain itu, pemeritah setempat juga mulai menggalakkan program daur ulang sampah plastik secara mandiri, dengan menyediakan banyak kotak deposit di berbagai titik keramaian.

Setiap sampah plastik yang diserahkan akan berbuah poin, yang kemudian dikonversi menjadi deposit dana untuk kegiatan pelestarian lingkungan.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

 

2 dari 2 halaman

Jumlah Sampah Plastik di Lautan Pasifik Semakin Mengkhawatirkan

Sementara itu, sebuah laporan terbaru tentang isu lingkungan hidup, menyebut jumlah sampah plastik yang mengambang di Samudra Pasifik kian mengkhawatirkan.

Diprediksikan sekitar 80.000 ton sampah plastik menumpuk di sebuah wilayah besar di antara California dan Hawaii.

Jumlah tersebut konon enam belas kali lebih tinggi dari jumlah yang dilaporkan setahun sebelumnya.  

"Konsentrasi plastik meningkat, dan saya pikir situasinya semakin buruk," kata Laurent Lebreton dari The Ocean Cleanup Foundation di Delft, Belanda, yang memimpin penelitian.

"Ini benar-benar sangat mendesak untuk segera diambil tindakan nyata, membersihkan tumpukan sampah plasti di lautan," lanjutnya.

Menurut para peneliti, kumpulan sampah plastik ditemukan di lima wilayah perairan samudera di seluruh dunia. Namun, hanya di area laut antara California dan Hawaii di Pasifik Utara, yang memiliki konsentrasi tertinggi.

Para peneliti menggunakan perahu dan pesawat untuk memetakan daerah ini di Pasifik Utara, di mana arus dan angin berputar menyebabkan sampah laut, termasuk plastik, rumput laut dan plankton, berkumpul.

Upaya pemetaan selama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa polusi laut yang disebabkan sampah plastik, telah meningkat secara eksponensial pada tingkat yang lebih cepat dari sebelumnya.

Mikroplastik menyumbang delapan persen dari total sampah plastik yang mengapung di area seluas 1,6 juta kilometer persegi.

Artikel Selanjutnya
AS: Suriah dan Rusia Berusaha Hilangkan Bukti Serangan Senjata Kimia
Artikel Selanjutnya
Barang Jarahan, Artefak Kuno Malah Dilelang Rp 8 Miliar