Sukses

Elon Musk: Jika Tak Dipantau, Kecerdasan Buatan Bisa Menjadi Diktator Masa Depan

Liputan6.com, Los Angeles - Elon Musk, bos sekaligus pendiri firma teknologi antariksa revolusioner SpaceX, kembali menyatakan imbauan bagi generasi modern terkait kekhawatirannya terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Jika tidak diatur atau dikendalikan segera, kecerdasan buatan akan menjadi "diktator abadi" di Bumi. Dan, jika hal itu terjadi, maka tidak akan ada jalan keluar bagi manusia. Kata Musk seperti dilansir Financial Express (8/4/2018).

"Sejarah menunjukkan, diktator akan selalu mati atau berhasil ditumpaskan. Tapi, jika diktator itu adalah AI, maka ia tak akan mati. Ia akan hidup selamanya, dan kemudian Anda memiliki seorang diktator abadi, yang mana kita tidak akan pernah bisa melarikan diri darinya," ujar Musk.

Imbauan itu Musk utarakan saat menghadiri peluncuran film dokumenter berjudul "Do You Trust This Computer?" yang disutradarai oleh Chris Paine -- sineas Amerika Serikat yang kerap mempublikasikan karya dokumenter bertema perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap peradaban manusia.

"Jika AI sudah memiliki tujuan dan ternyata umat manusia menjadi penghalang, ia akan menghancurkan Anda. Tanpa pikir panjang," lanjut pencipta Tesla itu.

Musk telah konsisten menjadi pengkritik AI dan meminta peraturan yang sangat ketat untuk mengekang teknologi semacam itu.

Dalam sebuah tweet baru-baru ini misalnya, Musk mengatakan bahwa orang-orang justru harus lebih waspada terhadap kecerdasan buatan ketimbang risiko yang ditimbulkan oleh Korea Utara.

Elon Musk (AFP)

"Anda seharusnya khawatir tentang keamanan AI ... Ia jauh lebih berisiko daripada Korea Utara," kicau Musk.

Bahkan, demi menunjukkan komitmennya, bos SpaceX itu juga telah keluar dari dewan OpenAI, sebuah perusahaan riset AI non-profit -- di mana Musk merupakan salah satu pendirinya -- yang bertujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan kecerdasan buatan yang ramah dan bermanfaat bagi kemanusiaan.

Sementara itu, pada tahun 2014, Musk juga mengatakan bahwa AI adalah ancaman eksistensial terbesar bagi umat manusia generasi mendatang.

Ia juga menambahkan bahwa PBB perlu bertindak untuk mencegah perlombaan senjata robot pembunuh yang merupakan produk sampingan dari AI.

Musk telah berbicara sering tentang AI dan telah menyebut kemajuannya sebagai "risiko terbesar yang kita hadapi sebagai peradaban".

Ilustrasi evolusi mengarah kepada mesin kecerdasan buatan. (Sumber Wikimedia Commons/Fonytas)

"AI adalah kasus langka. Kita harus proaktif dalam regulasi bukannya reaktif. Karena, jika kita reaktif dalam peraturan AI, maka hal itu sungguh terlambat," kata Elon Musk.

Kala mengkampanyekan pandangan kekhawatirannya terhadap AI, tak jarang Musk kerap bersinggungan dengan pakar teknologi lain.

Dalam adu mulut baru-baru ini dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg -- yang mendukung teknologi AI -- Musk mengatakan, "Saya sudah bicara dengan Mark tentang kecerdasan buatan. (Saya menyimpulkan) bahwa pemahamannya tentang subjek itu sungguh terbatas".

Zuckerberg sendiri menimpali pernyataan Musk. Bos Facebook itu beranggapan bahwa Musk -- dan ilmuwan lain yang memiliki kekhawatiran serupa -- justru bersikap sangat paranoid dengan teknologi kecerdasan buatan.

"Orang-orang yang menentang dan mencoba menghidupkan skenario kiamat akibat AI, sungguh, saya tidak memahami mereka. Pernyataan mereka benar-benar negatif. Dan, dalam beberapa hal, saya berpikir bahwa komentar semacam itu sangat tidak bertanggung jawab," ujar Zuckerberg mengomentari Elon Musk.

Saksian juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Do You Trust This Computer?

Seperti dikutip dari The Hollywood Reporter, film dokumenter Do You Trust This Computer? memvisualisasikan beragam pandangan tentang betapa kecerdasan buatan telah sangat mempengaruhi kehidupan manusia -- membawa perubahan bagi masyarakat, baik atau buruk.

Film itu juga mengulik moralitas penonton dengan beragam contoh kasus yang bernuansa etika teknologi dan hubungannya terhadap kehidupan manusia.

"Dapatkah Anda mempercayai robot bedah otomatis, sebagaimana Anda mempercayai dokter bedah manusia? Bagaimana jika kecerdasan buatan dalam firma 'Big Data' seperti Cambridge Analytica jatuh ke tangan para diktator, atau lebih buruk lagi, menjadi diktator itu sendiri? Bagaimana dengan rencana me-militerisasi-kan kecerdasan buatan sebagai senjata, akankah kita melakukannya terlepas dari bahaya yang ada?" tulis The Hollywood Reporter.

Pada acar peluncuran film itu, Elon Musk, seraya memuji sang sutradara Chris Paine, menganjurkan agar publik menonton sinema tersebut.

"Gagasan yang disampaikan film ini sangat penting dan sangat mempengaruhi kehidupan kita," kata Musk.

Sementara itu, Sean Gourley, CEO perusahaan mesin intelijen Primer, dan Rana El Kaliouby, CEO perusahaan teknologi pengenalan wajah Affectiva, yang turut hadir dalam acara tersebut turut mengkritisi kekhawatiran Musk. Termasuk, gagasan regulasi hukum terhadap program pengembangan kecerdasan buatan.

"Apakah setiap baris kode (program AI) harus ditinjau? Padaha Anda tahu, kecepatan perkembangan teknologi ini sangat sulit untuk diawasi," kata Gourley.

Sedangkan El Kaliouby mendesak agar beberapa organisasi teknologi pemantau yang telah ada, seperti Partnership on AI -- konsorsium firma teknologi (Google, DeepMind, Amazon) dan LSM HAM Amnesty International yang bergelut dalam bidang kajian etis mengenai teknologi kecerdasan buatan -- untuk melakukan pengawasan ekstra secara lebih dini.

"Idenya adalah bahwa kita semua menangani secara bersama-sama sedari awal," kata El Kaliouby

"Karena, jika kita baru menanganinya ketika sudah ada undang-undang, itu sudah terlambat," tambahnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Kecerdasan Buatan Semakin Mengancam, Elon Musk: Dia Bisa Jadi Diktator
Artikel Selanjutnya
Google Diprotes Ribuan Karyawan Gara-Gara Kembangkan AI untuk Militer