Sukses

Presiden Emmanuel Macron: Pekerjaan Saya Tidak Keren

Liputan6.com, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, hidup sebagai salah satu pemimpin negara dunia adalah suatu hal yang tidak keren.

Pernyataan Macron tersebut disampaikan seteleh bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia mengungkapkan hal tersebut setelah mendapat pertanyaan dari majalah Le Point terkait apakah dirinya ingin menjadi seorang yang keren dalam panggung dunia.

Macron menjawab, "Panggung dunia sebenarnya tidak keren."

Ketika diminta untuk memperjelas omongannya, tanpa menjelaskan detail, ia hanya memberi contoh bahwa dirinya satu-satunya pemimpin dunia yang berkomunikasi dengan Presiden Erdogan sepuluh hari sekali.

Erdogan merupakan pemimpin yang selalu dikritik pemimpin Eropa Barat. Tak cuma itu, ia kerap dituding Uni Eropa melakukan pelanggaran terhadap HAM. Demikian dilansir dari US News, Kamis (31/8/2017).

Pertemuan Macron dan Erdogan ditujukan untuk membahas nasib seorang jurnalis Prancis yang dipenjara di Turki.

Meski isu pembahasan sensitif, Macron memastikan dirinya tidak mengkritik atau mencela keputusan Erdogan.

"Pembicaraan saya dengan Erdogan pastinya selalu serius," papar dia.

2 dari 2 halaman

Popularitas Menurun

Seiring dengan pengakuan Presiden Macron bahwa pekerjaannya tidak keren, popularitas pria 39 ini tengah merosot tajam. Bahkan jatuh lebih cepat dibanding para pendahulunya.

Hal tersebut ditunjukkan oleh sebuah jajak pendapat yang dirilis pada hari Minggu, ketika Macron bersiap mendorong reformasi perburuhan.

Lebih dari separuh pemilih Prancis, atau sekitar 57 persen, menyatakan tidak puas dengan kepemimpinan Macron setelah pada pekan lalu terungkap bahwa sang presiden menghabiskan Rp 409 juta untuk membayar seorang penata rias selama tiga bulan menjabat. Ini dilakukan Macron demi menyempurnakan penampilannya di muka publik.

Sebelumnya juga muncul protes publik atas wacana pemberian peran konstitusional bagi istrinya, Brigitte Trogneux. Warga juga dikabarkan tidak puas atas penundaan pemotongan pajak yang dijanjikannya. Demikian seperti dikutip dari Telegraph. 

Jajak pendapat yang dilakukan Ifop menunjukkan, hanya 40 persen warga Prancis yang masih mendukung kepemimpinan Macron. Angka tersebut menurun 14 persen sejak Juli. Namun, ada pula jajak pendapat lain yang menyebut angka dukungan terhadap Macron jauh lebih rendah, yakni 36 persen.

Pada hari Kamis pekan lalu, unjuk rasa pertama pasca-kepemimpinan Macron pecah. Demonstrasi dilakukan oleh serikat pekerja dan kubu kiri terkait dengan reformasi kontroversialnya yang ditujukan untuk membuat perusahaan-perusahaan Prancis lebih kompetitif.

Tantangan lain bagi Macron adalah meyakinkan sebagian besar warga Prancis yang sangat kritis terhadap keanggotaan negara itu di Uni Eropa. Menurut sebuah survei baru-baru ini yang dilakukan oleh Chatham House, hanya 29 persen warga Prancis yang percaya bahwa negara mereka memperoleh keuntungan dari Uni Eropa.

Menanggapi turunnya popularitas Macron, Juru Bicara pemerintah Prancis, Christophe Castaner, mengatakan, "Transformasi Prancis berarti mendekat dengan ketidakpopuleran".

Saksikan video menarik berikut ini:

Loading