Sukses

6 Anak Tewas Demi Menyelamatkan Foto Ayah dan Kakek Kim Jong-un

Liputan6.com, Pyongyang - Banjir parah melanda sebagian Korea Utara pada Agustus dan September 2016. Akibatnya bikin nelangsa, puluhan ribu orang -- terutama anak-anak -- kehilangan tempat tinggal dan hidup di penampungan hingga kini. Padahal, musim dingin yang membekukan segera berlangsung akhir Oktober ini.

Sekitar 130 orang meninggal dunia dan 395 lainnya masih hilang akibat banjir di Provinsi Hamgyong Utara. Dari bencana itu, muncul lah kisah tragis ini:

Enam anak Korea Utara meninggal, mereka tenggelam dan terseret aliran bah karena melaksanakan perintah guru mereka: untuk kembali ke kelas demi menyelamatkan beberapa potret keluarga Kim Jong-un ketika sekolah mereka kebanjiran.

Dikutip dari Daily Mail pada Sabtu (8/10/2016), peristiwa nahas yang dilaporkan dalam laman berita Daily NK terjadi pada bulan Agustus lalu, ketika banjir parah terjadi di Hamgyong Utara.

Kisah itu baru terkuak setelah badan kemanusiaan sedang berupaya menyelamatkan ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir yang disebabkan oleh Topan Lionrock tersebut. Namun, kebenaran kabar tersebut belum terkonfirmasi. Belum ada tanggapan dari pihak Pyongyang.

Para pelajar yang meninggal berasal dari sebuah sekolah di Hoeryong. Sumber situs berita menyebutkan mereka meninggal ketika mencoba menyelamatkan foto-foto Kim Il Sung dan Kim Jong Il, yaitu kakek dan ayah dari pemimpin Korut sekarang, Kim Jong-un.

Menurut sumber itu, "Di sekolah Songhak, dekat Hoeryong, ada 7 orang pengajar termasuk wakil kepala sekolah dan 6 orang siswa kehilangan nyawa ketika mencoba menyelamatkan potret dan lukisan cat minyak  itu dari banjir."

"Wakil kepala sekolah khawatir dihukum kalau tidak melindungi gambar yang dipuja tersebut sehingga ia menetapkan keadaan darurat."

Potret-potret merupakan bagian penting kultus kepribadian yang diciptakan oleh dinasti Kim sejak pendirian Republik Rakyat Demokratik Korea. (Sumber IFRC)

Potret-potret para pemimpin merupakan unsur penting kultus kepemimpinan yang diciptakan oleh Dinasti Kim sejak berdirinya Republik Rakyat Demokratik Korea pada 1948.

2 dari 2 halaman

Memuja Foto Pemimpin

Jutaan gambar dipajang di rumah-rumah, sekolah-sekolah dan kantor. Tak hanya berfungsi dekorasi, potret-potret itu juga dipuja -- sebagai pengingat akan 'jasa' dinasti itu pada negara.

Warga diminta memperlakukan potret-potret secara hormat, bahkan hingga menjurus kepada pemujaan. Gambar-gambar mereka juga diperiksa secara ketat demi mempertahankan status kesucian.

Potret-potret harus dipajang secara jelas dan digantung tinggi supaya tidak ada yang bisa berdiri lebih tinggi daripada sang pemimpin. Warga wajib membersihkan gambar secara teratur dari debu yang menempel dan ada petugas yang menginspeksi kebersihannya.

Warga Korut yang menyelamatkan gambar-gambar keluarga Kim, daripada keselamatan diri dan orang lain, diangga sebagai pahlawan. Sebaliknya, barang siapa membiarkannya rusak bakal diganjar hukuman.

Kegagalan melindungi potret-potret para pemimpin akan ditulis dalam rekam jejak seseorang seumur hidup. Catatan negatif bisa merusak masa depan mereka.

"Kalau bukan karena kesetiaan yang dipaksakan oleh wakil kepala sekolah, mereka bisa terhindar dari celaka. Kesetiaan yang dituntut oleh partai menjerumuskan mereka dalam kematian."

Potret-potret merupakan bagian penting kultus kepribadian yang diciptakan oleh dinasti Kim sejak pendirian Republik Rakyat Demokratik Korea. (Sumber IFRC)

Kondisi di provinsi Hamgyong masih berbahaya, demikian menurut Federasi Palang Merah Internasional (IFCR) ketika menggalang dana US$ 20 juta pada pekan ini.

"Perlu tindakan segera sebelum turunnya salju pertama," kata Chris Staines, kepala delegasi IFRC.

"Tahun lalu, pada minggu ke tiga bulan Oktober. Orang kekurangan tempat berteduh, pakaian, dan sejumlah benda pokok lainnya supaya tetap hangat dan sehat melewati musim dingin."

Cuplikan video Hamgyong terbitan IFRC menunjukkan kerusakan bangunan-bangunan dan warga yang terpaksa tinggal di tempat-tempat penampungan.

Sekitar 600 ribu warga Korut dilaporkan terdampak secara langsung oleh bencana ini dan beberapa desa yang kebanjiran masih belum dapat dijangkau.

Program Pangan Dunia (World Food Programme, WFP) memperingatkan bahwa banjir telah merusak panen menjelang masa panen, sehingga mengancam tambahan bala kelaparan pada lebih dari 70 persen penduduk yang sekarang pun sudah kekurangan.

WFP mengatakan memerlukan US$1,2 juta untuk menimbun stok darurat bagi wanita dan anak-anak, serta tambahan US$ 21 juta untuk bisa memberikan pertolongan hingga Agustus tahun depan.

Loading