Liputan6.com, Manila: Faturrahman Al-Ghozi, tersangka ahli bom Jamaah Islamiyah (JI) yang kabur dari penjara Filipina dilaporkan tewas. Ia tertembak dalam kontak senjata dengan Tim Gabungan Militer dan Kepolisian Filipina di Kota Pigkawayan, Provinsi Cotabato Utara, 960 kilometer sebelah selatan Manila, Filipina, Ahad (12/10) malam. Kepastian tewasnya Al-Ghozi ini diumumkan Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Letnan Jenderal Rodolfo Garcia di Manila. Tersiar kabar jenazah Al-Ghozi sudah dibawa ke General Santos City.
Al-Ghozi yang dituding sebagai anggota kelompok JI melarikan diri dari penjara Camp Crame Filipina, 14 Juli silam [baca: Al-Ghozi Kabur dari Bui Filipina]. Selain kasus kepemilikan bahan peledak seberat satu ton dan pemalsuan dokumen keimigrasian, warga Indonesia itu juga dituduh sebagai pelaksana serangan bom di Manila pada Desember 2000. Bahkan Al-Ghozi pun diyakini terkait dengan sejumlah serangan terorisme lain di Filipina.
Faturrahman Al-Ghozi alias Randy Ali mulai mencuat sejak ia ditetapkan oleh pemerintah Filipina sebagai tersangka pelaku serangkaian peledakan bom di Manila. Al-Ghozi ditangkap 15 Januari 2002, saat akan kabur ke Bangkok, Thailand. Lantas lelaki asal Desa Mojorejo-Kebonsari, Madiun, Jawa Timur tersebut diadili.
Majelis hakim Pengadilan Filipina mendakwa pengeboman itu didanai oleh kelompok JI dengan Al-Ghozi sebagai perantaranya. Komandan Gerakan Pembebasan Islam Moro (MILF) Saefulah Yunos atau Mukhlis yang juga duduk sebagai terdakwa mengakui aliran dana dari kelompok JI yang disalurkan melalui Al-Ghozi. Selain itu, Al-Ghozi juga pernah bertemu dengan Ridwan Ismuddin atau Hambali dan Fais Abu Bakar Bafana pada Desember 2000, sebelum pengeboman. Atas bukti tersebut, majelis Pengadilan Filipina akhirnya memvonis Al-Ghozi dengan hukuman 17 tahun penjara pada 18 Juni 2003.
Belum genap sebulan mendekam di penjara atau tepatnya 14 Juli 2003, Al-Ghozi bersama dua anggota MILF buron dari penjara Camp Crame. Al-Ghozi pun masuk dalam daftar orang yang paling dicari pemerintah Filipina. Bahkan pemerintah Filipina langsung menerjunkan sejumlah tim untuk mengejar Al-Ghozi [baca: Filipina Membentuk 63 Tim Pelacak Al-Ghozi]. Tak hanya itu, Manila pun menyediakan hadiah sebesar 10 juta peso atau sekitar Rp 1,5 miliar bagi siapapun yang dapat menangkap Al-Ghozi.
Perburuan tak terbatas di Filipina saja, Manila juga meminta bantuan interpol untuk menangkap buronan nomor satu negeri itu, termasuk kepada Indonesia [baca: Indonesia Diminta Bantuan Menangkap Al-Ghozi]. Seorang dari dua rekan kabur Al-Ghozi pun tewas ditembak militer Filipina. Sedangkan seorang lagi ditangkap pekan silam.
Kaburnya Al-Ghozi sangat mencoreng muka Filipina di mata internasional. Apalagi saat itu Perdana Menteri Australia John Howard tengah berkunjung ke Manila. Namun kini Filipina boleh berbangga. Sebab, mereka telah menangkap orang yang paling dicari tersebut dalam keadaan tewas menjelang lawatan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush pada 18 Oktober nanti.(DEN/Yumi Uriona)
Al-Ghozi yang dituding sebagai anggota kelompok JI melarikan diri dari penjara Camp Crame Filipina, 14 Juli silam [baca: Al-Ghozi Kabur dari Bui Filipina]. Selain kasus kepemilikan bahan peledak seberat satu ton dan pemalsuan dokumen keimigrasian, warga Indonesia itu juga dituduh sebagai pelaksana serangan bom di Manila pada Desember 2000. Bahkan Al-Ghozi pun diyakini terkait dengan sejumlah serangan terorisme lain di Filipina.
Faturrahman Al-Ghozi alias Randy Ali mulai mencuat sejak ia ditetapkan oleh pemerintah Filipina sebagai tersangka pelaku serangkaian peledakan bom di Manila. Al-Ghozi ditangkap 15 Januari 2002, saat akan kabur ke Bangkok, Thailand. Lantas lelaki asal Desa Mojorejo-Kebonsari, Madiun, Jawa Timur tersebut diadili.
Majelis hakim Pengadilan Filipina mendakwa pengeboman itu didanai oleh kelompok JI dengan Al-Ghozi sebagai perantaranya. Komandan Gerakan Pembebasan Islam Moro (MILF) Saefulah Yunos atau Mukhlis yang juga duduk sebagai terdakwa mengakui aliran dana dari kelompok JI yang disalurkan melalui Al-Ghozi. Selain itu, Al-Ghozi juga pernah bertemu dengan Ridwan Ismuddin atau Hambali dan Fais Abu Bakar Bafana pada Desember 2000, sebelum pengeboman. Atas bukti tersebut, majelis Pengadilan Filipina akhirnya memvonis Al-Ghozi dengan hukuman 17 tahun penjara pada 18 Juni 2003.
Belum genap sebulan mendekam di penjara atau tepatnya 14 Juli 2003, Al-Ghozi bersama dua anggota MILF buron dari penjara Camp Crame. Al-Ghozi pun masuk dalam daftar orang yang paling dicari pemerintah Filipina. Bahkan pemerintah Filipina langsung menerjunkan sejumlah tim untuk mengejar Al-Ghozi [baca: Filipina Membentuk 63 Tim Pelacak Al-Ghozi]. Tak hanya itu, Manila pun menyediakan hadiah sebesar 10 juta peso atau sekitar Rp 1,5 miliar bagi siapapun yang dapat menangkap Al-Ghozi.
Perburuan tak terbatas di Filipina saja, Manila juga meminta bantuan interpol untuk menangkap buronan nomor satu negeri itu, termasuk kepada Indonesia [baca: Indonesia Diminta Bantuan Menangkap Al-Ghozi]. Seorang dari dua rekan kabur Al-Ghozi pun tewas ditembak militer Filipina. Sedangkan seorang lagi ditangkap pekan silam.
Kaburnya Al-Ghozi sangat mencoreng muka Filipina di mata internasional. Apalagi saat itu Perdana Menteri Australia John Howard tengah berkunjung ke Manila. Namun kini Filipina boleh berbangga. Sebab, mereka telah menangkap orang yang paling dicari tersebut dalam keadaan tewas menjelang lawatan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush pada 18 Oktober nanti.(DEN/Yumi Uriona)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136323/original/018303500_1739855855-cek_fakta_keroncong.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342869/original/054403100_1757402619-IMG-20250909-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/401800/original/131003aAl_Ghodzi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)