Nama Raja-Raja Tarumanegara, Fakta Sejarah dan Masa Pemerintahannya

Daftar lengkap nama raja kerajaan Tarumanegara dari Jayasingawarman hingga Linggawarman beserta masa pemerintahan dan pencapaiannya

Diterbitkan 16 September 2025, 18:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan jejak penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di wilayah Jawa Barat, kerajaan bercorak Hindu ini dikenal sebagai pusat politik, ekonomi, dan kebudayaan pada masanya. Tidak heran jika nama para rajanya selalu menjadi topik menarik untuk dipelajari karena mencerminkan dinamika kekuasaan kala itu.

Menelusuri daftar raja Kerajaan Tarumanegara bukan hanya sekadar melihat nama dan gelar, melainkan juga memahami bagaimana mereka memimpin, menghadapi tantangan, hingga membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Sumber-sumber sejarah berupa prasasti dan catatan kuno menjadi bukti penting yang mengungkap masa pemerintahan para raja beserta kontribusinya.

Berikut daftar nama raja Tarumanegara lengkap dengan masa pemerintahannya. 

 

Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua kedua di Nusantara setelah Kerajaan Kutai yang memiliki peranan penting dalam sejarah peradaban Indonesia. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-4 Masehi ini telah dipimpin oleh dua belas raja yang berbeda sepanjang masa kejayaannya hingga keruntuhannya pada abad ke-7 Masehi. Setiap pemimpin memiliki kontribusi unik dalam membangun dan mengembangkan kerajaan yang berlokasi di tepi Sungai Citarum, Jawa Barat ini.

Berikut adalah daftar lengkap nama raja Kerajaan Tarumanegara beserta masa pemerintahan mereka:

  1. Jayasingawarman (358-382 M) - Pendiri dan raja pertama Kerajaan Tarumanegara yang berasal dari India, tepatnya dari Dinasti Salankayana. Beliau merupakan seorang Maharesi yang melarikan diri akibat serangan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magadha.
  2. Dharmayawarman (382-395 M) - Putra dan penerus Jayasingawarman yang memimpin kerajaan selama 13 tahun. Informasi mengenai masa pemerintahannya sangat terbatas dalam catatan sejarah.
  3. Purnawarman (395-434 M) - Raja ketiga yang membawa Tarumanegara mencapai puncak kejayaannya. Dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, berani, dan memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun infrastruktur kerajaan.
  4. Wisnuwarman (434-455 M) - Raja keempat yang memerintah selama 21 tahun dan melanjutkan warisan kepemimpinan dari pendahulunya dalam mengembangkan kerajaan.
  5. Indrawarman (455-515 M) - Pemimpin kelima yang memiliki masa pemerintahan terpanjang, yakni selama 60 tahun, menunjukkan stabilitas politik yang kuat pada masa tersebut.
  6. Candrawarman (515-535 M) - Raja keenam yang merupakan putra dari Indrawarman dan memerintah selama 20 tahun dalam melanjutkan dinasti kerajaan.
  7. Suryawarman (535-561 M) - Pemimpin ketujuh yang berkuasa selama 26 tahun dan berusaha mempertahankan kestabilan kerajaan di tengah tantangan internal dan eksternal.
  8. Kertawarman (561-628 M) - Raja kedelapan dengan masa pemerintahan yang cukup panjang, yakni 67 tahun, menandakan periode kepemimpinan yang stabil.
  9. Sudhawarman (628-639 M) - Pemimpin kesembilan yang memerintah selama 11 tahun pada masa ketika kerajaan mulai mengalami kemunduran dan tantangan dari berbagai pihak.
  10. Hariwangsawarman (639-640 M) - Raja kesepuluh dengan masa pemerintahan terpendek, hanya satu tahun, yang menunjukkan ketidakstabilan politik pada periode tersebut.
  11. Nagajayawarman (640-666 M) - Pemimpin kesebelas yang berkuasa selama 26 tahun dan berusaha mempertahankan kerajaan di tengah tekanan dari kerajaan-kerajaan tetangga.
  12. Linggawarman (666-669 M) - Raja terakhir Kerajaan Tarumanegara yang memerintah selama 3 tahun sebelum kerajaan mengalami perpecahan dan keruntuhan.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara

Dikutip dari buku Sejarah Politik dan Kekuasaan karya Diah Puspita (2025), pembentukan Kerajaan Tarumanegara tidak dapat dipisahkan dari kisah kedatangan Maharesi Jayasingawarman dari tanah India. Tokoh yang berasal dari Dinasti Salankayana ini terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya akibat kekacauan dan penjajahan yang dilakukan oleh pasukan Maharaja Samudragupta dari Kemaharajaan Gupta. Perjalanan panjang membawanya hingga ke Nusantara, tepatnya ke wilayah Kerajaan Salakanagara yang dipimpin oleh Raja Dewawarman VIII.

Kedatangan Jayasingawarman mendapat sambutan hangat dari penguasa setempat. Hubungan diplomatik yang baik bahkan diperkuat melalui pernikahan dengan salah satu putri Raja Dewawarman VIII. Setelah pernikahan tersebut, Jayasingawarman memperoleh izin untuk membuka wilayah kekuasaan baru di daerah yang kini dikenal sebagai Bekasi, dekat dengan aliran Sungai Citarum.

Pada tahun 358 Masehi, Jayasingawarman secara resmi mendirikan kerajaan yang diberi nama Taruma, yang kemudian berkembang menjadi Tarumanegara atau Tarumanagara. Nama ini diambil dari pohon Tarum yang tumbuh subur di wilayah tersebut dan telah lama dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai pewarna kain dan pengawet pakaian. Selama 24 tahun kepemimpinannya, Jayasingawarman berhasil meletakkan fondasi yang kuat bagi kerajaan yang akan mencapai kejayaan di bawah penerusnya.

Masa Kejayaan di Bawah Raja Purnawarman

Puncak kejayaan Kerajaan Tarumanegara tercapai pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, cucu dari pendiri kerajaan. Pemimpin yang berkuasa dari tahun 395 hingga 434 Masehi ini dikenal memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, dan karisma yang luar biasa. Berbagai prasasti yang ditemukan menggambarkan sosoknya sebagai raja yang gagah berani, tidak terkalahkan dalam pertempuran, dan sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Salah satu pencapaian terbesar Purnawarman adalah pembangunan infrastruktur yang revolusioner untuk zamannya. Beliau memerintahkan penggalian Sungai Candrabaga (cikal bakal Sungai Citarum) sepanjang 12 kilometer dan Sungai Gomati yang mengalir ke laut. Proyek ambisius ini diselesaikan dalam waktu 21 hari dan bertujuan untuk mengatasi masalah banjir yang kerap melanda wilayah kerajaan serta memperlancar sistem irigasi pertanian.

Keberhasilan proyek infrastruktur ini dirayakan dengan upacara besar-besaran, termasuk persembahan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana sebagai bentuk syukur dan sedekah. Peristiwa ini menunjukkan kemakmuran ekonomi kerajaan pada masa tersebut, sekaligus mencerminkan nilai-nilai religius yang dijunjung tinggi dalam pemerintahan.

Di bawah kepemimpinan Purnawarman, wilayah kekuasaan Tarumanegara berhasil diperluas hingga mencakup hampir seluruh Jawa Barat, mulai dari Banten hingga Cirebon. Kerajaan berhasil menguasai 48 kerajaan kecil di sekitarnya, menjadikan Tarumanegara sebagai kekuatan dominan di wilayah tersebut. Purnawarman juga mendirikan ibu kota baru bernama Sundapura pada tahun 397 Masehi, yang kelak menjadi asal-usul nama "Sunda" bagi masyarakat Jawa Barat.

Kondisi Politik dan Pemerintahan

Sistem pemerintahan Kerajaan Tarumanegara menganut monarki absolut, di mana raja memiliki kekuasaan penuh dalam menjalankan pemerintahan. Struktur politik kerajaan sangat dipengaruhi oleh tradisi Hindu India, tercermin dari penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa dalam prasasti-prasasti resmi kerajaan.

Raja Purnawarman dikenal sebagai pemimpin yang sangat terorganisir dalam menjalankan pemerintahan. Beliau menyusun berbagai regulasi penting, termasuk undang-undang kerajaan, peraturan militer, strategi perang, dan silsilah Dinasti Warman. Sistem administrasi yang tertata rapi ini memungkinkan kerajaan untuk berkembang pesat dan mempertahankan stabilitas politik dalam jangka waktu yang lama.

Dalam menjalankan pemerintahan, Purnawarman dibantu oleh kedua adiknya yang memegang posisi strategis. Cakrawarman bertugas sebagai panglima perang yang mengurus pertahanan darat, sementara Nagawarman menjabat sebagai panglima laut yang mengelola kekuatan maritim kerajaan. Pembagian tugas yang jelas ini mencerminkan sistem pemerintahan yang profesional dan efektif.

Kehidupan Ekonomi dan Sosial Masyarakat

Perekonomian Kerajaan Tarumanegara bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan, didukung oleh lokasi strategis di tepi sungai yang menyediakan sistem irigasi alami. Masyarakat umumnya bermata pencaharian sebagai petani yang mengolah sawah dan ladang dengan memanfaatkan sistem pengairan yang telah dibangun oleh pemerintah kerajaan.

Selain pertanian, sektor peternakan juga berkembang pesat, terbukti dari kemampuan kerajaan untuk mempersembahkan ribuan ekor sapi dalam upacara keagamaan. Kegiatan ekonomi lainnya meliputi perburuan hewan, perdagangan cula badak, kulit penyu, dan perak. Lokasi kerajaan yang strategis di jalur perdagangan juga mendorong berkembangnya aktivitas perdagangan dengan wilayah lain, termasuk Tiongkok.

Struktur sosial masyarakat Tarumanegara terbagi menjadi dua golongan utama. Golongan pertama adalah kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan yang menganut agama Hindu, sementara golongan kedua terdiri dari masyarakat biasa yang masih mempertahankan kepercayaan nenek moyang. Meskipun terdapat perbedaan status sosial, kedua golongan ini hidup berdampingan secara harmonis dan saling bekerja sama dalam membangun kemajuan kerajaan.

Peninggalan Prasasti dan Arkeologis

Keberadaan Kerajaan Tarumanegara dibuktikan oleh berbagai peninggalan arkeologis, terutama tujuh prasasti yang ditemukan tersebar di wilayah Jawa Barat. Prasasti-prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, memberikan informasi berharga tentang sejarah dan pencapaian kerajaan.

Prasasti Ciaruteun yang ditemukan di Ciampea, Bogor, menampilkan ukiran tapak kaki Raja Purnawarman yang disamakan dengan jejak kaki Dewa Wisnu. Prasasti Jambu berisi pujian terhadap keberanian dan kegagahan Purnawarman dalam memimpin kerajaan. Sementara Prasasti Tugu mencatat proyek besar penggalian sungai yang menjadi bukti kemajuan teknologi pada masa tersebut.

Peninggalan lainnya berupa Prasasti Kebon Kopi yang menggambarkan tapak kaki gajah Airawata, Prasasti Cidanghiang yang memuji keperwiraan raja, serta Prasasti Muara Cianten dan Prasasti Pasir Awi yang memberikan informasi tambahan tentang wilayah kekuasaan kerajaan.

Selain prasasti, ditemukan pula kompleks percandian di Batujaya dan Cibuaya yang menunjukkan kemajuan arsitektur dan seni pada masa Tarumanegara. Berbagai arca Hindu seperti Wisnu, Siwa, dan Durga juga ditemukan di bekas wilayah kerajaan, mencerminkan kehidupan keagamaan yang berkembang pada masa tersebut.

Hubungan Diplomatik dan Perdagangan Internasional

Kerajaan Tarumanegara, khususnya di bawah kepemimpinan Raja Purnawarman, menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan berbagai kerajaan di Asia. Catatan dari musafir Tiongkok seperti Fa Hien yang terdampar di wilayah Tarumanegara pada tahun 414 Masehi memberikan gambaran tentang kondisi kerajaan pada masa tersebut.

Hubungan dengan Dinasti Tiongkok terjalin cukup erat, terbukti dari catatan Dinasti Soui yang menyebutkan kedatangan utusan dari Tolomo (Taruma) pada tahun 528 dan 535 Masehi. Demikian pula dengan Dinasti Tang yang mencatat kunjungan diplomatik pada tahun 666 dan 669 Masehi. Hubungan diplomatik ini tidak hanya memperkuat posisi politik kerajaan, tetapi juga membuka peluang perdagangan internasional yang menguntungkan.

Kegiatan perdagangan dengan Tiongkok meliputi ekspor berbagai komoditas lokal seperti cula badak, kulit penyu, dan perak. Sebaliknya, Tarumanegara mengimpor berbagai barang mewah dan teknologi dari Tiongkok yang mendukung kemajuan peradaban kerajaan.

Faktor-Faktor Kemunduran dan Keruntuhan

Kemunduran Kerajaan Tarumanegara dimulai pada masa pemerintahan raja-raja setelah Purnawarman. Meskipun beberapa penerusnya berhasil mempertahankan stabilitas, kerajaan secara bertahap kehilangan kekuatan dan pengaruhnya. Puncak kemunduran terjadi pada masa pemerintahan Raja Linggawarman, raja terakhir yang berkuasa dari tahun 666 hingga 669 Masehi.

Setelah kematian Linggawarman, terjadi krisis suksesi yang memicu perpecahan internal. Tarusbawa, menantu Linggawarman, memilih untuk tidak melanjutkan kepemimpinan Tarumanegara dan lebih memfokuskan diri pada pengembangan Kerajaan Sunda yang sebelumnya merupakan kerajaan bawahan. Keputusan ini menyebabkan fragmentasi kekuasaan dan melemahkan struktur politik kerajaan.

Faktor eksternal juga berperan dalam keruntuhan Tarumanegara. Serangan dari Kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa sekitar tahun 650 Masehi melemahkan pertahanan kerajaan. Prasasti Kota Kapur menyebutkan serangan terhadap Bhumi Jawa karena kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut menolak tunduk kepada Sriwijaya.

Perpecahan internal semakin parah ketika Kerajaan Galuh, yang juga berada di bawah kekuasaan Tarumanegara, memutuskan untuk menarik diri dan membentuk pemerintahan sendiri. Akibatnya, wilayah bekas Kerajaan Tarumanegara terpecah menjadi dua kerajaan terpisah: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, yang dipisahkan oleh Sungai Citarum.

Warisan dan Pengaruh Terhadap Peradaban Nusantara

Meskipun telah runtuh pada abad ke-7 Masehi, Kerajaan Tarumanegara meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi peradaban Nusantara. Sebagai salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia, Tarumanegara berperan penting dalam penyebaran dan pengembangan budaya Hindu-India di wilayah Jawa Barat.

Sistem pemerintahan yang terorganisir, teknologi irigasi yang maju, dan tradisi penulisan prasasti menjadi fondasi bagi perkembangan kerajaan-kerajaan selanjutnya di Jawa. Nama "Sunda" yang berasal dari ibu kota Sundapura terus digunakan hingga kini sebagai identitas budaya masyarakat Jawa Barat.

Pencapaian dalam bidang teknik sipil, khususnya pembangunan sistem irigasi dan pengendalian banjir, menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi. Solusi yang diterapkan Raja Purnawarman untuk mengatasi masalah banjir di wilayah Jabodetabek pada masa itu dapat menjadi inspirasi bagi penanganan masalah serupa di era modern.

Tradisi diplomasi dan perdagangan internasional yang dikembangkan Tarumanegara juga menjadi contoh bagi kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya dalam menjalin hubungan dengan dunia luar. Warisan ini menunjukkan bahwa sejak masa klasik, wilayah Indonesia telah menjadi bagian integral dari jaringan perdagangan dan diplomasi Asia.

People Also Ask

1. Siapa raja pertama Kerajaan Tarumanegara?

Raja pertama Tarumanegara adalah Rajadirajaguru Jayasingawarman yang memerintah sekitar abad ke-4 M. Ia dikenal sebagai pendiri kerajaan dan meletakkan dasar pemerintahan Hindu beraliran Wisnu di Jawa Barat.

2. Siapa raja Tarumanegara yang paling terkenal?

Raja yang paling terkenal adalah Purnawarman. Ia memerintah sekitar abad ke-5 M dan dikenal bijaksana, memperluas wilayah kerajaan, serta meninggalkan banyak prasasti seperti Prasasti Ciaruteun dan Tugu.

3. Apa peninggalan penting dari masa Raja Purnawarman?

Salah satu peninggalan penting adalah Prasasti Tugu, yang menceritakan pembangunan saluran air untuk pertanian dan pengendalian banjir. Ini menunjukkan kemajuan peradaban dan kepedulian raja terhadap kesejahteraan rakyat.

4. Berapa lama Kerajaan Tarumanegara berdiri?

Tarumanegara berdiri sejak abad ke-4 M hingga sekitar abad ke-7 M. Setelah melemah, kerajaan ini digantikan oleh kerajaan Sunda sebagai penerusnya di wilayah Jawa Barat.

5. Apa faktor yang menyebabkan runtuhnya Tarumanegara?

Keruntuhan Tarumanegara disebabkan melemahnya kekuasaan pusat, tekanan dari kerajaan-kerajaan tetangga, serta munculnya kerajaan baru yang lebih kuat di Jawa Barat. Hal ini membuat Tarumanegara perlahan kehilangan pengaruhnya.