Liputan6.com, Jakarta Cacar air merupakan salah satu penyakit menular yang sering menyerang anak-anak, namun orang dewasa juga bisa terkena bila belum pernah terinfeksi sebelumnya. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam berisi cairan yang terasa gatal, disertai demam dan rasa tidak nyaman. Karena penularannya sangat cepat, pencegahan menjadi langkah penting agar diri sendiri maupun keluarga tetap terlindungi.
Cacar air termasuk keluarga virus cacar. Sejarah cacar air paling awal tercatat di Cina tahun 1122 SM. Sejak saat itu, virus tersebut telah mengubah sejarah manusia, menghancurkan populasi Eropa pada abad ke-18 dan penduduk asli Amerika.
Upaya pencegahan cacar air dapat dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan hingga pemberian vaksinasi. Berikut panduan lengkap mencegah cacar air, dilengkapi langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan sehari-hari. Dengan pemahaman yang tepat, pembaca tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga mencegah penyebaran penyakit ini dalam keluarga maupun lingkungan sekitar.
Advertisement
Pengertian Cacar Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1793684/original/034612700_1512629651-Cara-Ampuh-dan-Efektif-Hilangkan-Bekas-Luka-Cacar-Air-By-Kasiap-shutterstock_43598131.jpg)
Cacar air, yang dalam istilah medis disebut varicella, adalah infeksi virus yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh virus varicella-zoster dan ditandai dengan munculnya ruam kulit berupa bintik-bintik merah yang gatal. Ruam ini kemudian berkembang menjadi lepuhan berisi cairan yang akhirnya pecah dan membentuk keropeng sebelum sembuh sepenuhnya.
Meskipun sering dianggap sebagai penyakit anak-anak, cacar air dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok usia. Namun, kasus terbanyak memang terjadi pada anak-anak berusia di bawah 12 tahun. Penting untuk diketahui bahwa orang yang pernah terinfeksi cacar air biasanya akan memiliki kekebalan terhadap virus ini seumur hidup, meskipun dalam kasus yang sangat jarang, seseorang bisa terinfeksi ulang.
Virus varicella-zoster yang menyebabkan cacar air ini juga dapat menetap dalam sistem saraf tubuh dalam keadaan tidak aktif (dorman). Di kemudian hari, virus ini dapat aktif kembali dan menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai herpes zoster atau cacar api, terutama pada orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun.
Advertisement
Gejala Cacar Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339297/original/065764800_1757052315-Chickenpox_blister_2006.01.06.jpg)
Gejala cacar air biasanya muncul sekitar 10-21 hari setelah terpapar virus. Tahapan gejala cacar air umumnya sebagai berikut:
- Tahap Awal (1-2 hari sebelum ruam muncul):
- Demam ringan hingga sedang (38-39°C)
- Sakit kepala
- Kehilangan nafsu makan
- Kelelahan atau lemas
- Nyeri otot atau sendi
- Tahap Ruam (hari ke-1 hingga ke-7):
- Munculnya bintik-bintik merah kecil yang gatal, biasanya dimulai dari dada, punggung, dan wajah, kemudian menyebar ke seluruh tubuh
- Bintik merah berubah menjadi lepuhan berisi cairan (vesikel)
- Lepuhan pecah dan membentuk keropeng
- Ruam muncul dalam beberapa gelombang selama beberapa hari
- Tahap Penyembuhan (hari ke-7 hingga ke-14):
- Keropeng mulai mengering dan terkelupas
- Gejala sistemik seperti demam mulai mereda
- Rasa gatal berkurang
Penyebab dan Cara Penularan Cacar Air
Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster, yang termasuk dalam keluarga virus herpes. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain. Berikut adalah beberapa cara penularan virus cacar air:
- Penularan melalui udara: Virus dapat menyebar melalui droplet yang dikeluarkan saat penderita batuk atau bersin. Droplet ini dapat terhirup oleh orang lain yang berada di sekitar penderita.
- Kontak langsung: Menyentuh cairan dari lepuhan cacar air dapat menyebabkan penularan virus. Ini termasuk kontak dengan pakaian atau seprai yang terkontaminasi cairan lepuhan.
- Penularan dari ibu ke janin: Dalam kasus yang jarang terjadi, ibu hamil yang terinfeksi cacar air dapat menularkan virus ke janinnya, yang dapat menyebabkan cacar air kongenital.
- Penularan dari penderita herpes zoster: Orang yang menderita herpes zoster (cacar api) juga dapat menularkan virus varicella-zoster kepada orang yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi.
Penting untuk diketahui bahwa seseorang dengan cacar air dapat menularkan virus mulai dari 1-2 hari sebelum ruam muncul hingga semua lepuhan telah mengering dan membentuk keropeng, yang biasanya terjadi sekitar 5-7 hari setelah ruam pertama muncul.
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena cacar air meliputi:
- Belum pernah terkena cacar air sebelumnya
- Belum menerima vaksin cacar air
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
- Bekerja atau tinggal di lingkungan dengan banyak orang, seperti sekolah atau pusat penitipan anak
- Hidup serumah dengan seseorang yang terinfeksi cacar air
Memahami cara penularan dan faktor risiko cacar air sangat penting dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit ini. Dengan pengetahuan ini, kita dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari infeksi cacar air.
Advertisement
Diagnosis Cacar Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5087060/original/021161900_1736405624-1736398003577_perbedaan-cacar-air-dan-cacar-monyet.jpg)
Diagnosis cacar air umumnya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik dan evaluasi gejala yang dialami pasien. Namun, dalam beberapa kasus, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis. Berikut adalah metode-metode yang digunakan dalam mendiagnosis cacar air:
- Pemeriksaan Fisik:
- Dokter akan memeriksa ruam kulit yang karakteristik, seperti bintik merah yang berubah menjadi lepuhan berisi cairan.
- Pola penyebaran ruam juga menjadi pertimbangan, karena cacar air biasanya dimulai dari badan dan wajah sebelum menyebar ke anggota tubuh lainnya.
- Riwayat Medis:
- Dokter akan menanyakan tentang gejala yang dialami, kapan gejala mulai muncul, dan apakah ada riwayat kontak dengan penderita cacar air.
- Informasi tentang riwayat vaksinasi cacar air juga penting untuk diketahui.
- Tes Laboratorium:
- Dalam kasus yang meragukan, dokter mungkin akan mengambil sampel cairan dari lepuhan untuk diperiksa di laboratorium.
- Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) dapat digunakan untuk mendeteksi DNA virus varicella-zoster.
- Tes antibodi juga dapat dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang pernah terinfeksi atau memiliki kekebalan terhadap virus cacar air.
- Diagnosis Banding:
- Dokter akan mempertimbangkan kondisi lain yang mungkin menyerupai cacar air, seperti impetigo, dermatitis atopik, atau reaksi alergi.
- Perbedaan antara cacar air dan cacar monyet (monkeypox) juga perlu diperhatikan, terutama dalam situasi wabah.
Pengobatan Cacar Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1724188/original/076219900_1506665060-Cacar-Air.jpg)
Pengobatan cacar air umumnya berfokus pada meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Dalam banyak kasus, terutama pada anak-anak yang sehat, cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. Namun, ada beberapa pendekatan pengobatan yang dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan dan mempercepat proses penyembuhan:
- Obat Antivirus:
- Acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir dapat diresepkan untuk mengurangi keparahan dan durasi infeksi.
- Obat antivirus biasanya direkomendasikan untuk orang dewasa, remaja, bayi, wanita hamil, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Pengobatan antivirus paling efektif jika dimulai dalam 24 jam pertama setelah ruam muncul.
- Obat Pereda Gejala:
- Antihistamin oral seperti diphenhydramine (Benadryl) dapat membantu mengurangi rasa gatal.
- Acetaminophen (Tylenol) dapat digunakan untuk meredakan demam dan nyeri.
- Hindari penggunaan aspirin pada anak-anak dengan cacar air karena dapat meningkatkan risiko sindrom Reye.
- Perawatan Topikal:
- Lotion calamine dapat dioleskan pada kulit untuk mengurangi rasa gatal.
- Kompres dingin atau mandi dengan air dingin dapat membantu meredakan gatal dan menurunkan demam.
- Oatmeal colloidal dapat ditambahkan ke air mandi untuk menenangkan kulit yang gatal.
- Hidrasi:
- Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi, terutama jika mengalami demam.
- Es loli tanpa gula dapat membantu meredakan sakit tenggorokan dan meningkatkan asupan cairan.
- Pencegahan Infeksi Sekunder:
- Jaga kebersihan kulit dan potong kuku pendek untuk mengurangi risiko infeksi bakteri akibat menggaruk.
- Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan antibiotik topikal atau oral jika terjadi infeksi bakteri sekunder.
Penting untuk diingat:
- Jangan menggaruk lepuhan cacar air karena dapat menyebabkan infeksi dan bekas luka permanen.
- Isolasi diri selama masa infeksi untuk mencegah penyebaran virus ke orang lain.
- Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan, terutama untuk anak-anak, wanita hamil, atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Pengobatan yang tepat dan perawatan yang baik dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat cacar air dan mempercepat proses penyembuhan. Selalu ikuti petunjuk dokter dan jangan ragu untuk berkonsultasi jika gejala memburuk atau tidak membaik setelah beberapa hari.
Advertisement
Cara Mencegah Cacar Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4982806/original/090054600_1730099356-cara-mengobati-cacar-air.jpg)
Mencegah cacar air adalah langkah penting dalam mengendalikan penyebaran virus dan melindungi individu yang rentan. Berikut adalah beberapa cara efektif untuk mencegah cacar air:
- Vaksinasi:
- Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah cacar air.
- Vaksin cacar air direkomendasikan untuk semua anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air.
- Anak-anak biasanya menerima dua dosis vaksin, yang pertama pada usia 12-15 bulan dan yang kedua pada usia 4-6 tahun.
- Orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi juga disarankan untuk mendapatkan vaksin.
- Isolasi:
- Jika seseorang terinfeksi cacar air, mereka harus mengisolasi diri untuk mencegah penyebaran virus.
- Isolasi harus dilakukan setidaknya sampai semua lepuhan telah mengering dan membentuk keropeng, biasanya sekitar 5-7 hari setelah ruam pertama muncul.
- Higiene yang Baik:
- Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air, terutama setelah kontak dengan penderita cacar air.
- Hindari berbagi barang pribadi seperti handuk, pakaian, atau alat makan dengan penderita cacar air.
- Hindari Kontak dengan Penderita:
- Jika Anda belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi, hindari kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.
- Ini terutama penting bagi wanita hamil, bayi baru lahir, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Pengendalian Lingkungan:
- Bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh di rumah atau tempat kerja, terutama jika ada kasus cacar air yang diketahui.
- Pastikan ventilasi yang baik di ruangan untuk mengurangi konsentrasi virus di udara.
- Edukasi:
- Edukasi anggota keluarga dan komunitas tentang gejala cacar air dan pentingnya pencegahan.
- Ajarkan anak-anak untuk tidak berbagi barang pribadi dan pentingnya mencuci tangan.
- Perawatan Selama Kehamilan:
- Wanita hamil yang belum pernah terkena cacar air harus menghindari kontak dengan penderita dan berkonsultasi dengan dokter jika terpapar.
- Vaksinasi sebelum kehamilan dapat memberikan perlindungan.
- Penanganan Cepat:
- Jika terjadi paparan pada individu yang rentan, konsultasikan dengan dokter segera. Dalam beberapa kasus, pemberian imunoglobulin varicella-zoster (VZIG) dapat dipertimbangkan untuk mencegah atau mengurangi keparahan infeksi.
Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan ini, risiko terkena dan menyebarkan cacar air dapat dikurangi secara signifikan. Ingatlah bahwa pencegahan tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi orang lain di sekitar kita, terutama mereka yang lebih rentan terhadap komplikasi serius dari cacar air.
Perawatan Cacar Air di Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4341811/original/067098300_1677643842-shutterstock_2161975775.jpg)
Perawatan cacar air di rumah bertujuan untuk meredakan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi. Berikut adalah beberapa langkah perawatan yang dapat dilakukan:
- Manajemen Gatal:
- Oleskan lotion calamine pada area yang gatal untuk memberikan efek menenangkan.
- Gunakan kompres dingin atau es yang dibungkus handuk untuk mengurangi rasa gatal dan peradangan.
- Tambahkan oatmeal colloidal ke dalam air mandi untuk meredakan gatal. Rendam tubuh selama 15-20 menit.
- Kenakan pakaian yang longgar dan berbahan lembut untuk mengurangi gesekan pada kulit.
- Menjaga Kebersihan:
- Mandi secara teratur dengan air hangat untuk membersihkan kulit tanpa mengiritasinya.
- Gunakan sabun lembut dan hindari menggosok kulit terlalu keras.
- Keringkan tubuh dengan cara menepuk-nepuk lembut menggunakan handuk bersih, jangan digosok.
- Pencegahan Infeksi:
- Potong kuku pendek untuk mengurangi risiko infeksi akibat menggaruk.
- Jika perlu, gunakan sarung tangan katun saat tidur untuk mencegah menggaruk tanpa sadar.
- Ganti seprai dan pakaian secara teratur untuk menjaga kebersihan.
- Manajemen Demam dan Nyeri:
- Berikan acetaminophen (Tylenol) sesuai dosis yang direkomendasikan untuk meredakan demam dan nyeri.
- Hindari penggunaan aspirin pada anak-anak karena dapat meningkatkan risiko sindrom Reye.
- Hidrasi dan Nutrisi:
- Pastikan asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama jika ada demam.
- Berikan makanan lunak dan dingin jika ada luka di mulut atau tenggorokan.
- Konsumsi makanan bergizi untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.
- Istirahat yang Cukup:
- Dorong penderita untuk beristirahat yang cukup untuk membantu pemulihan.
- Hindari aktivitas fisik yang berat selama masa penyembuhan.
- Penggunaan Obat-obatan:
- Ikuti petunjuk dokter dalam penggunaan obat antivirus jika diresepkan.
- Gunakan antihistamin oral seperti diphenhydramine (Benadryl) untuk mengurangi gatal, sesuai anjuran dokter.
- Isolasi:
- Isolasi penderita cacar air dari orang lain, terutama yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi.
- Hindari sekolah, tempat kerja, atau tempat umum lainnya sampai semua lepuhan telah mengering.
- Pemantauan:
- Perhatikan tanda-tanda komplikasi seperti demam tinggi yang menetap, kesulitan bernapas, atau perubahan perilaku.
- Segera hubungi dokter jika gejala memburuk atau muncul tanda-tanda komplikasi.
Advertisement
Komplikasi Cacar Air
Meskipun sebagian besar kasus cacar air sembuh tanpa masalah serius, beberapa individu dapat mengalami komplikasi. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada orang dewasa, bayi, wanita hamil, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Berikut adalah beberapa komplikasi potensial dari cacar air:
- Infeksi Bakteri Kulit:
- Infeksi bakteri pada lesi cacar air, seperti impetigo atau selulitis.
- Dapat menyebabkan pembengkakan, kemerahan, dan nyeri pada area yang terinfeksi.
- Dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan sepsis (infeksi darah).
- Pneumonia:
- Infeksi paru-paru yang dapat menyebabkan batuk, sesak napas, dan demam tinggi.
- Lebih sering terjadi pada orang dewasa dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Ensefalitis atau Meningitis:
- Peradangan pada otak atau selaput otak yang dapat menyebabkan sakit kepala parah, kebingungan, kejang, atau bahkan koma.
- Meskipun jarang, ini merupakan komplikasi serius yang memerlukan perawatan medis segera.
- Sindrom Reye:
- Komplikasi langka namun serius yang dapat terjadi jika anak-anak dengan cacar air diberi aspirin.
- Dapat menyebabkan kerusakan hati dan otak.
- Komplikasi Kehamilan:
- Cacar air selama kehamilan dapat menyebabkan cacar air kongenital pada bayi.
- Risiko tertinggi terjadi jika ibu terinfeksi pada trimester pertama atau awal trimester kedua.
- Dapat menyebabkan kelainan bawaan, berat badan lahir rendah, atau bahkan keguguran.
- Herpes Zoster (Cacar Api):
- Reaktivasi virus varicella-zoster yang menyebabkan ruam nyeri pada area tertentu tubuh.
- Lebih sering terjadi pada orang dewasa dan lansia yang pernah mengalami cacar air.
- Dehidrasi:
- Terutama pada anak-anak yang mengalami demam tinggi atau kesulitan makan dan minum karena lesi di mulut.
- Peradangan Sendi (Artritis):
- Meskipun jarang, cacar air dapat menyebabkan peradangan sendi sementara.
- Komplikasi Mata:
- Jika lesi cacar air muncul di sekitar atau di dalam mata, dapat menyebabkan konjungtivitis atau keratitis.
- Sindrom Guillain-Barré:
- Gangguan autoimun langka yang dapat menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan.
Vaksinasi Cacar Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4245562/original/071740600_1669825042-shutterstock_2189282401.jpg)
Vaksinasi cacar air adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi virus varicella-zoster dan komplikasinya. Vaksin ini telah terbukti aman dan sangat efektif dalam mengurangi insiden dan keparahan cacar air. Berikut adalah informasi penting tentang vaksinasi cacar air:
- Jenis Vaksin:
- Vaksin cacar air adalah vaksin hidup yang dilemahkan, mengandung strain Oka dari virus varicella-zoster.
- Tersedia dalam bentuk vaksin tunggal atau kombinasi dengan vaksin campak, gondok, dan rubella (MMRV).
- Jadwal Vaksinasi:
- Untuk anak-anak:
- Dosis pertama: Usia 12-15 bulan
- Dosis kedua: Usia 4-6 tahun
- Untuk remaja dan orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air:
- Dua dosis dengan interval minimal 4 minggu
- Untuk anak-anak:
- Efektivitas:
- Vaksin cacar air efektif sekitar 85% dalam mencegah infeksi ringan dan lebih dari 95% efektif dalam mencegah infeksi berat.
- Meskipun beberapa orang yang divaksinasi masih bisa terkena cacar air, gejalanya biasanya jauh lebih ringan.
- Siapa yang Harus Divaksinasi:
- Semua anak-anak yang belum pernah terkena cacar air
- Remaja dan orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi
- Orang dengan pekerjaan berisiko tinggi (misalnya, petugas kesehatan)
- Wanita yang berencana hamil dan belum pernah terkena cacar air
- Kontraindikasi:
- Reaksi alergi berat terhadap dosis vaksin sebelumnya atau komponen vaksin
- Kehamilan (vaksinasi harus ditunda hingga setelah melahirkan)
- Sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah
- Efek Samping:
- Efek samping umumnya ringan dan dapat meliputi:
- Nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan
- Demam ringan
- Ruam ringan (terjadi pada sekitar 3-5% penerima vaksin)
- Efek samping serius sangat jarang terjadi
- Efek samping umumnya ringan dan dapat meliputi:
- Manfaat Vaksinasi:
- Mengurangi risiko infeksi cacar air
- Mengurangi keparahan gejala jika terinfeksi
- Menurunkan risiko komplikasi serius
- Mencegah penyebaran virus ke individu yang rentan
- Mengurangi risiko herpes zoster di kemudian hari
- Vaksinasi Pasca-Paparan:
- Vaksinasi dalam waktu 3-5 hari setelah paparan dapat mencegah atau mengurangi keparahan infeksi pada individu yang belum divaksinasi.
- Pertimbangan Khusus:
- Individu dengan riwayat herpes zoster dapat menerima vaksin cacar air jika belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi sebelumnya.
- Orang dengan HIV yang memiliki fungsi kekebalan tubuh yang cukup baik dapat menerima vaksin cacar air.
Advertisement
FAQ Seputar Cacar Air
1. Apa cara paling efektif untuk mencegah cacar air?
Cara paling efektif adalah dengan vaksinasi varisela. Vaksin ini mampu memberikan perlindungan tinggi terhadap penularan cacar air dan mengurangi risiko gejala berat jika tertular.
2. Apakah pola hidup sehat bisa membantu mencegah cacar air?
Ya. Menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi, cukup tidur, olahraga teratur, serta mengelola stres dapat membantu tubuh lebih kuat melawan infeksi termasuk cacar air.
3. Bagaimana cara mencegah penularan cacar air di rumah?
Pisahkan anggota keluarga yang terkena cacar air, gunakan masker, rajin mencuci tangan, serta rutin membersihkan barang-barang yang sering disentuh bersama. Hal ini dapat meminimalkan risiko penyebaran virus varisela.
4. Apakah orang dewasa juga perlu vaksin cacar air?
Ya, terutama jika belum pernah terkena cacar air atau belum pernah divaksin. Orang dewasa yang tertular biasanya mengalami gejala lebih berat dibanding anak-anak, sehingga vaksinasi sangat dianjurkan.
5. Kapan sebaiknya anak diberi vaksin cacar air?
Vaksin varisela biasanya diberikan pada anak usia 12–18 bulan, lalu bisa diulang (booster) pada usia sekolah dasar. Konsultasi dengan dokter anak penting untuk menentukan jadwal imunisasi yang tepat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294353/original/011938600_1783830677-cek_fakta_-_bansos_pkh_juli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488956/original/064020100_1769771942-pppk_bgn_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497973/original/089166700_1770695732-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-10T105228.255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4341810/original/061547300_1677643842-shutterstock_2160417457.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294548/original/063184200_1783843237-063_2285693617.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294309/original/057015000_1783829242-ar13.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294340/original/000872600_1783830200-000_B9XN79R.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294301/original/036531900_1783829241-ar5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294280/original/068914000_1783828183-063_2285710148.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294169/original/097035400_1783819062-ing7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294167/original/059057200_1783819062-ing5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294151/original/003111900_1783815882-000_B9XL63W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290291/original/064791600_1783449810-me5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294138/original/059237800_1783813068-000_B9XJ6UC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294135/original/020195900_1783811688-000_B9XJ6UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5184637/original/062065700_1744331593-national-institute-of-allergy-and-infectious-diseases-lj5DSo92M3Q-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3995369/original/094188500_1649920396-towfiqu-barbhuiya-o3Dunr7Vl-o-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5475817/original/009548900_1768658354-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_15.04.11.jpeg)