Liputan6.com, Jakarta Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim paling berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara. Berdiri sekitar abad ke-7 Masehi, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan laut di Selat Malaka dan menjadi pusat penyebaran agama Buddha di kawasan Nusantara dan sekitarnya. Namun, di balik kejayaan dan jaringan dagang yang luas, nama-nama para raja yang memimpin kerajaan ini masih menyimpan banyak misteri dan sering kali tertutup oleh kabut waktu.
Berdasarkan sejumlah prasasti seperti Prasasti Siddhayatra dan catatan dari musafir Tiongkok seperti I-Tsing, diketahui beberapa nama raja Sriwijaya yang pernah memegang kekuasaan. Salah satunya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang dianggap sebagai pendiri dan penguasa awal kerajaan. Setelahnya, nama-nama seperti Sri Indrawarman, Balaputradewa, dan Dharmasetu muncul dalam berbagai sumber sejarah, menunjukkan dinamika kekuasaan yang terus berkembang selama berabad-abad.
Artikel ini akan menyajikan daftar lengkap raja-raja Sriwijaya yang tercatat dalam sumber tertulis maupun temuan arkeologis, lengkap dengan periode kekuasaan dan kontribusinya terhadap kejayaan kerajaan. Sebuah penelusuran menarik ke masa lalu, yang tak hanya mengungkap kepemimpinan legendaris, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang warisan sejarah maritim Indonesia yang pernah berjaya di panggung dunia.
Advertisement
Daftar Lengkap Nama Raja Sriwijaya Sepanjang Sejarah Kerajaan Maritim Nusantara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3297789/original/045562100_1605529902-WhatsApp_Image_2020-11-16_at_7.05.05_PM.jpeg)
Â
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kekuatan maritim terbesar yang pernah berkuasa di Asia Tenggara. Berlangsung selama hampir tujuh abad, kerajaan bercorak Buddha ini dipimpin oleh serangkaian raja yang memiliki peran penting dalam membentuk peradaban Nusantara. Dari pendiri pertama hingga penguasa terakhir, setiap nama raja Sriwijaya memiliki kontribusi unik dalam membangun kejayaan kerajaan maritim ini.
Berikut adalah daftar lengkap nama raja Sriwijaya yang telah berhasil dikumpulkan dari berbagai sumber sejarah dan prasasti kuno:
- Dapunta Hyang Sri Jayanasa (683 M) - Pendiri dan raja pertama Kerajaan Sriwijaya yang memulai ekspansi wilayah dengan membawa 20.000 tentara dari Minanga Tamwan
- Sri Indrawarman (702 M) - Raja yang dikenal menjalin hubungan diplomatik dengan Dinasti Tang di Tiongkok dan memperkuat fondasi kerajaan
- Rudra Wikrama (728-742 M) - Penguasa yang melanjutkan ekspansi dan memperkuat pengaruh Sriwijaya di wilayah Asia Tenggara
- Sangramadhananjaya (775 M) - Raja yang disebut dalam Prasasti Ligor, menunjukkan pengaruh Sriwijaya hingga Semenanjung Malaya
- Dharanindra/Rakai Panangkaran (778 M) - Penguasa yang memperluas kekuasaan hingga Jawa Tengah dan membangun candi-candi Buddha
- Samaragrawira/Rakai Warak (782 M) - Raja yang memperkuat hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa
- Dharmasetu (790 M) - Penguasa yang dikenal melalui hubungan keluarga dengan Dinasti Syailendra
- Samaratungga/Rakai Garung (792 M) - Raja yang dikenal sebagai pembangun Candi Borobudur di Jawa Tengah
- Balaputradewa (856 M) - Raja yang membawa Sriwijaya ke puncak kejayaan, memperkuat dominasi maritim dan hubungan internasional
- Sri Udayadityawarman (960 M) - Penguasa yang memerintah setelah Balaputradewa dan melanjutkan kejayaan Sriwijaya
- Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M) - Raja dengan masa pemerintahan singkat namun berhasil mempertahankan stabilitas kerajaan
- Hsiae-she (980 M) - Penguasa yang namanya tercatat dalam catatan Tiongkok sebagai raja Sriwijaya
- Sri Cudamaniwarmadewa (988 M) - Raja yang dikenal menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok dan memperkuat perdagangan
- Malayagiri/Suwarnadwipa (990 M) - Penguasa yang memerintah di masa transisi menuju abad ke-11
- Sri Marawijayottunggawarman (1008 M) - Raja yang disebut dalam Prasasti Leiden, menunjukkan hubungan dengan India
- Sumatrabhumi (1017 M) - Penguasa yang memerintah saat Sriwijaya mulai menghadapi tekanan dari kerajaan luar
- Sri Sanggrama Wijayatunggawarman (1025 M) - Raja yang ditawan oleh Rajendra Chola dari India Selatan, menandai awal kemunduran Sriwijaya
- Sri Dewa (1028 M) - Penguasa yang berusaha memulihkan kekuatan Sriwijaya setelah serangan Chola
- Dharmawira (1064 M) - Raja yang memerintah di masa pemulihan dan konsolidasi kekuatan
- Sri Maharaja (1156 M) - Penguasa yang berusaha mempertahankan wilayah Sriwijaya dari berbagai ancaman
- Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1178 M) - Raja terakhir yang tercatat dalam prasasti, memerintah menjelang keruntuhan kerajaan
Advertisement
Sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,285,0)/kly-media-production/medias/4551151/original/053326400_1692933633-DSCF0296.JPG)
Kerajaan Sriwijaya pertama kali muncul pada abad ke-7 Masehi di wilayah Sumatera Selatan. Nama "Sriwijaya" berasal dari bahasa Sanskerta, dimana "Sri" bermakna bercahaya atau gemilang, sedangkan "Wijaya" berarti kemenangan atau kejayaan. Dengan demikian, Sriwijaya dapat diartikan sebagai "kemenangan yang gemilang".
Pendirian kerajaan ini dibuktikan melalui berbagai prasasti kuno, terutama Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang. Prasasti tersebut mencatat bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa melakukan perjalanan suci atau siddhayatra dengan membawa ribuan tentara untuk menguasai wilayah strategis di Sumatera.
Lokasi kerajaan yang berada di jalur perdagangan internasional antara India dan Tiongkok menjadikan Sriwijaya berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha. Kerajaan ini berhasil menguasai Selat Malaka, jalur perdagangan paling penting di Asia Tenggara pada masa itu.
Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-portrait-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/4551135/original/081666700_1692932857-DSCF0259.JPG)
Puncak kejayaan Kerajaan Sriwijaya terjadi pada masa pemerintahan Balaputradewa di abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Pada periode ini, kerajaan berhasil menguasai jalur perdagangan maritim yang membentang dari Selat Malaka hingga Selat Sunda. Kekuasaan Sriwijaya meluas hingga mencakup wilayah Thailand, Kamboja, dan sebagian Malaysia.
Sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat untuk menjaga keamanan jalur perdagangan. Pedagang dari berbagai negara wajib membayar pajak ketika melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya, sehingga kerajaan memperoleh pendapatan yang sangat besar.
Sriwijaya juga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha di luar India. Banyak biksu dan cendekiawan dari berbagai negara datang untuk belajar di kerajaan ini. Hubungan diplomatik dengan Universitas Nalanda di India semakin memperkuat posisi Sriwijaya sebagai pusat kebudayaan Buddha.
Advertisement
Sistem Pemerintahan dan Struktur Kerajaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1167697/original/097403700_1457669698-candi_bahal_2.jpg)
Sistem pemerintahan Kerajaan Sriwijaya bersifat sentralistik dengan raja sebagai penguasa tertinggi. Raja memiliki berbagai gelar kehormatan seperti maharaja, datu, dan sri yang menunjukkan kedudukan tinggi dalam hierarki sosial. Struktur pemerintahan terdiri dari berbagai tingkatan mulai dari pusat hingga daerah-daerah taklukan.
Kerajaan ini menerapkan sistem mandala, dimana wilayah kekuasaan terdiri dari pusat kerajaan dan daerah-daerah satelit yang memberikan upeti. Daerah-daerah taklukan diberikan otonomi terbatas namun tetap harus tunduk pada kekuasaan pusat di Palembang.
Para raja Sriwijaya juga berperan sebagai pelindung agama Buddha dan patron bagi para biksu. Mereka membangun berbagai vihara dan mendukung kegiatan keagamaan untuk memperkuat legitimasi kekuasaan spiritual.
Hubungan Diplomatik dan Perdagangan Internasional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/749633/original/007515700_1412994267-IMG_20141010_154647.jpg)
Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik yang erat dengan berbagai kerajaan besar di Asia. Hubungan dengan Dinasti Tang di Tiongkok terjalin melalui pengiriman utusan dan pertukaran hadiah secara berkala. Sriwijaya juga memiliki hubungan khusus dengan Universitas Nalanda di India melalui program pertukaran pelajar.
Dalam bidang perdagangan, Sriwijaya menjadi perantara utama antara pedagang Tiongkok dan India. Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi rempah-rempah, kapur barus, kayu gaharu, emas, dan berbagai hasil hutan lainnya. Kerajaan ini juga mengontrol perdagangan budak dan barang-barang mewah.
Sistem pajak perdagangan yang diterapkan Sriwijaya sangat efektif dalam mengumpulkan pendapatan negara. Setiap kapal dagang yang melewati wilayah kekuasaan harus membayar bea cukai sesuai dengan jenis dan jumlah barang yang dibawa.
Advertisement
Peninggalan Sejarah dan Prasasti
Kerajaan Sriwijaya meninggalkan berbagai prasasti yang tersebar di Indonesia, Thailand, dan India. Prasasti-prasasti ini menjadi sumber utama informasi tentang sejarah kerajaan dan nama-nama raja yang pernah memerintah. Prasasti Kedukan Bukit merupakan yang tertua dan paling penting karena mencatat pendirian kerajaan.
Prasasti Talang Tuwo menceritakan tentang pembangunan taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang untuk kesejahteraan rakyat. Sementara itu, Prasasti Kota Kapur menunjukkan ekspansi Sriwijaya ke Pulau Bangka dan ancaman terhadap mereka yang tidak tunduk pada kekuasaan kerajaan.
Beberapa prasasti berisi kutukan terhadap pemberontak dan pengkhianat, seperti Prasasti Telaga Batu dan Prasasti Karang Berahi. Prasasti-prasasti ini menunjukkan upaya raja-raja Sriwijaya untuk mempertahankan kekuasaan dan kesetiaan rakyat.
Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan
Kemunduran Kerajaan Sriwijaya dimulai pada abad ke-11 Masehi akibat berbagai faktor internal dan eksternal. Serangan Kerajaan Chola dari India Selatan pada tahun 1025 Masehi menjadi titik balik yang menandai awal kemunduran. Raja Sri Sanggrama Wijayatunggawarman ditawan dalam serangan tersebut.
Munculnya kerajaan-kerajaan maritim lain seperti Kerajaan Majapahit di Jawa Timur menantang dominasi Sriwijaya di wilayah Nusantara. Dikutip dari buku Sejarah karya Nana Supriatna, Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan Kerajaan Singasari juga melemahkan kekuatan Sriwijaya di Sumatera.
Saat itu, Raja Singasari, Kertanegara, menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Malayu. Sementara Kerajaan Sriwijaya makin menunjukkan kemunduran. Kelemahan ini juga dimanfaatkan Kerajaan Sukhodaya dari Thailand untuk merebut wilayah mereka di Semenanjung Malaysia
Faktor internal seperti pemberontakan daerah bawahan dan penurunan ekonomi akibat berkurangnya kontrol atas jalur perdagangan turut mempercepat keruntuhan. Pada akhir abad ke-14, Sriwijaya benar-benar runtuh setelah diserang Kerajaan Majapahit pada tahun 1377 Masehi.
Advertisement
Warisan dan Pengaruh Kerajaan Sriwijaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3256472/original/082166600_1601649429-WhatsApp_Image_2020-10-02_at_9.24.27_PM.jpeg)
Meskipun telah runtuh, warisan Kerajaan Sriwijaya masih dapat dirasakan hingga saat ini. Kerajaan ini berhasil menyebarkan agama Buddha dan kebudayaan India ke seluruh Asia Tenggara. Bahasa Melayu yang digunakan dalam prasasti-prasasti Sriwijaya menjadi cikal bakal bahasa Indonesia modern.
Sistem perdagangan maritim yang dikembangkan Sriwijaya menjadi model bagi kerajaan-kerajaan selanjutnya di Nusantara. Konsep negara maritim dan penguasaan jalur perdagangan laut terus diterapkan oleh kerajaan-kerajaan penerus seperti Majapahit.
Dalam bidang arsitektur, pengaruh Sriwijaya dapat dilihat pada berbagai candi dan bangunan keagamaan di Asia Tenggara. Gaya arsitektur Sriwijaya memadukan unsur India dan lokal, menciptakan corak yang unik dan khas.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3555099/original/AGNmyxYsmp2O0yLNbyo5fE5y6vCzeKFPb4GWb-vYY2F9%3Ds96-c.png)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4551150/original/009883400_1692933520-DSCF0293.JPG)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860527/original/082452700_1734048766-pexels-david-kanigan-239927285-29558894.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269025/original/029326100_1782119069-063_2281966729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620430/original/011957700_1782610877-000_B8JY4LY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620429/original/007432300_1782610876-000_B8JY7M2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322679/original/008420700_1782191790-Amine_Gouiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)