Aktivis Disabilitas Dorong Calon Programmer Ciptakan Teknologi yang Inklusif

Mahasiswa sistem informasi adalah aset untuk kembangkan teknologi inklusif bagi penyandang disabilitas di masa depan.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 23:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Bandung Independent Living Center (BILiC) Zulhamka Julianto Kadir mengatakan teknologi perlu berkembang ke arah yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. Aspek kesetaraan ini perlu ditanamkan sejak awal pada para calon ahli teknologi atau pemrogram (programmer).

Pria yang karib disapa Anto itu mengatakan mahasiswa memiliki peran penting dalam kemajuan teknologi di masa depan. Maka dari itu, mahasiswa perlu memiliki kepedulian tentang disabilitas agar dapat mengembangkan teknologi yang aksesibel bagi semua. Hal itu ia sampaikan saat dosen tamu mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer mahasiswa jurusan Sistem Informasi, Universitas Indonesia Membangun (INABA), Bandung, Jawa Barat.

“Mahasiswa adalah aset untuk masa depan, mereka bisa jadi programmer yang andal. Maka dari itu, mereka tidak cuma perlu berinteraksi dengan komputer tapi juga interaksi langsung dengan penyandang disabilitas,” kata pengguna kursi roda itu kepada Disabilitas Liputan6.com saat dihubungi pada Minggu, 17 Mei 2026.

Penyandang disabilitas perlu dilibatkan dalam membangun sistem  informasi dan teknologi yang inklusif karena memiliki hak yang sama untuk mengakses teknologi. Penggunaan teknologi dapat membantu penyandang disabilitas untuk lebih produktif dalam kehidupan sehari-hari.

“Misalnya, situs web yang dilengkapi screen reader (pembaca layer), dark mode (mode gelap), dan kontras bisa memudahkan teman-teman disabilitas netra untuk mengaksesnya,” ujarnya.

AI Bisa Bantu Penyandang Disabilitas

Anto juga berbagi pandangan soal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI tidak menghilangkan peran dan fungsi manusia, tapi membantu manusia untuk bisa berkreasi dan berinovasi.

AI juga dapat membantu penyandang disabilitas dalam beberapa hal. Misalnya, mendeskripsikan foto atau gambar lewat suara. Jika dulu hanya tulisan yang bisa diubah jadi bentuk audio, kini gambar pun bisa dideskripsikan oleh AI.

Maka dari itu, kemampuan penyandang disabilitas dalam memanfaatkan AI menjadi hal penting. Hal ini bisa diasah lewat pelatihan.

“Pelatihan AI perlu, karena belum semua penyandang disabilitas melek AI terutama generasi X dan baby boomer, karena sudah tua pun tetap harus mampu beradaptasi. Teman-teman disabilitas itu harus bisa produktif dalam beraktivitas,” ujar Anto.